Apapun Jalannya, Tujuannya Tetap Sama: Kembali kepadaNya

jalan bercabang

Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Yang menguasai langit dan bumi, dan menyempurnakan penciptaannya dalam enam masa.

Alhamdulillah, hari ini saya mendapatkan satu hikmah lagi sembari bertafakur kala mencuci.

Kali ini adalah tentang perbedaan pendapat, perbedaan jalan, dan kesamaan tujuan. Sepertinya pemikiran ini bermula dari ‘keramaian’ di salah grup chat what’s app saya, mengenai berbagai macam perbedaan pendapat dan sudut pandang di dalam Islam. Setiap orang bertahan dengan argumen dengan pendapatnya masing-masing, dengan dalil dan mazabnya masing-masing. Semuanya merasa benar. Dan menurut pendapat saya pribadi, memang tidak ada yang salah. Saya pribadi lebih suka menghargai perbedaan dan mensyukurinya. Karena dengan begitu pemikiran kita menjadi lebih “kaya”, karena menjadi tahu apa yang ada di benak-benak orang lain. Bagaimana kemungkinan-kemungkinan lain. Perihal bagaimana selanjutnya kita mengambil sikap, kembali lagi pada hati masing-masing hamba. Saat itu di grup tersebut saya mengatakan bahwa bagi saya (tentu saja dalam versi lebih singkatnya), perbedaan-perbedaan semacam itu tidak perlu diruncingkan yang kemudian justru menciptakan perbedaan, penghakiman, dan pendeskreditan terhadap saudara seiman. Sesama muslim, sesama hamba Allah SWT, dan sesama umat Rasulullah SAW. Bagi saya pribadi, yang terpenting adalah kita semua sama-sama mencintai Allah dan Rasulullah, dan itu sudah cukup bagi saya untuk tidak melakukan penghakiman atau pendeskreditan hanya karena seseorang berbeda pandangan dengan kita. Pembicaraan di grup what’s app siang ini pun berlalu, dan tertimpa oleh berbagai macam urusan lainnya. Saya pun menyudahi pemikiran akan hal ini, dan sudah beralih ke berbagai hal lainnya.

Kemudian, sore ini, Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk kembali berdiskusi dengan ibunda tersayang. Diskusi ringan sebenarnya, terkait masalah sederhana: kesalahan sistem administratif universitas. Namun, seperti biasanya, pembicaraan sederhana penuh canda kami entah bagaimana akan bersinggungan hal-hal esensial penuh hikmah, hakikat, dan makna. Satu pernyataan ibunda yang kemudian melekat di benak saya: “Sudahlah, setiap orang memiliki jalan dan ceritanya masing-masing. Yang terpenting adalah pada akhirnya toh kembali kepada bagaimana mencapai keridhaan dan kecintaan terhadap Allah. Jangan bandingkan antara cerita dan jalanmu dengan yang lain.”

Kata-kata ini ternyata terngiang-ngiang di benak saya, hingga terbawa serta ketika mencuci piring. Kebiasaan saya ketika melakukan pekerjaan-pekerjaan tanpa berpikir semacam ini adalah membiarkan pemikiran saya berkelana. Maka dari pengembaraan pemikiran saya itulah tulisan ini bermula. Saya memikirkan, bahwa sesungguhnya kehidupan itu seperti halnya kita ingin pergi ke suatu tempat di salah satu sudut dunia: katakanlah ke Makkah Al-Mukaramah. Untuk pergi ke Makkah, setiap orang yang ada di dunia ini bisa menempuh jalan dan perjalanan yang berbeda-beda. Ada yang perjalanannya mulus dan lancar-lancar saja, ada yang jalannya sulit dan berliku, mungkin ada yang harus mengarungi gurun pasir, atau ada yang harus mendaki pegunungan terlebih dahulu. Cara mencapai ke sananya pun bermacam-macam: ada yang naik pesawat, naik unta, naik kapal, naik bis, naik mobil, atau bahkan berjalan kaki karena mungkin lokasi Ka’bah dekat dengan rumahnya. Orang yang menuju kakbah ini pun bisa datang dari barat, dari timur, utara, tenggara, dan sebagainya. Namun, tujuan mereka tetap sama: Makkah Al-Mukaramah. Orang-orang yang sudah sampai di Makkah, sepertinya tidak akan terlampau ambil pusing tentang dari mana dan bagaimana orang-orang lain bisa sampai di sana. Karena kemudian mereka disibukkan oleh berzikir, beribadah, dan mengingatNya.

Menurut pemikiran saya, mungkin saja sesungguhnya seperti itulah kehidupan berjalan. Yang terpenting adalah menetapkan tujuan, fokus pada tujuan, lalu berusaha keras mencapai ke sana. Perihal bagaimana orang lain mau mencapai ke sana, bagaimana jalan yang dia tempuh, itu urusan dia sepenuhnya. Bagaimana ‘alat’ atau ‘kendaraan’ yang dipakai kembali kepada pribadi masing-masing. Bagaimana kualitas perjalanannya memang menjadi hal yang penting. Namun yang jauh lebih penting lagi adalah: sampai ke tujuan. Perjalanan yang sangat mulus dan berkualitas namun ternyata salah arah tidak akan lebih baik daripada jalanan yang berbatu, berliku, dan berdarah-darah, namun sampai ke tujuan akhir meski dengan titik darah penghabisan. Analogi kendaraan ini adalah ‘madzab’, sudut pandang, atau aturan yang dipakai.  Analogi ‘jalan’ ini adalah tentang cerita dan kisah hidup masing-masing orang. Sedangkan tujuannya, adalah hal yang sesungguhnya sama-sama harus kita cari atau upayakan.

Yang menjadi pertanyaan adalah: lalu apa yang menjadi tujuan hidup kita sesungguhnya? Lagi-lagi, ini hanya menurut pemikiran saya yang masih bodoh dan kurang ilmu. Semuanya kembali lagi pada Anda yang membaca bagaimana ingin menyikapinya. Bagi saya, tujuan hidup yang seharusnya saya upayakan adalah: Kembali kepadaNYa. Meraih keridhaan, cinta, dan kasih sayangNya. Kekuasaan, harta, jabatan, dan kepopuleran, tidak akan berguna bagi saya pribadi jika saya tidak mencapai tujuan tersebut. Dan tujuan Kembali KepadaNya ini, lagi-lagi menurut saya, justru seharusnya dicapai sebelum kita mati dan habis masa pengabdiannya. Karena jika hingga akhir nafas ini kita belum sampai di tujuan, maka kita akan tenggelam dalam lautan penyesalan yang terjebak dalam fase keabadiaan. Sulit? Memang tidak mudah. Apalagi jika kesibukan kita ditambah dengan meributkan perbedaan ‘kendaraan’ atau cara berjalan orang-orang yang lain. Bukankah kita menuju kepada tujuan yang sama? Menempuh perjalanan bersama? Lalu apa yang hendak diributkan? Yang menurut saya justru harus kita ingatkan adalah orang-orang yang ‘salah arah dalam perjalanan’ agar berbelok ke arah tujuan yang benar.

Saya hanya berharap, bahwasanya suatu hari nanti, kita semua, umat Rasulullah SAW dapat berjumpa di akhir perjalanan ini dengan sukacita. Tanpa perlu meributkan hal-hal yang tidak perlu. Tanpa perlu bertikai dan merusak persaudaraan. Saya hanya berharap, bahwa suatu saat nanti umat Islam dapat bersatu padu dalam keberagamannya, tanpa perlu merasa iri, sombong, dan lebih baik karena perbedaan jalan yang ditempuh atau kendaraan yang dipakai. Yang jauh lebih penting lagi: Semoga kita semua sampai! J

Akhir kata, semua hal yang saya tulis di atas, segala yang baik-baik bersumber dari Allah SWT, sedangkan apabila ada yang tidak tepat atau keliru adalah murni karena kesalahan saya sendiri. Semoga saja bisa memberikan manfaat. Dan maafkan apabila ada yang tidak tepat.

Salam,

nurimannisa

Rumahku, Surga hatiku,

Semarang,

14 Agustus 2013

17:10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s