Tuhan, Kehidupan, dan Pengabdian

sholat-dhuha

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, hari ini selepas shalat isya, Allah SWT berkenan memberikan satu lagi hikmah kehidupanNya kepada saya. Kali ini adalah tentang hakikat Tuhan dan kehidupan. Kata ‘Tuhan’ seringkali kita sebutkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari dalam doa dan ibadah, keluhan, hingga mungkin sumpah-sumpah dalam sebuah pembicaraan penuh canda. Namun, seringkali justru kita seringkali melupakan hakikat dari arti kata ‘Tuhan’ itu sendiri. Padahal, sesungguhnya Ia, Dzat yang Maha Agung dan tiada satu pun yang setara denganNya, sudah berusaha menyampaikannya dengan firman-firmanNya kepada kita. Hanya saja, seringkali kita, manusialah yang tidak mengindahkan dan melupakannya.

99 Asmaul Husna yang menyifati Dzat Allah SWT sesungguhnya mencakup semua sifat dan hakikatNya. Namun, pada kali ini saya ingin membahasnya dari sudut pandang salah satu sifatNya, yakni Yaa Malik: Yang Maha Merajai. Dalam Surat An-Nas ayat 2 juga sudah dijelaskan mengenai hal ini: Malikin Naas; Raja Manusia. Ya, Raja. Atau lebih tepatnya MahaRaja, adalah sudut pandang yang seharusnya kita pakai dalam ‘memposisikan’ Allah SWT di dalam hati dan pikiran.

Jika Allah SWT yang Maha Suci adalah MahaRaja, maka pada dasarnya manusia adalah abdi-abdi atau hamba-hambaNya, yang memang tidak memiliki daya upaya apapun tanpa ada Izin atau Ridha dariNya. Laa Haula wa laa quwwata illa billah. Dengan begitu, maka dapat disimpulkan bahwa kehidupan adalah sebuah rangkaian jalan pengabdian. Tugas serta peran utama manusia berada di dunia adalah mengabdi dengan sepenuh hati dan jiwa kepadaNya. Sebuah analogi yang bisa kita pakai untuk memudahkan pemahaman, tanpa ada maksud untuk menyetarakanNya dengan apapun, karena bagaimanapun Ia adalah Dzat yang tidak ada apapun yang setara denganNya (QS. Al-Ikhlas:4), adalah ibaratnya seorang Raja di suatu wilayah. Sedangkan posisi manusia adalah sebagai abdi dalem, hamba, atau budak, yang harus menaati dan menuruti segala apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang olehNya. Ketika menjadi seorang budak di dalam suatu kerajaan, maka sepanjang hidupnya akan diisi dengan pengabdian, kepatuhan, dan ketundukan terhadap Sang Raja. Segala apa yang dilakukannya diniatkan sebagai jalan ketaatan kepada Sang Maha Raja. Ketika mengdadap pun, akan dilakukan dengan sepenuh ketundukan, kesantunan, dan kelembutan. Begitu pulalah seharusnya manusia berlaku dalam shalatnya, ibadahnya, hidupnya, matinya, doanya, karirnya, keluarganya, waktunya, cintanya, dan segala urusannya di dunia. Mengabdi dalam sepenuh ketundukan dan ketaatan.

Budak atau hamba di sini, bukan berarti manusia berlaku sebagai ‘robot’ yang tinggal menerima program. Sama sekali bukan. Masih menggunakan analogi abdi dalem dan rajanya, maka kualitas dan bagaimana ‘prestasi’ abdi dalem ini di hadapan Rajanya adalah berdasarkan upaya dan perjuangan abdi dalem ini sendiri. Seberapa patuh, taat, tunduk, dan hormat abdi dalem ini kepada Rajanya. Bagaimana kinerja, profesionalisme, karakter, adab dan hubungan baik dengan atasan maupun rekanan, prestasi, dan berbagai macam parameter lainnya menjadi suatu pedoman akan penilaian seorang Raja terhadap kualitas abdi dalemnya. Jika pernah menjadi seorang pimpinan di sebuah lingkung sosial, kita pasti paham bagaimana hal ini berlaku. Sebagai pimpinan bertugas memberikan arahan, pancingan, dan juga mengingatkan jika ada pekerja yang berbuat salah, memberikan apresiasi jika ada kinerja yang baik. Namun, bagaimana performa dan kualitas pekerja ini tetap bergantung pada keputusan dan usahanya sendiri. Di pekerjaan, ketika kinerja baik maka bisa ‘dipromosikan’ untuk naik tingkat ke level selanjutnya, yang tentu saja dilakukan dengan ujian-ujian terlebih dahulu untuk menguji kepantasan pekerja tersebut apakah bisa naik level atau tidak. Begitu pula dengan kehidupan. Bagaimana pengabdian kita di dalam kehidupan menjadi sebuah catatan tersendiri, lengkap beserta ‘mekanisme’ ujian dan kenaikan level di dalamnya. Namun, bedanya dengan di perusahaan ataupun kerajaan, BosBesar yang harus kita patuhi di sini adalah Tuhan Yang Maha Agung, dan ujian serta penilaiaannya pun dilakukan dari seluruh dan setiap hal yang dilakukan, dari lahir hingga habis ‘masa kerja pengabdiannya’ yakni mati.

Siapa BosBesar kita adalah hal yang semestinya selalu kita jaga dengan sepenuh jiwa, upaya, dan kesadaran. BosBesar atau Raja di sini memiliki makna siapa dan/atau apa yang menjadi rujukan utama kita dalam menentukan baik/buruk, boleh/tidaknya suatu hal dilakukan, dan kepada siapa kita meminta dan merendahkan diri. Jangan sampai, posisi BosBesar yang seharusnya dimiliki oleh Allah SWT Yang Maha Merajai, justru tergadaikan oleh tuhan-tuhan atau tuan-tuan lainnya, entah itu harta, kepopuleran, kekuasaan, orang yang kaya, orang yang popular, atau orang yang berkuasa. Jangan sampai, fatamorgana dunia menodai langkah-langkah pengabdian sejati manusia kepada Tuhannya sebagai seorang hamba.

Maka, jika seorang manusia ingin mendapatkan keridhaan, kedekatan, rasa suka, dan rasa cinta dari Sang MahaRaja, apapun yang hendak dilakukan di dunia, baik itu langkah-langkah karir, pekerjaan, maupun percintaan, sudah selazimnya sesuai dengan apa yang sudah diatur olehNya, dengan sepenuh ketaqwaan dan ketaatan.

Tulisan di atas dibuat untuk kepentingan pribadi, sebagai sarana pengingat diri di kemudian hari.  

Semarang,

10 Agustus 2013, 2:34.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s