Dari Munchen ke Milan#1 Hadiah ulang tahun ke-19 yang tak terlupakan [Part Two]

P1060717

Bagi seorang mahasiswa yang sudah setahun menjadi kutu loncat dan pada akhirnya mendapatkan laptop pertamanya, jujur saja, rasanya sangat luar biasa. Maka, saya juga ingin dokumen pertama yang saya buat di laptop ini juga luar biasa. Saya menaruh harapan besar pada laptop ini, hingga saya menamainya auro, yang berarti ‘emas’ dalam bahasa Yunani. Karena saya berharap, dengan laptop ini saya akan bisa mengerjakan banyak sekali hal yang tidak bisa saya lakukan sebelumnya karena keterbatasan sumber daya, dan bisa mendulang ‘emas’ melaluinya. Saya bisa mengikuti kompetisi apapun yang saya mau. Mencoba apapun yang memungkinkan untuk diikuti. Mengaktualisasi diri. Paper, business plan, karya ilmiah, konferensi-konferensi ke luar negeri, dan berbagai kemungkinan lainnya. Berbagai info, kompetisi, dan kesempatan menggoda yang ditawarkan pamflet dan poster berwarna-warni di mading kampus yang selama ini hanya bisa saya tatap dengan pandangan sendu dan senyum tertahan, kini bisa saya ikuti. Karena bagaimanapun, tidak mungkin, kan? Kita ‘menculik’ laptop seorang teman hanya untuk membuat paper atau proposal lomba, sementara ia harus mengerjakan tugas kuliahnya?

Ya, di “Life Map 20 Years Later” itulah, saya mulai melukiskan mimpi-mimpi. Hanya lukisan kasar, berupa target pencapaian per umur yang saya torehkan di bagan smart-art berwarna-warni. Sungguh, niat awal saya hanya ‘iseng’ dan bersenang-senang mengisi liburan sekaligus mengisi laptop baru yang kosong. Berimajinasi. Bermimpi. Membuat perencanaan hidup, mau mencapai hal-hal apa saja dalam 20 tahun ke depan? Dimulai dengan usia saya yang saat itu masih 17 tahun, dan berakhir saat saya berusia 40. Jujur saja, saat itu saya hanya secara ‘random’ dan asal menuliskan beberapa poin yang ingin saya capai di setiap tahunnya. Salah satu di antanya adalah ke luar negeri, yang saya tuliskan di usia 19 tahun. Ketika saya mengetik dan menorehkan lukisan mimpi-mimpi saya, yang saya ingat hanya kuatnya keyakinan di dalam jiwa, bahwa saya akan meraihnya, entah bagaimana caranya. Saat itu, saya tidak memiliki ekspektasi apapun, atau bayangan apapun di dalam kepala. Bagaimana caranya saya bisa ke luar negeri di usia 19 tahun? Saat itu sama sekali belum ada bayangan ataupun kemungkinan kesempatan. Namun, yang saya pegang teguh hanyalah sebuah keyakinan. Saya masih ingat, kalimat yang mama saya katakan ketika saya menunjukkan life map saya itu kepada beliau:

“Wah, mimpi-mimpimu tinggi sekali ya, nak. Yah, mamah doakan saja supaya tercapai. Asal kamu tetap reralistis saja. Jangan sampai kamu terjatuh dan sakit ketika mimpi-mimpimu tidak tercapai ”

Saya juga masih ingat, betapa saya hanya mengulum senyuman tipis mendengarnya. Mendengar komentar mama yang menunjukkan antara tidak begitu mempercayai apa yang saya tulis, tidak ingin anaknya terjatuh dan sakit, sekaligus menyimpan harapan seorang ibu kepada anaknya. Saat itu, saya menjawabnya dengan membisikkan sebuah kalimat yang kemudian menggema dan memantul-mantul dalam keyakinan jiwa, “Tenang mah, insyaAllah anakmu nggak akan sakit kok. Karena dengan izin Allah, aku akan mencapainya.”

Kekuatan akan keyakinan mimpi, yang dipadukan dengan kekuasaan Ilahi. Sebuah kombinasi luar biasa, yang mengantarkan saya pada dua minggu pengalaman yang juga luar biasa. Jangan pernah meremehkan kekuatan keyakinan mimpi. Sekecil apapun itu. Seperti yang dikatakan dalam buku The Secret, bahwa “semesta akan mendukung dan menarik apapun yang kamu yakini.” Saya sangat sepakat akan hal ini. Kalimat ini juga sejalan dengan sebuah pernyataan seorang sahabat terbaik saya, yang sangat menginspirasi kehidupan saya.

“Penyebab terbesar kebanyakan orang yang tidak sukses, sesungguhnya sederhana. Bukan karena mereka tidak memiliki potensi, melainkan karena sesungguhnya mereka tidak menyadari, bahwa mereka memiliki potensi dan kekuatan yang luar biasa besar dan kekuasaan penuh atas dirinya. Mereka tidak menyadari, bahwa sesungguhnya ia sendirilah yang menentukan dan memilih kesuksesannya. Keberhasilan dan kesuksesan adalah pilihan, yang bisa diambil oleh siapapun dengan latar belakang apapun. Yang terpenting adalah keyakinan bahwa kamu akan sukses dan berhasil. Dan keyakinan ini tidak akan teraih tanpa adanya kemauan, konsistensi, dan kerja keras.”

Namun, Tuhan memang Maha Seimbang. Ia memberikan nikmat pasti beserta dengan ujian. Ya, ujian. Jujur saja, dalam proses keberangkatan ke Jerman ini, saya merasa keikhlasan saya diuji. Berkali-kali bahkan. Beberapa kali yang terjadi adalah saya seperti ‘hampir’ tidak jadi mendapatkan kesempatan ini. Seperti bermain ‘sendok dan kelereng’ saat acara tujuh belasan.  Licin, berayun, meluncur, goyah, dan berkali-kali hampir terlepas dari genggaman. Namun, dengan keikhlasan, keteguhan, dan konsistensi, Alhamdulillah, saya dapat mencapai garis finish dengan selamat :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s