Mempercantik Hati, Meningkatkan Kecantikan Pribadi

1255060464QY93v1

Saya menulis ini sesungguhnya dilatarbelakangi oleh perasaan sedih dan prihatin. Prihatin akan banyaknya perempuan-perempuan di sekeliling saya yang seringkali ribut oleh hal-hal yang berupa “kulit luar” namun melupakan hal-hal yang jauh lebih esensial. Ibaratnya buah jeruk, maka yang sesungguhnya kita cari adalah daging dalam buahnya. Sementara kulit luarnya hanya akan kita kupas, buang, lalu akan berakhir di tempat sampah. Kualitas buah jeruk ini akan kita tentukan dari manis/tidaknya dagingnya, bukan dari mulus/tidaknya kulitnya. Meski tidak menafikan, bahwa bagus/tidaknya kulit jeruk juga akan menentukan pengambilan keputusan kita apakah akan mengambil buah jeruk itu atau tidak saat berada di supermarket atau pasar. Namun, jika kita sudah mengetahui kualitas buah di dalamnya dan sudah mendapat jaminan tentangnya, maka sedikit kecacatan atau noda pada kulit luarnya sesungguhnya tidak akan memberikan permasalahan yang berarti.

Saya menjadi teringat beberapa yang lalu, saat saya masih duduk di bangku SMP dan SMA. Masa-masa saya benar-benar mempedulikan (atau bahkan bisa dikatakan selalu mengkhawatirkan) mengenai kondisi “kulit luar” saya. Sedikit-sedikit saya berkaca di manapun ada kaca, sedikit-sedikit merasa khawatir; “gue cantik nggak ya?”, “penampilan udah oke belum ya?”, “aduh, gara-gara kepanasan jadi tambah item nih”, “aduh, jerawat ganggu banget nih”, dan sebagainya, dan sebagainya. Hal ini terus berlangsung selama beberapa tahun, dan apa yang memenuhi pikiran saya kebanyakan hanyalah perasaan kurang. Kurang cantik, kurang putih, kurang mulus, kurang ini, kurang itu. Harus bertambah rajin luluran, harus bertambah rajin facial-an, bertambah rajin creambath-an, dan sebagainya. Segala macam persenjataan dan ‘peralatan perang’ perempuan saya terhitung lengkap. Mulai dari cream creambath sendiri, peeling, masker, pelembab, bedak, foundation, hingga ke peralatan manicure pedicure.

Ketika keluar rumah, maka saya harus tampil perfect menurut saya, dalam artian semua “peralatan” sudah dipakai: pelembab, bedak, lip gloss, parfum. Jika kurang satu saja komponennya, saya akan merasa kepercayaan diri saya hari itu berkurang drastis. Ya, saat itu sejujurnya saya seringkali merasa minder dan kurang percaya diri. Minder karena saya merasa saya kurang cantik jika dibandingkan dengan sahabat-sahabat saya. Kurang percaya diri karena selalu merasa kurang. Ada saja hal-hal dalam diri saya yang bisa saya cela. Hingga pada suatu saat, saya—yang sedang merasa sangat tidak percaya diri pada titik akut—berdialog  dengan ibunda tercinta, dan saat itu kata-katanya menampar saya.

“Sayang, ketidakpercayadirian adalah buah dari ketidaksyukuran. Syukuri saja apa yang kamu miliki, dan kamu akan merasa bahagia. Menjadi perempuan itu yang terpenting adalah mempercantik hatinya, bukan hanya luarnya. Luar penting, namun hati lebih penting. Jadilah seseorang perempuan yang cantik karena innernya, karena kecantikan yang memancar dari dalam, bukan hanya kulit luarnya saja.”

Kata-kata mama benar-benar membekas pada diri saya: Ketidakpercayadirian adalah buah dari ketidaksyukuran. Ketika mendengar kata-kata mama, mata saya basah. Jujur saja, saya merasa malu. Malu pada Allah, yang telah sedemikian memberikan nikmat, namun malah tidak saya syukuri dan saya kutuki sepanjang hari. Bukannya bersyukur atas apa yang dimiliki, namun malah mengeluhkan apa-apa yang tidak dimiliki. Semenjak hari itu, saya pelan-pelan berubah. Sedikit demi sedikit berusaha tidak sedikit-sedikit berkaca dan mengkhawatirkan penampilan hari ini. Tidak mudah, memang. Karena sejujurnya saya baru bisa memahami, menghayati, dan mengamalkan kata-kata itu sepenuhnya empat tahun kemudian. Saat saya duduk di bangku perkuliahan tingkat akhir, dan telah menjalani serangkaian proses yang tidak bisa dibilang menyenangkan. Namun, saya bersyukur saya mendapatkan kalimat itu dari ibunda tercinta, karena itulah yang menjadi “senjata” saya setiap kali saya merasa kurang percaya diri.

Ketika sekarang-sekarang ini saya pikir-pikir lagi, ternyata apa yang saya lakukan dahulu memang kurang tepat. Di mana saya ‘menggantungkan’ kepercayaan diri saya pada hal-hal di luar diri saya, seperti bedak, facial foam, scrub, parfum, dan sebagainya. Jika salah satu dari peralatan itu habis, maka saya akan merasa tidak percaya diri keluar rumah. Padahal, bukankah esensi dari perasaan percaya diri pada dasarnya adalah mempercayai dan mensyukuri eksistensi diri sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangannya?

Semenjak saat itu, saya mulai bekerja keras. Bekerja keras untuk senantiasa menjaga kebersihan hati, memperkuat karakter, memperkaya pengalaman, dan memperdalam wawasan. Berusaha menjadi seorang perempuan yang cantik karena innernya, karena kecantikan yang memancar dari dalam, bukan hanya kulit luarnya saja. Lebih jauh dan lebih dalam lagi, berusaha menjadi sesosok manusia utuh yang baik di mata Allah, tidak hanya baik di mata manusia. Yang menarik, justru banyak hal baik yang terjadi dalam hidup saya setelah saya berhenti mengkhawatirkan penampilan luar, lebih mensyukuri kehidupan, dan lebih berfokus kepada pengembagan hati, diri, dan pribadi. Hal ini membuat saya pribadi semakin meyakini, bahwasanya, hadist Rasulullah SAW tercinta memang benar adanya:

“Ingatlah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh anak Adam itu ada segumpal daging. Apabila baik itu segumpal daging, maka baiklah seluruh amalannya. Dan apabila jelek itu segumpal daging, maka jeleklah seluruh amalannya. Ingatkan bahwa segumpal daging itu adalah kalbu (hati).”  🙂

11 Maret 2014,

08.20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s