Pemuda dan Mahasiswa; Sebuah Hak Istimewa

pemuda-ilustrasi-_121024165433-607

“Non, lama nggak keliatan, ke mana aja?”

Sebuah sapaan sederhana dari seorang ibu paruh baya inilah yang menjadi awal mula dari semuanya. Awalnya saya tidak mengira, bahwa sapaan yang berlanjut dengan ramah tamah dan basa-basi masalah lebaran ini akan menjadi ‘sesuatu’ yang akan memberikan inspirasi bagi saya sedemikian besarnya untuk kembali bergerak dan berjuang untuk negeri ini. 17 September 2011, pukul 17.20, saya bahkan masih ingat detil pembicaraan kami. Bagaimana ia, yang kemudian saya kenali sebagai penjual mie ayam langganan saya, bercerita mengenai betapa sulitnya hidupnya dengan tagihan sewa kantin, anaknya yang harus bersekolah, suaminya yang menganggur, dan betapa bahwa untuk memenuhi kebutuhan lebaran kemarin ia harus berhutang kepada beberapa kerabat. Saya terenyuh, hati saya menangis. Tapi toh pada kenyataannya saya yang notabene mahasiswa berkantung cekak tidak memiliki uang banyak yang bisa membantunya keluar dari permasalahannya. Dan lagi, saya adalah tipikal orang yang yakin bahwa memberikan uang secara searah tidak akan menyelesaikan masalah. Kemudian saya teringat mengenai proyek yang tengah digodhog bersama rekan-rekan dari CoE, atau Centre of Entrepreneur, yang menyediakan pinjaman tak berbunga sebesar satu juta rupiah untuk membantu warga sekitar UI yang mau memulai usaha untuk memperbaiki taraf hidupnya. Begitu saya bercerita mengenai proyek tersebut, sungguh, saya belum pernah sekalipun, melihat binar mata sebahagia itu sebelumnya.

Dalam dua minggu awal kuliah sebelum pembicaraan dengan ibu itu saya mengalami ‘demot’, atau de-motivation. Saya yang selama ini menggebu dalam melakukan berbagai aktivitas kampus—kepanitiaan, organisasi, kuliah—seperti kehilangan arah dan tujuan: untuk apa saya melakukan semua aktivitas dan rutinitas ini? Pengembangan diri? Memang benar. Namun itu kemanfaatannya untuk diri saya sendiri. Setelah itu, lalu apa? Memberikan manfaat bagi mahasiswa lain? Mendakwahkan Kebenaran? Saya masih sangsi. Karena nampaknya kegiatan-kegiatan yang ada tidak memberikan manfaat konkrit bagi masyarakat. Tidak memberikan apa yang saya cari di dalam hidup: ‘kebahagiaan sejati’. Filosofi hidup yang baru saya temukan saat ramadhan lalu ini justru membuat saya sedikit-banyak kehilangan motivasi, karena saya tidak menemukannya contoh nyata dari apa yang saya temukan di lingkungan sekitar saya.

Namun sungguh, binar mata bahagia itu masih melekat dalam di hati saya. Dan saya jadi menemukan tujuan baru: melihat lebih banyak binar mata bahagia seperti itu. Memang benar kata pepatah, bahwa kebahagiaan tertinggi adalah ketika kita bisa memberi kebahagiaan kepada orang lain. Saya kemudian berpikir, bahwa inilah yang seharusnya pemuda—terutama mahasiswa yang notabene memiliki lebih banyak kesempatan dan kelebihan—lakukan. Memberikan kontribusi yang nyata dan konkrit bagi masyarakat di sekitarnya, bukan hanya bisa berdemo, bermain di politik kampus, membuat acara, dan ‘jago kandang’ saja. Saya tidak mengatakan bahwa semua itu salah, karena memang hal-hal itu tetap diperlukan. Namun seharusnya, bukan hanya itu. Karena bagaimanapun, pemuda—terutama mahasiswa—seharusnya merasa bersyukur dan bertanggungjawab kepada masyarakat di sekitarnya. Tuhan telah dengan baik hati sekali menakdirkan dan memudahkan jalan saya dan rekan-rekan lain untuk mencari ilmu lebih banyak dengan menjadi seorang mahasiswa. Ini adalah keistimewaan, mengingat Tuhan tidak memberikan kesempatan ini kepada semua orang. Dan karena sudah diberikan ‘hak’ istimewa, sudah sepantasnya ‘kewajiban’ yang dilakukan juga istimewa. Menjadi pemuda, terlebih lagi, menjadi mahasiswa itu amanah. Memberikan output manfaat konkrit bagi masyarakat: menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi mereka. Biarlah pemerintah menelantarkan fakir miskin dan anak terlantar di Indonesia. Tapi selama masih ada pemuda, negeri ini masih memiliki secercah harapannya. Bahkan proklamator negeri ini pernah berkata, “Beri aku 1000 orang tua, akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda yang membara cintanya pada tanah airnya, maka akan kuubah dunia.”

25 September 2011

08.26 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s