Butir Beras Bilqis

“Ah! Mengapa tak pernah sekalipun aku membantu Ummi!”menggerutu, di ujung isak tangisnya. Bilqis bahkan tak peduli, bahwa kini, air cucian berasnya telah bercampur dengan air mata.

Diremasnya butiran – butiran beras tak berdosa. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya kini. Setelah dicuci, lalu apa lagi? Pembicaraannya dengan Ayah beberapa saat lalu menyeruak masuk, menelusup di antara kenangan- kenangan yang masih saja tak mau berhenti menampilkan diri.

beras

“Bilqis, Ummi telah tiada. Otomatis, segala tanggungjawab Ummi berada di pundakmu kini,”Ayah menyentuh pundak Bilqis perlahan, meyakinkan, walau ia sendiri masih tak yakin, dengan apa yang baru saja menimpa mereka. Ayah berpaling, berusaha menyembunyikan air matanya. Bagaimanapun, putrinya tak boleh melihatnya menangis. Bilqis tahu itu. Jadilah ia hanya menunduk, menatap puncak sepatu Ayahnya.

“Karena kamu anak tertua, segala tugas Ummi, memasak, mencuci, menyetrika, kamu yang menangani,”Ayah melanjutkan, masih tanpa menatap Bilqis. Tidak tega. Ah, betapa berat beban yang harus ditanggung putri sulungnya ini. Bagaimanapun, umurnya baru 15 tahun. Belum ada sepertiga umur manusia pada umumnya.

“Tapi, Ayah…”Bilqis berusaha mengelak. Tak tahu apa yang harus ia perbuat dengan tugas – tugas itu. “Tak bisakah kita mempekerjakan seorang pembantu?”

Ayah mendesah lelah, dan tanpa perlu mendengar jawaban dari ayahnya, tiba – tiba Bilqis tahu jawabannya.

“Bilqis, seperti yang kamu tahu, keluarga kita bukanlah keluarga kaya raya. Jangankan untuk menyewa seorang pembantu, untuk menutup biaya sekolahmu saja, Ayah harus bekerja keras bersama Ummi. Dan kini, Ummi telah tiada. Tak ada lagi yang membantu keuangan keluarga kita dengan berjualan nasi uduk di depan rumah,”Ayah menghela nafas dalam, membuat Bilqis kembali sesenggukan.

Tampaknya Ayah juga tak mampu lagi membendung air matanya. Ayah berbalik, lalu sembari membelakangi Bilqis, berkata,”Mulailah dulu dengan yang paling sederhana, nanaklah nasi untuk makan siang kita.”

Begitu saja. Dan Ayah masuk ke kamarnya, tak keluar – keluar lagi sampai detik ini. Bilqis tahu, betapa terpukulnya Ayah atas kepergian Ummi. Ayah begitu mencintai Ummi. Wanita penuh kasih yang telah menemaninya selama 17 tahun terakhir. Mungkin, sekarang Ayah tengah menangis di kamar. Sesenggukan menatap potret wajah Ummi yang lembut, sorot matanya yang teduh, senyumnya yang mendamaikan…

Air mata Bilqis tumpah lagi. Tak terbendung kini. Teringat Ummi. Perlahan, kembali diputarnya memori ketika Ummi mengajaknya menanak nasi beberapa waktu yang lalu. Ah, apa yang ia katakan saat itu? Menolak mentah – mentah?

“Ah, Ummi, buat apa belajar menanak nasi secara konvensional? Kan, sudah ada Magic Com…Toh, Bilqis sudah bisa menanak nasi pakai Magic Com,”Bilqis ngeles. Malas menghentikan kegiatan nonton tivinya.

“Kan, Magic Com kita rusak sayang…Sebagai seorang wanita, harusnya kamu bisa menanak nasi, walau secara konvensional…Menanak nasi itu, pekerjaan paling pokok seorang wanita, lho…”Ummi menatap lembut, sembari mengelap panci untuk menanak nasi.

“Yah, Ummi, acaranya seru nih… Habis ini ya, Ummi?”

“Nanti keburu siang, sayang, kasihan adik – adikmu, nanti mereka keburu kelaparan…”Ummi menatap Bilqis lagi. Kali ini penuh permohonan.

Ah, ya… Tatapan lembut Ummi… Bilqis rinduuu sekali tatapan itu. Andaikan bisa, Bilqis rela menanak nasi setiap hari demi melihat tatapan lembut Ummi. Tapi, sekarang masalahnya, bagaimana caranya menanak nasi?

Bilqis kembali memeras ingatannya. Mencari – cari di antara bilik – bilik memorinya bersama Ummi. Sekuat tenaga berusaha dihalaunya air mata yang memaksa terbit ketika bilik kenangan indahnya bersama Ummi terbuka. Saat dirinya ulang tahun… saat Ummi membangunkannya pagi – pagi… saat ia mencium tangan Ummi… saat ia curhat pada Ummi… saat ia bertengkar dengan Ummi…

Ah, sudahlah. Simpan rapat – rapat dulu semua kenangan manis itu. Kembali pada masalahnya dengan makan siang mereka. Setelah itu, lalu apa?

Ummi tersenyum. Menatap Bilqis dalam – dalam.

“Ayolah, nanti kalau Ummi tidak ada, siapa yang akan menanakkan nasi?”

Bilqis tergugu. Mungkin ketika itu, Ummi sudah tahu. Bukankah kejadian itu belum begitu lama?

“Aduh, Ummi ini ada – ada saja.”

Ummi tersenyum lagi. Menatap penuh arti.

“Hmm… tak apalah kalau anak gadis Ummi memilih menonton tivi,”Ummi berbalik, lalu berlalu pergi

Demi melihat Ummi menyerah, Bilqis berdiri. Beranjak mengejar Ummi. Lupa begitu saja dengan acara telivisinya.

“Yah, Ummi, begitu saja kok, marah…”Bilqis merajuk.

“Ummi tidak marah, kok…”

“Terus?”

“Kan kamu yang maunya begitu… Jadi Ummi menurut saja…”

“Kok Ummi nggak marahin Bilqis?”

“Buat apa? Buang – buang tenaga. Toh, kalau Ummi marah, kamu malah melawan. Kalau Ummi mengalah seperti tadi, kamu malah menurut. Betul kan?”

Bilqis tersipu. Malu akan ‘tembakan’ Ummi.

“Mmm…memangnya…Ummi mau ke mana?”

“Tidak ke mana – mana.”

“Kok, tadi Ummi bilang, kalau Ummi tidak ada…”Bilqis menggantung kalimatnya. Takut dengan apa yang dibayangkannya.

Ummi lagi – lagi tersenyum penuh arti.

“Yah, siapa tahu nanti Ummi pergi ke manaa gitu. Kan Ummi malu, kalau ternyata, anak gadis Ummi tak bisa menanak nasi… Nanti Ummi yang disalahkan… dianggap tidak bisa mendidik anak gadisnya.”

Dan kini, Ummi telah benar – benar tiada… Pergi dari dunia fana. Dunianya. Tak bisa lagi mendidik anak gadisnya…Sekali lagi, air cucian beras Bilqis bercampur dengan leleran air mata.

“Yah, kok gitu sih, Ummi…”

“Ya, makanya, ayo, sini, gini lho, caranya…”Ummi mengambil beberapa gelas beras. “Berasnya tujuh gelas saja, setelah itu, dicuci…”

Berasnya sudah dicuci. Bilqis semakin memeras ingatannya. Sedikit lagi…

“Cukup empat kali. Agar vitamin yang terkandung tidak banyak yang terbuang.”

Sudah tiga kali. Berarti kurang satu kali lagi.

“Setelah itu…”

Terputus. Hilang. Ingatan itu seperti tercerabut dari bilik – bilik memorinya. Bilqis kembali memilin otaknya. Berusaha menampilkan kelanjutan adegannya bersama Ummi. Namun, walau penat otaknya mencari, tak kunjung tampak ujung kelanjutan scene tadi.

“Setelah itu… setelah itu…”Bilqis bergumam sendiri. Mengingat – ingat.

Frustasi. Kasar ia mencuci berasnya sekali lagi.

“Aaah!”

Butir – butir beras C4 yang tengah dicucinya melayang di udara, jatuh, berceceran separuhnya.

Menangis. Bilqis menangis lagi—entah yang keberapa kalinya dalam sehari ini.

Bilqis terbungkuk, perlahan memunguti satu per satu butir beras yang ditumpahkannya tadi.

Dicucinya sekali lagi, tak peduli akan pesan Umminya.

“Kak…”Zakkya tiba – tiba muncul, dengan mata sembab dan pipi penuh pulau.

Tersenyum Bilqis menoleh. Tak peduli dengan wajahnya yang menganak sungai.

“Kakak menangis?”pertanyaan bodoh. Zakkya menyadari itu. Ia juga terus menangis sepulang dari pemakaman Ummi. Sama seperti Ayah, tak keluar – keluar dari kamar, sampai akhirnya tertidur pulas.

Bilqis hanya menanggapi dengan tersenyum. Kembali menekuri butir berasnya.

“Kakak ngapain, sih?”Zakkya beringsut mendekat. Penasaran.

“Nyuci beras, ya?”dijawabnya sendiri pertanyaannya. Bilqis masih tak mau bersuara.

“Nyuci beras kok, gitu, sih, Kak?”Zakkya mengambil alih cucian berasnya. “Gini, lho.”

Bilqis merasa gerah. Adiknya yang baru berumur sembilan tahun malah sok – sok mengajarinya. Kasar direbutnya kembali. Dan sekali lagi, butir – butir beras berceceran di lantai.

Zakkya terdiam. Terpaku di tempat. Tak menyangka akan manuver kakaknya yang tiba – tiba.

“Ya udah, kalau nggak mau dibantu,”Zakkya berkata cuek. Berbalik pergi. “Zakkya mau bangunin Zakky sama Khumaira dulu.”

Bilqis emosi. Memunguti berasnya untuk kedua kalinya sembari merutuk sana sini. Pekerjaannya semakin kacau. Cucian berasnya semakin berantakan. Berceceran kesana – kemari.

“Kak, laapeer…”kali ini Zakky yang muncul. Duo kembar itu memang selalu kompak dalam segala hal. Termasuk mengusik Bilqis—ini menurut persepsinya.

“Sebentar lagi,”ketus. Membuat dahi Zakky terlipat heran. Tak biasa – biasanya kakak sulung mereka jutek begini.

Bilqis menelusuri wajah Zakky. Tak ada lagi raut kesedihan yang tersisa di sana. Air matanya telah mengering. Berganti dengan pulau yang pating telecek kanan kiri. Ketiga adiknya memang langsung pulas sepulang pemakaman Ummi. Sementara dia? Harus berkutat setengah mati dengan butir – butir putih untuk makan siang mereka.

Sungguh tidak adil!

Sedangkan Khumaira? Dia bahkan tidak mengeluarkan air mata. Umurnya baru tiga tahun! Belum mengerti apa itu kehilangan, kesedihan, dan kematian.

Sesungguhnya Bilqis juga ingin tidur. Matanya bengkak oleh kantuk dan air mata. Semalam suntuk mereka menunggui Ummi melawan sel – sel kanker yang menggerogoti seluruh tubuhnya. Sampai akhirnya, tepat pukul 2.45. Dua pertiga malam. Waktu terbaik yang dijanjikan oleh-Nya. Ummi menghembuskan nafas terakhirnya.

Bilqis menghembuskan nafas perlahan. Air matanya mulai sulit mengucur kini. Matanya sudah terlampau lelah. Lelah menangis, lelah melihat. Melihat penderitaan Ummi. Penderitaan yang datang begitu saja. Sangat tiba – tiba. Tanpa pernah ada tanda – tanda sebelumnya. Ummi langsung divonis memasuki stadium empat pada Kamis pagi. Dan pada Jum’at dini hari, pergi… pergi begitu saja… tanpa sempat berpamitan pada mereka semua…

“Kak, kapan…? Katanya sebentaarr…?”cerocos Khumaira menariknya kembali pada kehidupan nyata. Manik matanya yang menyorotkan kejenakaan mengerjap – ngerjap. Tangannya yang mungil mengelus – elus perutnya yang sudah berbunyi sejak tadi.

“Sebentar, ya, sayang… kakak masak nasi dulu…”Bilqis tersenyum lembut menenangkan. Entah. Berhadapan dengan si kecil Khumaira, segala gemuruh di hati Bilqis lenyap begitu saja. Mungkin, karena wajah Khumaira mengingatkannya pada Ummi…

“Idih, kalo sama Khumaira lembut gitu… Giliran sama aku, jutek…”Zakky protes. Bibirnya yang mungil maju beberapa senti.

Bilqis hanya tersenyum. Kepolosan adik – adiknya sedikit-banyak telah menghapus kesedihan dan kemarahannya.

Tidak seharusnya aku marah pada mereka. Bagaimanapun, kepergian Ummi adalah Kehendak-Nya… Lihat, mereka saja bisa begitu ikhlas dan damai. Tak ada gurat kesedihan berlebih di sana. Toh, jika Engkau mengijinkan, kelak aku—kami semua, akan berkumpul lagi… Di tempat yang jauh lebih indah… dan… kekal…

“Kak, ayo, dong, cepet masak nasinya… jangan bengong aja…”kali ini Zakkya yang bersuara. Tak sabar lagi dengan orasi yang membahana dari cacing – cacing di perutnya. “Atau jangan – jangan… kakak nggak bisa lagi?”

Zakkya telah melanggar zona sensitif. Emosi Bilqis meletup lagi. Senyumnya memudar. Ia bungkam kini.

“Bener, kan… Kakak nggak bisa… ngaku aja deh…”Zakky semakin memperburuk suasana.

Bilqis berbalik. Memunggungi mereka semua.

Zakkya menangkap perubahan ekspresi dan gestur Bilqis. Sifatnya yang peka membuatnya tahu akan masalah kakaknya

“Udah, ah, kalian gangguin kakak aja, sana, sana, main dulu. Hus, hus…”

“Yeee…ngusir…”Zakky protes. Namun digiringnya juga adiknya keluar dapur.

“Sini, kak, kubantuin…”Zakkya mendekat perlahan. Takut kakaknya menolak lagi.

Bilqis bergeming. Namun perlahan beringsut menyingkir. Mempersilakan adiknya mengambil alih.

Zakkya tersenyum. Mengaduk – ngaduk berasnya sebentar, lalu memindahkannya ke panci. Menambahkan air sedikit demi sedikit, kemudian mencelupkan telunjuknya.

“Ah, udah pas. Beres, deh…”

Bilqis tergugu. Tak menyangka adiknya lebih tahu. Diam diperhatikannya kembaran Zakky yang sama jailnya ini.

Zakkya menyalakan kompor, dan meletakkan panci di atas nyala api.

“Tinggal nunggu lima belas menit, terus dipindah ke dandang…”Zakkya menepuk – nepukkan tangannya.

“Zakkya…”Bilqis menatap lantai. Malu melanjutkan kalimatnya. “Darimana kamu tahu semua itu?”

“Ummi yang ajarin…”Zakkya menatap kakaknya heran. “Kakak nggak diajarin Ummi?”

Bilqis menelan ludah. Terhenyak. Dia bukannya tidak diajari Ummi. Tapi, tidak mau diajari Ummi. Perlahan, entah dari mana, ingatannya menyeruak kembali.

“Kalau memasak pakai Magic Com, setelah dicuci, berasnya dipindahkan ke bejana aluminium khusus Magic Com. Kemudian ditambah air, kira – kira segini,”Ummi mengacungkan jari telunjuknya yang dibatasi kuku ibu jari pada tuas kedua.

Oh, jadi karena itu, tadi Zakkya mencelupkan telunjuknya. Bilqis manggut – manggut. Agak malu, karena ternyata, menanak nasi pakai Magic Com pun, ia belum mahir. Masalah ‘telunjuk’ itu saja, ia tak tahu.

“Setelah itu, tinggal memasukkan panci aluminium itu ke Magic Com, tekan tombolnya, lalu tunggu sampai masak. Tapi, kalau secara konvensional beda…”

Bilqis memperhatikan Umminya sekilas. Lalu menarik handphonenya dari kantong.

“Ada beberapa tahapan. Pertama, rebus dulu berasnya di panci. Setelah lima belas menit, angkat, pindahkan ke dandang. Kukus sekitar 15 menit, lalu pindahkan ke Magic Com untuk dihangatkan.”

Bilqis sudah mengerti kini. Senyumnya terkembang.

“Kak? Kok, Kakak senyum – senyum sendiri?”

“Nggak apa – apa, nanti kakak saja yang melanjutkan,”Bilqis tersenyum simpul.

“Kakak udah bisa?”

Bilqis mengangguk perlahan.

“Oke, deh… Kalau gitu, Zakkya bikin telur ceplok dulu, ya… buat lauk…”

Bilqis terdiam. Ternyata, adiknya sudah selangkah lebih maju darinya.

Di balik pintu, tanpa mereka ketahui, Ayah tersenyum sesenggukan. Terharu, melihat anak – anak gadisnya sudah menjadi lebih dewasa hanya dalam beberapa jam saja.

Ummi… Lihatlah… Anak – anakmu sudah dewasa kini… Kau tidak perlu khawatir lagi… Ummi…

*untuk Ummi,

dan seorang Kawan,

yang telah banyak menginspirasi

081008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s