Kaki Lima Belas Senti

“GOOOLLL….!!!!” teriakan membahana menggetarkan pilar-pilar Istora Senayan. Tarian kebahagiaan terlukis di sudut-sudut stadion, diiringi dengan tambur sorak-sorai yel-yel dan nyanyian kemenangan.

gol

“Pemirsa, Fabian baru saja menyarangkan tendangannya mautnya, dan membuat kududukan timnas U-16 Indonesia unggul 2-1 atas timnas U-16 Belanda!” komentator ramai berceloteh. Tak lama kemudian, dengung komentar dari berbagai aksen dan bahasa mengudara, ditingkahi dengan ceprat-cepret blitz media.

Bagaimanapun, ini pertandingan final tingkat dunia! Siapa yang hendak leyeh-leyeh di kamar dan ketinggalan berita?

“Prrriiittt….” suara peluit panjang dari wasit bagaikan lengkingan sangkakala sebagai melodi pengantar eksekusi. Kemenangan atau kekalahan. Hanya itu pilihannya.

Sontak, pekik tertahan, tangis haru, teriakan kemenangan, lantunan syukur, dan entah apa lagi, berpilin dan membumbung di atmosfer Gelora Bung Karno.

“Indonesia!! Indonesia!! Indonesia!!” Gelora Bung Karno yang nyaris 80%-nya berisi orang Indonesia ini mendadak menjadi seperti zaman kemerdekaan dulu. Bendera merah putih berkibar di mana-mana. Lagu Indonesia Raya gubahan W.R. Supratman mendengung-dengung timpang, naik-turun, bertumpuk-tumpuk, karena tak ada seorang pun yang berminat menjadi konduktor. Sehingga, interferensi suara-suara itu seperti menciptakan gaung.

Fabian diusung, diarak keliling lapangan, dielu-elukan bersama dengan nama negeri ini.

“Fabian! Indonesia! Fabian! Indonesia!”

Timnas U-16 Indonesia menang di piala dunia Yunior! Adakah yang lebih membahagiakan dari itu??

Di tengah sorak-sorai kebahagiaan, di tengah pergiliran piala kemenangan, di tengah ucapan selamat dari teman-teman seperjuangan, Fabian terlonjak. Kaget. Bahunya ditepuk dari belakang.

“Fabian,” sosok sang pelatih, Pak Bambang, terbayang samar di antara kabut linangan kebahagiaan. Berdiri di sebelahnya, sosok pria asing dengan kulit putih kemerahan karena kepanasan dan rambut pirang kecokelatan tertimpa cahaya matahari.

“Are you Fabiano Castello?” senyum merekah di bibir pria asing itu. Sepasang matanya yang biru memancarkan sorot kekaguman.

Fabian yang tengah dikuasai gelora kegembiraan hanya mampu mengangguk, meski hatinya bertanya-tanya siapa sosok asing ini sebenarnya.

“Follow me,” pria asing itu berbalik, sembari melempar isyarat agar Fabian mengikutinya.

Teman-temannya bertukar pandang heran, dan Fabian yang sama-sama tidak tahu menahu hanya mampu mengangkat bahu, lalu mengikuti pria itu. Meninggalkan segala hiruk pikuk di belakang punggungnya.

Dan, pembicaraan itu terjadi begitu saja. Cepat sekali.

***

“Sudah kau siapkan semua, Nak?” Ibu menatap khawatir. Sorot matanya jelas-elas menunjukkan keengganan. Namun , apa hendak dikata? Toh, ini demi mimpi anaknya juga.

“Are you ready, boy?“ pria asing yang kemudian Fabian ketahui bernama Mr. Edmund itu menatapnya dengan sorot mata seorang ayah. Dialah yang mengurusi semuanya dari awal. Negoisasi, perekrutan, perijinan, birokrasi, paspor, visa, bahkan menemaninya untuk berbelanja segala keperluan yang akan dibutuhkannya di sana.

Fabian             menatap lekat-lekat tumpukan kertas persegi panjang dalam genggaman. Tak terasa, jemarinya gemetar. Tiket pesawat itu. Tiket yang bertuliskan Jakarta-Singapura-London. Dan dibaliknya, berlembar kertas dengan logo meriam Arsenal di setiap sudutnya. Bukankah itu yang menjadi mimpinya selama ini?

Hingga saat ini, di depan Boarding Gate, Fabian masih merasa ragu. Entah, entah kekuatan apa yang sedari kemarin terus menerus membisiki hatinya untuk tetap tinggal. Tapi, sebuah mimpi telah terpatri di dalam hati, jangan sampai ia goyah di saat-saat kritis seperti ini. Saat mimpi sudah tinggal sepelemparan batu lagi. Fabian melipat tiketnya, memasukkannya ke dalam saku.

“Sudah, Bu,” Fabian mengecup lembut kedua pipi ibunya, kemudian ayahnya, lalu adiknya. Perlahan, dipeluknya teman-teman setimnya satu-persatu. Selaput air mata membayang, menyamarkan wajah tersenyum mereka. Ya, mungkin inilah yang sedari kemarin menggelayuti hatinya. Perpisahan, hal-hal baru yang masih asing, dan keadaan yang tidak menentu. Tapi, bukankah benar apa yang dikatakan Socrates, bapak filsuf itu, bahwa “Kau tidak akan melihat dunia jika kau tidak mau keluar dari gua?“

Fabian mengepal erat jemarinya. Kini, mantap sudah keputusannya.

“Good bye, Mom, Dad, my sister, and my friends… Goodbye, Indonesia,” Fabian melambai, kemudian berbalik. Menyusul Mr. Edmund yang sudah mendahuluinya memasuki Boarding Gate.

“Come on, Mr. Edmund……. Let’s go to London…….”

***

Hawa dingin menusuk kulit menyergap begitu mereka melangkahkah kaki keluar dari Heathrow Airport—bandara tersibuk di dunia. Di luar, sudah tak ada penghangat ruangan. Kota London jadi tampak putih hampir seluruhnya.

Mata Fabian berbinar. Salju! Pohon-pohon menjadi begitu artistik dan manis, bagaikan marshmellow yang dibakar di atas api unggun dalam acara perkemahan. Ranting-rantingnya yang telanjang karena mulai ditinggalkan helai daun, kini berselimut salju.

Fabian menengadahkan tangannya ke udara. Berusaha menangkap butir-butir salju yang berjatuhan dari langit. Lembut. Dingin. Menyenangkan. Fabian menyeringai.

“Ah, kau datang pada saat yang tepat, Nak. Hari pertama musim dingin. Saat salju masih menjadi hal yang menyenangkan dan cantik. Tunggu saja sekitar seminggu lagi, dan kau akan berharap tidak pernah menganal salju,” pria itu terkekeh.

Fabian yang belum bisa menangkap perkataan Mr. Edmund sepenuhnya hanya bisa mengangguk-angguk sok mengerti, sembari menatap titik-titik putih yang berkumpul di sekitar kakinya.

“Ayo, segera ke hotel. Kau sangat letih, kukira. Penjemput kita sudah datang,” Mr. Edmund menggamit tangan Fabian, membawanya ke sebuah Ferrari merah cerah dengan kap terbuka.

“Ah, padahal sudah kukatakan pada Jake untuk tidak mengirim mobil yang terlalu mencolok. Kap terbuka! Yang benar saja! Tak tahukah ia bahwa ini awal musim dingin?” Mr. Edmund menggerutu panjang-pendek dan kemudian berkata cepat dengan aksen British yang kental pada pria di belakang kemudi.

Fabian hanya mampu ternganga, mengelus lembut tunggangan eksotis itu. Mimpi apa dia semalam? Direkrut Arsenal, terbang ke London, melihat salju, dan dijemput dengan menggunakan Ferrari?

Semua ini terlalu indah. Kalaupun ini mimpi, Fabian berharap ia tak akan pernah dibangunkan.

***

“Besok pagi, kita akan ke Dayton Park, Emirates Stadium. Dan kau harus menandatangani beberapa berkas. Agak menjemukan, memang. Tapi setelah itu kau dapat bertemu dengan calon teman setimmu. Robin terkena cedera lutut kemarin, dan mungkin kau tidak dapat bertemu dengannya dulu. Namun kau dapat berjumpa dengan Cesc, Aaron, Theo, dan yang lainnya,” Mr. Edmund berkata sembari meletakkan kopernya di atas meja hotel.

“Dan lusa, kau sudah bisa mendapatkan latihan pertamamu, langsung dengan Mr. Wenger.”

Perut Fabian bergolak. Seolah ada seekor kupu-kupu yang menari-nari di perutnya. Sensasi yang aneh. Sensasi yang selalu muncul setiap kali ia merasa bersemangat sekaligus cemas.

“Kau bisa beristirahat dahulu. Atau jika kau ingin keliling kota sejenak, Thomas akan mengantarmu. Karena jadwalmu akan menjadi sangat penuh sejak pesok pagi,” Mr. Edmund mengangsurkan sebuah telepon genggam. “Aku tak mau jika harus kerepotan mencarimu. Aku tahu, kau tak akan bisa tidur, karena itulah yang terjadi padaku ketika pertama kali tiba di sini dulu. Pergilah, dan jangan lupa memakai jaket. Udara di luar dingin sekali. Aku tak mau kau bersin-bersin ketika bertemu dengan Mr. Wenger besok pagi.”

Fabian menerima telepon genggam itu. Menimbang-nimbang. Untuk tidur, jelas ia tidak bisa. Ini masih pagi. Dan lagi, pemandangan kota London dari jendela hotel sudah memanggil-manggilnya sedari tadi.

Fabian berpamitan, undur diri. Lalu, menyusuri lorong dengan melompat-lompat kegirangan. Sempat didengarnya teriakan Mr. Edmund yang menyuruhnya untuk pulang sebelum malam.

***

“Teng! Teng! Teng!” dentang suara Big Ben menggema sepuluh kali, menggetarkan permukaan sungai Thames dan menciptakan bulatan-bulatan gelombang air yang menyebar di banyak titik. Beresonansi.

Rupanya dentang tadi mengusik segerombol burung gereja yang tengah bersantai di reranting pohon plum yang meranggas. Menyebabkan mereka terbang berserabutan dan merontokkan sebagian salju yang melekat lemah di permukaannya. Indah.

Fabian bersandar pada Westminster Bridge yang melintasi Sungai Thames yang membelah kota London. Menatap lamat-lamat matahari yang malas menampakkan diri, kemudian merapatkan jaketnya. Angin utara dingin sekali. Ah, belum-belum Fabian sudah rindu dengan teriknya mentari di Indonesia. Ia tiba-tiba merasa kesepian. Mungkin karena ia memang satu-satunya orang yang berdiri di tepi jembatan ini. Thomas tengah membeli susu coklat hangat untuk mereka berdua.

Lalu, kejadian itu terjadi, begitu saja. Tanpa peringatan sebelumnya.

Seorang pria berjaket kulit tiba-tiba membelok cepat dari arah Victoria Embankment, sembari menggenggam sebuah tas tangan wanita. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya berteriak-teriak kalap, meyumpah-nyumpah dalam bahasa entah Spanyol entah Portugis. Sesuatu yang sangat wajar, sebenarnya. Mengingat kawasan itu memang merupakan pusat kriminalitas di London. Fabian, yang dengan cepat mengerti apa yang terjadi, menghadang pria tadi, berusaha menangkapnya. Namun, yang tidak diketahui olehnya, lelaki itu menyimpan belati di balik jaketnya.

Dan hal itu terjadi, begitu saja.

Sempat terlihat olehnya sekelebat kilau mata pisau, sebelum ia merasakan sensasi kehangatan yang aneh dari pahanya. Lalu, segalanya menjadi gelap.

***

“Berat mengatakan ini padamu, Fabian,” pria berbaju putih itu mengetuk-ngetuk boardnya, membalik-balik lembaran kertasnya. “Tapi, bagaimanapun, hal ini harus dilakukan.”

Fabian hanya terdiam. Menatap lekat-lekat kaki kanannya yang kini terbalut perban putih dan tergantung tanpa daya. Kakinya. Mimpinya. Hidupnya. Entah apa yang akan disampaikan oleh dokter itu, tapi jelas bukan berita baik. Fabian sudah kehilangan semangat hidupnya sejak pertama kali ia mendengar berita itu. Tendonnya sobek. Ia tak bisa bermain bola lagi. Sepertinya, setelah ini ia akan menjalani kehidupan seperti mayat hidup.

“Kerusakan tendonmu sangat parah. Aku tak dapat melakukan apapun untuk menolongnya. Dan dari yang sudah-sudah, kerusakan itu akan bertambah parah jika kau membiarkannya begitu saja. Jika kau tak mau melakukannya, aku khawatir kau akan menderita seumur hidupmu,” dokter itu menghela nafas, bersiap menyampaikan beritanya. “Kakimu harus diamputasi.”

Fabian terhenyak, tapi tidak memberikan reaksi apapun. Ia sudah tak bisa menangis lagi. Kantung air matanya sudah kering sejak dokter memberitahunya bahwa ia tak bisa lagi bermain bola. Untuk berteriak-teriak pun, ia sudah kehilangan tenaga. Fabian hanya melengos, menatap lambang Guy’s Hospital yang terpatri di botol infus.

Jelas sudah. Hidupku berakhir.

***

Fabian menatap dirinya di pantulan kaca. Hanya satu kaki yang menopangnya kini. Sementara yang satunya, menjadi hanya setinggi lima belas senti. Fabian yang dulu, top scorer, playmaker, bintang lapangan, atau apa saja julukan orang baginya, lenyap sudah. Bahkan mimpinya untuk bermain bersama Arsenal di Emirates Stadium kandas. Padahal tinggal sepelemparan batu lagi. Tinggal besok. Sungguh, begitu panas hatinya jika mengingat wajah samar bandit sialan itu.

Andaikan saja aku tidak mengahadangnya, andaikan saja aku memilih ke Buckingham daripada ke Big Ben, andaikan saja aku tidak meninggalkan hotel, andaikan saja aku tidak terbang ke London, andaikan saja… Argghhh!!!

Fabian kerap mengutuk kini, marah-marah. Mengamuk bahkan karena hal-hal kecil. Mengulang-ulang berbagai kalimat yang diawali dengan andaikan. Namun adakah yang dapat dilakukan?

Semua ini adalah takdir Tuhan. Begitu yang kerap dikatakan ibunya dengan berlinang setiap kali dia mengutuk langit. Namun, bukankah Tuhan Maha Baik? Lalu, mengapa Ia tega? Merenggut semua miliknya? Kebanggaannya? Kehidupannya?

Ah, Fabian, Fabian, Tuhan Selalu Maha Baik. Hanya saja kau tidak tahu, kau hanya selalu mengutuk apa yang terjadi sekarang, tanpa pernah tahu bahwa Tuhan telah merencanakan yang terbaik untukmu besok. Kau hanya perlu bersabar, terus berdoa, dan terus bermimpi…

***

Hari ini seharusnya menjadi hari yang bersejarah bagi Fabian: hari pertama untuk kaki palsunya. Namun Fabian hanya menatap tak berminat kaki imitasi itu, menggurat-gurat malas teksturnya yang keras namun kelewat halus.

“Kau memang tak bisa menendang lagi, tapi setidaknya kaki palsumu bisa kau bawa berlari,” dr. Arthur, dokter Guy’s Hospital, mencoba memberikan penghiburan. Pihak Arsenal memang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Fabian. Menanggung semua biaya mulai dari perawatan, rawat inap, kaki palsu, sampai tiket pulang-pergi ayah dan ibunya, yang Fabian yakin kedua orangtuanya tak akan mampu melunasinya meski sudah menggadaikan semua harta.

Fabian menggerutu. Apa gunanya jika aku tak bisa menendang? Berlari-lari melintasi lapangan seperti orang bodoh? Yang benar saja!

“Kesinikan kakimu,” dr. Arthur mengangkat tungkai imitasi itu dan mengepasnya di ‘kaki’ lima belas senti Fabian sembari mengoceh tentang sumber daya kaki ini, lama pemakaian, dan bagaimana mengoperasikannya. Fabian tidak peduli, dan malah menatap ke luar jendela rumah sakit. Mengamati London Tower Bridge yang menjulang.

Rasa sesak itu datang lagi, dan nyaris merebakkan air matanya kalau saja kalimat dr. Arthur tidak menyadarkannya.

“Kau tidak ingin mencoba memakai seragammu?”

“Eh?”

“Kau tidak ingin mencoba kaki palsumu ini di balik seragam timnas kebanggaanmu itu? Atau… kau mungkin ingin mencoba seragam Arsenalmu?” dr. Arthur mengulangi pertanyaannya dengan senyuman penuh arti.

Fabian terhenyak. Sesungguhnya dari dulu ia ingin sekali menjajal seragam ‘Fly Emirates’ itu. Tapi ia takut, luka itu akan merebak lagi. Namun, apa salahnya?

“Mmm. Arsenal, please,”

“Kau harus memakainya sendiri. Hitung-hitung untuk latihan,” dr. Arthur menyurungkan sebuah plastik berisi seragam impiannya itu. “Dan jangan lupa, pakai ini,” dr. Arthur menyerahkan sepasang kaus kaki bola panjang, yang biasa dipakai saat musim dingin.

Begitu Fabian selesai menarik kedua kaus kakinya hingga tepi celana, dr. Athur berteriak. Membuatnya kaget.

“Voila!” dr. Arthur tersenyum puas, dan membalikkan Fabian ke arah kaca besar yang sedari tadi dipunggunginya. Sudah sejak lama, sejak pertama kali ia melihat pantulan dirinya pasca operasi, Fabian bermusuhan dengan cermin.

Fabian sempat berontak, namun senyum dr. Athur yang penuh arti meluluhkan hatinya.

Dan, demi melihat bayangan dirinya, Fabian terbelalak. Sosok itu… Fabian yang dulu! Tak ada lagi bekas-bekas kaki lima belas senti ataupun kaki imitasi. Semua tersamarkan oleh seragam dan kaus kaki bola panjang itu. Sedikit demi sedikit, Fabian mulai bisa menemukan kembali semangat hidupnya.

“Ah, ya,” dr. Arthur menjentikkan jarinya. “Kurang tambahkan sepatu, dan kau bisa segera merumput di lapangan.”

***

Istora Senayan, Jakarta

Duuggg… Duuggg…

Fabian menendang-nendang bola, berusaha memasukkannya ke gawang. Freddie, mantan teman setimnya yang baru saja lulus dari MIT, USA, menambahkan fungsi menendang pada kaki palsunya. Namun tetap saja, apa yang dilakukannya tak bisa sebaik kaki aslinya. Fabian jelas sudah menduganya dari awal, namun setidaknya, perkiraannya tidak seburuk ini. Dia merutuk, frustasi. Ini sudah bolanya yang ke-20, tapi tak satu pun yang mau masuk tepat sasaran. Padahal, gawangnya hanya berjarak 3 meter! Dulu, hal ini mudah sekali baginya.

Fabian menangis, terduduk kelelahan, dan melempar bola-bola yang bertebaran di sekitar kakinya.

“Aku sedari tadi mengamatimu dan bertanya-tanya, mengapa kau tidak menggunakan kaki kiri saja?”

Fabian cepat mengusap air matanya—tak mau ketahuan tengah meneteskan air mata—dan menoleh ke sumber suara.

Seorang pria paruh baya, dengan dua tongkat penyangga, menatapnya lekat-lekat dari pinggir lapangan. Fabian terhenyak. Pria itu, juga memiliki kaki seperti dirinya. Kaki lima belas senti. Dua-duanya malah. Menilik dari pakaiannya, Fabian menduga pria ini adalah tukang parkir Istora Senayan.

“Eh-uh?” Fabian tergeragap. “Dari dulu aku tak pernah bisa menggunakan kaki kiri untuk menendang, entah kenapa.”

“Lalu kau malah mencoba menggunakan kaki palsumu?”

Fabian terdiam. Ini memang baru pertama kalinya ia masuk lapangan, dan sedari tadi tidak pernah terpikirkan olehnya untuk menggunakan kaki kirinya yang sehat. Sudah kebiasaan.

“Cobalah.”

Fabian mencobanya. Tidak keras memang. Tapi setidaknya masuk ke gawang. Fabian tersenyum.

“Apa kubilang. Kau bisa terus melatihnya. Dan membuatnya sejago kaki kananmu yang dulu, Fabian.”

Fabian terkejut, “Kau mengenaliku?”

“Tentu saja. Fabiano Castello. Bintang Lapangan. Wajahmu ada di mana-mana waktu itu. Kejadian di London itu. Siapa yang tidak mengenalimu?” lelaki itu menatap gemintang fajar. “Aku ke sini karena ingin menyampaikan pesan padamu, karena aku kasihan melihat pandangan kosongmu setiap kali melihat stadion ini. Kau ke sini tiap subuh, eh?”

Fabian tersipu malu. Ketahuan. Ia sengaja mendatangi stadion ini setiap pagi buta agar tak ada seorang pun yang memergokinya.

“Dengarkan baik-baik. Aku hanya akan mengucapkannya satu kali. Kau belum kehilangan bintangmu, Fabian. Kau hanya kehilangan tekad untuk meraihnya. Jangan kau biarkan bintangmu meredup hanya karena kaki lima belas senti, sebelum kau menyesalinya,” pria itu kemudian berbalik, melangkah pergi. Meninggalkan Fabian yang tertegun di belakangnya.

***

“GOOOLLL…!!!” Teriakan-teriakan membahana. Semuanya terasa seperti de javu bagi Fabian. Sorak-sorai, cepretan blitz media, bendera merah putih, lagu Indonesia Raya. Tak ada yang berubah. Yang berbeda hanyalah, ini bukan lagi laga yunior seperti dulu. Ini adalah Piala Dunia yang sebenarnya! Dan lagi-lagi, Fabianlah yang memegang andil besar sehingga negeri ini dapat menjadi juara dunia untuk pertama kalinya. Dua gol yang mengantarkan mereka menjadi pemenang adalah hasil tendangan kaki kirinya.

“Indonesia! Fabian The Magic Leg! Indonesia! Fabian The Magic Leg!” kali ini, entah kenapa, koor di Istora Senayan terdengar kompak, sekalipun tetap tak ada yang mau menjadi konduktor.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s