Komunikasi Cinta Dua Arah

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Gagasan tulisan ini bermula dari diskusi pagi antara saya dan teman sekamar saya yang luar biasa. Memang benar kata pepatah. Pagi hari adalah waktu-waktu yang paling berkah. Rasa-rasanya hampir selalu banyak ilmu dan pemikiran baru yang tercetus begitu saja ketika di pagi hari kami meluangkan waktu untuk berdiskusi. Diskusi ini dibuka dengan pembahasan kami mengenai apa sesungguhnya makna shalat yang kita lakukan setiap hari. Lima kali sehari, mulai langit fajar hingga bermandi cahaya bulan yang tersamar. Demikianlah Tuhan menentukan kewajiban bagi hamba-hambaNya. Pemikiran saya yang kerap menari-nari kemana-mana memang kerap kali mempertanyakan beberapa hal ini di dalam diri: Mengapa manusia diperintahkan untuk beribadah 5 kali sehari? Yang mungkin bagi sebagian orang menjadi terkesan berat dan menjemukan? Dan mengapa pula, shalat menjadi hal terpenting yang dikatakan menjadi tiang agama? 20130128140937524_0001 cropped

Pertanyaan-pertanyaan ini menggiring kami untuk kembali memaknai apa sesungguhnya makna sholat yang hakiki. Kalau bagi saya pribadi, saya lebih suka mengibaratkan shalat sebagai sebuah momen menghadapkan diri kepada Tuhan yang menjadi“charging time” untuk mengisi kembali “koneksi energi” antara seorang hamba dengan TuhanNya, yang mungkin banyak tergerus oleh banyaknya urusan-urusan dunia. Ibaratnya handphone yang membutuhnya daya listrik terus-menerus untuk dapat berfungsi dengan baik, begitu pula dengan manusia. Maka, dibutuhkan suatu mekanisme isi-ulang energy yang kontinu untuk mempertahankan kualitas energy spiritual di dalam diri manusia. Karena itulah, Tuhan memberikan aturan wajib untuk menyembah dan menghadap kepadaNya sebanyak 5 kali dalam sehari. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, agar ia senantiasa mengingat kembali apa tujuan, makna, dan kompas kehidpuannya. Menurut pandangan saya, shalat adalah mekanisme sistem yang dirancang oleh Tuhan untuk menjaga diri dan hati hamba-hambaNya, agar tetap berada di jalan yang lurus dan bisa kembali pulang kepadaNya dalam cahaya. Karena bagaimanapun, banyaknya urusan duniawi seringkali membuat kita terlalai dan terlena dengan berbagai tipu dan fatamorgananya. Namun, teman sekamar saya mengingatkan saya kembali akan sebuah hakikat shalat yang lainnya: komunikasi cinta antara seorang hamba dan TuhanNya. Ah ya, mendengarnya saya menjadi merasa tertampar-tampar di dalam jiwa. Saya takut bahwa selama ini saya hanya “menggombal” di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Saya berkata dan merasa bahwa saya begitu mencintaiNya, mengutamakan cinta kepadaNya daripada segala yang ada di dunia. Jika shalat adalah sebentuk komunikasi cinta, maka sudah seharusnya kualitasnya seminimal-minimalnya seperti jatuh cintanya seorang wanita kepada seorang pria, dan bahkan seharusnya jauh di atas itu. Jika saya mengibaratkan, ketika dua orang manusia jatuh cinta, maka ada beberapa ciri yang saya cermati akan muncul sebagai pertanda:

  1. Panggilan dari dia yang dicinta adalah prioritas kita. Apapun agenda yang ada, maka yang dicinta adalah yang utama. Memenuhi panggilannya adalah hal yang akan didahhulukan ketimbang yang lainnya.
  2. Orang yang jatuh cinta menginginkan untuk bisa bersama-sama dan berkomunikasi berlama-lama dengan dia yang dicinta. Waktu yang kita lalui dengannya adalah waktu-waktu yang paling berkualitas. Tidak ingin melewatkan satu detik pun, dan tak ingin perjumpaan itu segera berakhir. Karena, itu adalah momen yang paling membahagiakan baginya.
  3. Orang yang jatuh cinta akan berinteraksi dengan khusyuk dan khidmat, di mana segala hal di luar dirinya dan orang yang dicinta hanya “mengontrak” saja. Dunia serasa milik berdua, dan yang lain hanyalah pemain figuran saja.
  4. Bagi dua orang yang saling jatuh cinta, maka jika terpisah beberapa jam saja, pertemuan kembali adalah momen yang paling dirindukan dan dinanti-nanti.
  5. Dalam sebuah interaksi dua orang yang baik dan berhasil, dibutuhkan komunikasi dua arah. JIka komunikasi hanya berjalan satu arah, maka koneksi antara keduanya tidak akan terbangun. Komunikasi ini pun harus sering, intens, dan kontinu, untuk memelihara koneksi antara keduanya.

Saya tertegun. Menilik 4 ciri pertama, saya hanya bisa terhenyak dan menelan ludah. Saya khawatir bahwa cinta kepada Tuhan yang selama ini saya agungkan hanyalah sebuah kegombalan semata. Pemanis bibir belaka. Batin saya pun bergulat dalam dialog, merefleksikan apa yang telah saya kerjakan selama ini. Ketika panggilan azan dariNya datang, sudahkah saya benar-benar mendahulukan dan memprioritaskan perjumpaan denganNya? Faktanya seringkali saya justru masih menyibukkan diri dengan pekerjaan lainnya dan menunda-nunda. Tentang memperpanjang waktu perjumpaan, entah dalam shalat, atau dalam duduk pekur setelahnya..? Jangankan memperpanjang waktu, kerap ketika sedang banyak pekerjaan yang menumpuk, maka mempercepat sholat dan momen berzikir setelah shalat pun masih kerap saya lakukan. Tentang khusyuk? Pikiran saya masih kerap melayang dan berimajinasi ke mana-mana ketika shalat. Alih-alih khusyuk dan memaknai bacaan dengan khidmat, saya masih kerap terbayang apa kegiatan yang ingin saya lakukan setelah shalat. Ide-ide baru untuk bisnis, ataupun hal-hal lain yang sesungguhnya tidak begitu penting. Padahal bukankah, ibaratnya seorang yang mencintai kekasihnya, “perjumpaan” itu menjadi sebuah momen paling berkualitas yang paling dinikmati setiap detiknya..? Dan, masalah merindukan perjumpaan, merindukan waktu shalat berikutnya, saya terpekur. Masih begitu jauh jarak antara panggang dari api. Pikiran saya kembali berkelana, dan merasa malu. Jika empat poin pertama saya merasa sudah gugur dari keempat persyaratan itu, maka bagaimana dengan poin kelima? Komunikasi Dua Arah? Maka saya pun kembali bertanya-tanya. Jika Shalat adalah bentuk komunikasi antara seorang hamba dengan TuhanNya, Bagaimana caranya Tuhan berkomunikasi dengan hamba-hambanya? “.. dan membaca Al-Qur’an, adalah anugerah dan mukjizat luar biasa yang diberikan Tuhan kepada manusia, agar manusia bisa menyimak kalimat-kalimat cinta Tuhan kepada hamba-hambaNya,” seloroh teman sekamar membuyarkan saya dari lamunan. Saya tercenung, menatap mushaf ungu di tangan yang seolah memanggil-manggil saya untuk membukanya. Ah ya, komunikasi cinta.. Saya menjadi memahami tentang sedemikian pentingnya memelihara shalat dan membaca Al-Qur’an dalam sehari-hari kita. Itulah mengapa shalat adalah tiang, dan Al-Qur’an adalah cahaya. Karena tanpa keduanya, kehidupan akan terasa begitu hampa, karena tidak sempurnanya koneksi cinta antara keduanya.. Semoga, ah ya, semoga.. Saya, Anda, dan kita semua, diperkenankan dan diberikan keridhaan olehNya, untuk memperbaiki kualitas komunikasi cinta, dan menjadi hamba-hambaNya yang mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun yang ada di dunia.. dalam kerinduan Cinta, 5 November 2014 11:51

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s