Potret Rembulan dan Lelaki Hujan

test

“Boleh saya foto?”

Refleks, aku menoleh, mencari sumber suara di antara bunyi akibat perubahan momentum jarum-jarum air hujan yang menghantam aspal jalanan. Memicingkan mata, mencari sosok yang berbicara di antara selaput kelabu berkecepatan tinggi yang menyelimuti dunia.

Sosok itu berdiri tegap membelah tirai hujan, seolah angin setengah badai yang menggoyang-goyang batang-batang pohon besar di sekitarnya sama sekali tidak membuatnya gentar. Lamat-lamat, aku dapat melihat sebentuk persegi berdimensi di depan dadanya. Sebuah kamera.

Aku hanya bisa menganga dan berpikir apakah aku sudah mulai kehilangan kewarasan. Memang kejadian-kejadian yang menimpaku hari ini begitu sial dan menjengkelkan, namun sepertinya itu bukan menjadi alasan seseorang dapat begitu saja memetik kegilaan. Handphone lowbatt dan mendadak mati, hujan deras tumpah tiba-tiba, payung terbalik dan terbawa angin, resliting tas rusak mendadak, baru saja diberi ‘hadiah’ pola tambahan kecokelatan di baju seragam gara-gara mobil Nissan sialan, dan sekarang… seorang lelaki aneh berdiri di hadapan dan minta izin untuk melakukan pemotretan? Yang benar saja.

Aku baru saja berniat menganggapnya halusinasi dan berlalu pergi ketika suara bariton yang entah bagaimana bisa menggetarkan relung-relung di dada—yang bahkan mengalahkan amplitudo getaran yang diakibatkan dentuman petir yang membahana nyaris setiap menitnya—kembali menggetarkan udara.

“Boleh saya foto?”

Aku memasang ekspresi linglung, dan dan tiba-tiba saja sebuah kilatan cahaya terasa membasuh wajahku. Bukan petir, tentu saja. Terlalu dekat dan terlalu terang cahayanya. Dalam sepersekian detik yang membingungkan, aku melihatnya tengah membidik dan meletakkan jemari di tombol pojok kanan kamera.

Apaaa?

“Ah, bagus sekali. Terima kasih,” lelaki itu tersenyum, lalu berbalik dan kembali ditelan selaput kelabu keperakan.

Hei! Apa-apaan ini!

***

“Kau dari mana saja, jelek?” tampang Zenith yang kusut dan cengiran jailnya menyambutku begitu aku menampakkan diri di depan pintu.

“Argh. Diam kau, bukakan saja pintunya. Sudah cukup penderitaanku hari ini.”

“Tahukah kau kalau kau tampak seribu kali lebih jelek, HITAM?”

“Tutup mulut! Seperti kau putih saja!” aku mendengus, membuang muka, berusaha meredam amarah yang mulai mendidihkan jiwa. “Cepat buka!”

“Aku lelaki, kau tahu, dan kau perempuan,” Zen masih saja tidak seperti berniat membukakan pintu, malah memainkan kunci di tangannya dengan muka sok-tahu-nya yang menjengkelkan itu.

Sungguh, aku ingin menelannya hidup-hidup.

“Oh? Jadi menurutmu, seorang perempuan harus putih, begitu?” sembari menekan emosi, aku berusaha mengikuti permainannya. Setidaknya mungkin itu akan membuatnya membiarkanku masuk dan segera mandi.

“Tentu saja. Apalagi namamu rembulan, bukan begitu, Kak? Rembulan dengan sinar putihnya yang cemerlang, tentu saja seharusnya kau berkulit putih bersinar. Aku pikir bahkan kau tak pantas menyandang nama itu.”

Aku menggeram. Cukup!

“Weh, gembeng. Masa begitu saja kau menangis?” Zen memasukkan kunci ke lubang dan memutarnya, menimbulkan suara ‘klek’ dua kali, menandakan aku sudah bisa berlari masuk, dan membanting pintu tepat di depan mukanya.

“Ssshhh,” aku berdesis jengkel. Sungguh, aku perlu mengerahkan seluruh kemampuan pertahanan emosiku untuk tidak menelannya hidup-hidup.

Baru saja aku mau membanting pintu keras-keras—tak peduli mama akan mengomel tentang polusi suara atau rumah yang akan runtuh seketika—ketika Zenith menyatakan sesuatu yang sangat ganjil.

“Apa?” aku bertanya minta konfirmasi, lupa akan magma emosi yang sudah bersiap bertransformasi menjadi lava.

“Ada paket untukmu. Amplop coklat di atas meja makan.”

Aku mengernyit. Paket? Ataukah hasil pengumuman beasiswa ataukah pengumuman lomba esai yang kuikuti kemarin? Tapi tidak mungkin sedini ini. Baru satu minggu.

“Apa isinya?”

“Mana kutahu. Atau kau lebih senang jika aku mengeceknya terlebih dahulu?”

Aku mendengus. “Tentu saja tidak,” penarasan, tanpa peduli bahwa aku mencipta jejak tetesan air di lantai, aku melangkahkan kaki lebar-lebar menuju ruang makan.

Tak ada nama pengirim, bahkan tak ada alamat rumahku maupun namaku yang tertera di amlopnya. Aneh sekali. “Siapa pengirimnya? Dari mana kau tahu ini untukku?” Aku meletakkannya setengah kecewa. Sudah pasti bukan pengumuman lomba ataupun daftar penerima beasiswa. Bahkan aku sangsi Zen tidak menipuku.

Zen mengedikkan bahu. “Seorang lelaki memberikannya kepadaku dengan terburu-buru sekitar sepuluh menit sebelum kau tiba di depan pintu. Dia hanya mengatakan, “untuk rembulan”, lalu buru-buru pergi sebelum aku sempat bertanya siapa namanya. Aneh sekali.”

Aku hanya bisa mengernyit. Sungguh ganjil. “Kau tidak sedang menipuku atau semacamnya kan?” aku melirik kalender, tanggal 28 Maret. “Untuk April Mop terlalu dini, kau tahu?”

“Yang benar saja. Aku tidak seimajinatif itu untuk menciptakan khayalan bahwa seorang lelaki tanpa payung maupun jas hujan, di tengah hujan badai begini mengetuk pintu rumah kita hanya untuk mengantarkan amplop coklat tak bernama dengan pesan ‘untuk rembulan’.”

Aku terperangah. Tidak masuk akal, bahkan jika dipandang dari sudut manapun. Tapi, tunggu, jika ceritanya benar, maka ada yang lebih ganjil lagi.

“Hei! Lalu kenapa amplopnya sama sekali tidak basah? Sudah pasti kau menipuku. Mungkin amplop ini berisi ular kering atau semacamnya” aku tersenyum menang, merasa menemukan celah kebohongannya, “Kau perlu trik yang lebih baik lagi jika mau menipuku.”

“Terserah kau saja mau percaya atau tidak. Tapi yang dia lindungi hanya amplop ini. Bahkan dia tidak peduli dia sendiri basah kuyup dan kameranya terkena hujan. Mungkin waterproof,” Zen mengedik bahu. “Aku benar-benar penasaran apa isinya. Sepertinya begitu penting hingga harus diantarkan dengan cara seperti itu. Jika kau tidak mau, sini, untukku saja,” Zen sudah mengulurkan tangan untuk mengambil amplopnya sebelum secara reflek aku menyambarnya dan mendekapnya erat-erat.

Well, Sepertinya kau masih menginginkannya. Baiklah, jangan lupa beritahu aku apa isinya setelah kau membukanya,” Zen melenggang pergi ke kamarnya, dan sepertinya hendak kembali berkutat dengan game Warcraftnya, seperti biasa. “Oh ya, sepertinya lelaki itu pemuja rahasiamu atau semacamnya,” Zen nyengir jail dari balik pintu.

Mendadak aku merasakan pipiku memanas, “Main game saja sana!”

Terdengar pintu berdebam dan kekehan tertahan.

Tunggu, apa yang dia bilang tadi? Kamera?

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s