Setetes Air

 

“Setiap bagian air adalah molekul. Dan setiap molekul air adalah kristal yang indah dan berkilauan.”

Silau. Aku sedikit mengernyit dan memicingkan mata. Pendar – pendar cahaya menyilaukan membungkus diriku. Perlahan tapi pasti, aku dapat melihat wujud asli dari pendar – pendar cahaya tadi. Berjuta – juta kristal. Benar. Kristal – kristal yang sangat indah dengan enam tangkai simetris berbagai motif yang mengeliligi bentuk dasarnya yang juga beragam. Tak ada kristal yang sama. Tapi mereka tetap terungkapkan dengan satu kata. Mempesona. Begitu pula denganku. Tak berhenti kusucikan nama-Nya ketika melihat agungnya penciptaan-Nya atas diriku. Bersyukur diciptakan oleh-Nya di sini. Di mata air zam – zam. Yang menjadi surga dunia bagi Nabi Ismail AS dan ibundanya tercinta, Siti Hajar. Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah…

air kristal

“Assalamualaikum…”

Sebuah sapaan hangat memutus lantunan tasbihku. Sebuah kristal lain—dengan bentuk utama bintang bersudut enam bertumpuk tiga dengan enam tangkai bercabang indah di setiap sudutnya—tersenyum ke arahku.

“Waalaikumsalam…”

“Terpesonakah dengan tubuhmu?”

Aku terperangah. Bagaimana dia bisa tahu?

“Aku juga begitu,” ucapnya sebelum sempat kuluncurkan satu patah kata. “Tetapi itu dulu…kini aku sudah terbiasa dengan kilaunya.”

“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Duluuu sekali aku pernah berada di sini. Lalu aku diambil oleh tangan – tangan manusia yang membawaku ke tempat yang jauh di belahan bumi yang lainnya.”

“Lalu? Bagaimana bisa kamu kembali ke sini?”

“Melalui proses daur air tentunya. Sunatullah-Nya.”

“Daur air? Bagaimana itu bisa terjadi?” tanyaku penuh minat. Tak bisa kubayangkan air bisa berpindah dari suatu tempat ke tempat lain lalu kembali ke tempat semula. Apakah terbang?

“Rumit. Sangat rumit dan panjang prosesnya. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Nanti kau akan merasakannya sendiri ketika tangan – tangan manusia dengan bejana – bejana meraihmu,” jelasnya.

Aku menjadi bersemangat membayangkan perjalananku nanti. Tubuhku semakin berpendar – pendar.

“Tetapi… mungkin kristalmu akan semakin memburuk—maksudku, kristalmu di perjalanan nanti takkan seindah kini,” lanjutnya lagi.

“Semakin memburuk?” ulangku tak percaya.

“Ya, benar. Itu adalah hal yang lazim terjadi ketika kamu meninggalkan mata air zam – zam. Karena berbagai hal tentunya.”

“Contohnya? Dan bukankah… kristal air zam – zam adalah kristal air yang terindah dibanding yang lainnya?”

“Betul sekali. Kau bersemangat sekali, ya. Yah… ada berbagai hal yang manusia lakukan yang bisa membuat kristalmu kehilangan kilaunya. Contohnya saja, berdasarkan pengalamanku—“

Belum sempat kudengar kelanjutannya, sebuah bejana putih mengangkatku. Memisahkanku dari kristal yang tadi mengajakku bicara. Sempat kudengar teriakannya,

“Selamat menikmati perjalananmu, bung!”

***

Aku dituang ke sebuah gelas kecil indah dengan ornamen bunga – bunga keemasan disekelilingnya. Seorang kakek berjanggut putih panjang dengan baju yang sama putihnya menghujaniku dengan ayat – ayat suci Al-Qur’an. Tubuhku semakin berpendar bercahaya. Ucapan kristal bintang enam tadi tidak terbukti. Buktinya, tubuhku kini semakin menunjukkan kilaunya Aku ikut berzikir mengiringi ayat suci Al-Qur’an yang terlantun syahdu dari bibir kakek berjenggot tadi.

“Bismillahirrahmanirrahim….” ucapnya lembut.

Aku diangsurkannya kepada seorang gadis yang tampak keras wajahnya. Tatapannya sedingin es, sinis, merendahkan, dan sama sekali tidak bersahabat.

“Aku hanya perlu meminumnya kan, Kek,” ucapnya ketus.

Entah mengapa, aku merasa kilauku sedikit berkurang. Inikah yang kristal bintang enam katakan tadi?

“Ya, dan jangan lupa baca basmalah. Dan jangan minum sambil berdiri dan berkacak pinggang semacam itu.”

Tapi gadis itu tak menghiraukannya. Ia menegukku cepat tanpa perasaan, tanpa bismillah, dan tetap sambil berdiri.

Aku meluncur turun dari mulut, kerongkongan, lalu ke lambung. Di sana aku menemukan kristal lain, yang anehnya, sama sekali tidak berkilau.

“Kenapa kau begitu pucat?” tanyaku khawatir.

“Gadis ini selalu berkata kotor, mengumpat, dan melaknat,” ucapnya sedih di antara lantunan tasbihnya yang lesu.

Aku hanya tersenyum kecut, dan mendapati tubuhku yang semakin kusam, lebih kusam daripada saat masih berada di luar tadi. Aku termenung sedih. Akankah nanti aku seperti kawanku ini?

Aku kembali meneruskan perjalananku bersama kristal pucat tadi. Menuju duodenum, ileum, dan jejunum, lalu terserap di usus besar, melesat cepat bersama plasma darah, dan tahu – tahu, berada di dekat mulutnya yang mungil.

Shit!” ucapnya kasar. Kilau kristalku memudar lagi. Entah berada di mana gadis ini sekarang. Tapi tampaknya sudah jauh dari kakek berjenggot tadi. Karena aku yakin, gadis ini—sekalipun kasar, tak akan sampai hati membentaknya.

“Tak sudi aku menjadi anakmu!!!”

Aku mendadak kusam. Kilau tak lagi sudi bersemayam. Tak tahu apa bentukku sekarang. Jelek. Hanya berbentuk bulat lonjong. Uuhhh….

Kurasakan gadis ini berlari, masuk ke dalam sebuah ruangan, dan membanting pintu. Musik menghentak yang memekakkan telinga menyambutku. Membuatku terheran – heran mengapa gadis ini tidak sakit telinga mendengarnya.. Sebuah teriakan lembut namun pedih memilukan memperingatkannya untuk mengecilkan volume. Sebaliknya, ia malah membesarkan volume dan semakin berteriak – teriak gila.

Oh, tidak! Aku benar – benar jelek kini. Tak berupa. Bahkan bulat lonjong pun tidak. Aku menangis sejadinya. Memohon pada Sang Penguasa agar aku dikeluarkan dari tubuh gadis kasar ini.

Dan hal itu tiba – tiba saja terjadi. Aku menguap naik. Naik… terus membumbung tinggi… Menjadi uap air… Terbawa angin… Berkumpul di langit dengan kristal lain, yang lalu mengembun, membentuk air kembali. Kemudian turun… turun jauh ke bawah… Lagi – lagi bertemu dengan kumpulan air, kali ini cokelat warnanya.

“Hai, bung!” sapa setetes air coklat di sebelahku. Tubuhnya kusam, sekusam warnanya.

“Ah, hai…” sapaku lemah.

“Tak bersemangat? Yah, maklumlah… Kau tak akan berkilau di sini.”

“Ah, ya…” sahutku tak tertarik. “Sudah lamakah kau berada di sini?”

“Lumayan. Dan keadaannya semakin memburuk dari hari ke hari. Aku tak pernah menjadi lebih berkilau dari hari sebelumnya. Walau tubuhku tak bisa disebut berkilau.”

Aku mengamatinya dan menyetujui ucapannya. Seluruh tetes air menjadi buruk di sini.

“Manusia – manusia itu… Ah, ya… merekalah yang membuat kami menjadi begini. Dicekoki sampah dan limbah setiap hari. Padahal dulunya, kilauku indah tak terkira,” gerutunya sendu.

“Memangnya dulunya kau berasal dari mana?”

“Mata air Pegunungan Alpen. Kristal – kristal air begitu indah di sana.”

Dia tampak menerawang. Aku manggut – manggut saja.

“Dan…Mmm.. Kau?”

“Oh, aku. Aku berasal dari mata air zam – zam.” jawabku tersipu.

Dia terbelalak.

“Ooww…Aku tahu! Kristal air terindah berasal dari sana!” matanya berbinar – binar iri.

“Yah, begitulah.” aku merendah. “Tapi toh akhirnya aku berakhir disini juga.”

“Ya, benar. Semuanya gara – gara ulah manusia…”

Tak berselang lama lagi – lagi aku ditarik naik oleh sebuah bejana. Kali ini berukuran lebih kecil dari yang sebelumya. Aku dibawa berayun – ayun menuju pemukiman kumuh, yang kebanyakan orang – orangnya—yang kulihat dari balik bejana plastik bening ini—berpakaian kumal dan tak bersih sama sekali. Aku sudah siap apabila nanti bentukku semakin tak teridentifikasi lagi.

Aku meluncur turun lagi. Setumpuk pasir dalam bejana plastik lain menyambutku. Membelaiku lembut yang memang terjun menyapanya. Melewati berbagai material bumi yang kutahu—pasir, kerikil, batu – batu besar, arang, sabut, dan terakhir, kapas.

Ajaib! Aku kembali jernih dan berkilau! Tak lagi berwarna cokelat menjijikkan seperti tadi. Dan kristalku, sedikit demi sedikit menampakkan dirinya. Kulantunkan puja dan puji hanya untuk-Nya yang telah mengembalikanku ke wujud semula. Ingin rasanya kucium penuh cinta manusia yang membawaku kemari. Seorang lelaki remaja berambut kuncung berbaju kumal dan berwajah tercemong belanga.

“Mak… kemarilah mak… aku berhasil mendapatkan air jernih mak…”

“Alhamdulilah nak… darimana kau dapatkan cara itu?”

“Dari sekolah mak…”

“Ah, tak percuma aku menyekolahkanmu sampai titik darah penghabisanku. Uhuk, uhuk…”

“Kenapa, Mak? Mak sakit?”

“Ah, tidak, Mak hanya capai. Minumlah air itu, Nak. Itu kan hasil jerih payahmu.”

“Tidak Mak, ini untuk Emak saja. Sudah lama kita meminum air coklat menjijikkan itu. Dan sudah sepantasnya kita meminum air bersih seperti warga gedongan di sebelah, Mak.”

“Ah, terimakasih, Nak. Uhuk uhuk… Bismillahirrahmanirrahim…”

Dan aku kembali meluncur turun… Jauh… Jauh ke dalam. Namun dengan kristal yang berpendar sempurna. Hasil dari cinta dan terimakasih. Yang membuat seorang Ibu kumal beruban, ikut berpendar bercahaya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s