Tentang Remasan dan Remahan

Sungguh ironis, memang. Tak pernah sekali pun kita mensyukuri hidup ini. Yang ada hanyalah keluhan dan cercaan. Hidup terasa bunuh diri tak mati – mati. Bahkan, oksigen yang kita hirup setiap harinya seperti tak pernah memberikan kebahagiaan. Eritrosit yang mengalirkan kehidupan setiap detiknya dianggap hanya dusta belaka. Mulut yang selalu melancarkan ketidakpuasan seolah lupa, bahwa penunjang hidupnya, baru saja masuk dari sana.

semut

“Kau menggerutu lagi,”semut berkata tanpa berpaling. Tetap menekuri remah rotinya di atas meja.

“Ah, biarlah. Toh, memang begitu adanya. Hidupku selalu menderita. Apa salahnya menggerutu? Itu hakku. Dan kau tidak bisa melarangku,”gadis itu menghardik, meremas – remas kertas di hadapannya.

“Memang. Dan aku tidak melarangmu. Hanya memperingatkanmu.”

“Huh, tahu apa kamu? Kamu hanyalah seekor semut. Tak tahu pahit getirnya hidup. Hidup manusia, maksudku. Kau semut hanya mencari remah roti, membawanya ke sarangmu, menyerahkannya pada ratumu, makan, tidur… Tak pernah sekali pun kau berkenalan dengan kemiskinan.”

“Ho? Jadi kali ini cuma masalah materi?” semut menaikkan sebelah alisnya. “dan, ingat… kami para semut tak seperti yang kamu pikirkan! Kami ini adalah hewan yang—“

“Penuh kerjasama, tolong menolong, ramah karena selalu memberi salam bila bertemu, tak boleh dibunuh seenaknya, hewan yang perlu diteladani oleh manusia, dan bahkan tercantum dalam Al-Qur’an! Bosan aku mendengarnya!”gadis itu memotong cepat. “Dan itu bukan hanya ‘Cuma’!”gadis itu berang, membuang remasan kertasnya tepat kearah semut.

“Whoa! Kau ingin membunuhku?”semut sigap mengelak. Memperpanjang masa hidupnya.

“Ya! Karena kamu selalu menggangguku! Memberiku ceramah – ceramah panjang tak penting tentang syukur! Kau tahu? Aku bisa menghasilkan banyak uang selama kau ceramah bak ustadzah di pengajian ibu – ibu!”

“Coba saja, kau pasti tak akan mampu membunuhku! Dan tahukah kamu? Jika kamu terus menggerutu seperti itu, alih – alih uang mendekat padamu. Berkenalan saja mereka tak mau,”semut menyingkir, menghindari amukan susulan.

“Kau mulai lagi,”gadis itu mendesah lelah, terhempas di kursinya yang berlubang – lubang dimakan rayap.

“Kau tak jadi membunuhku?”semut mendekat perlahan, merasa gadis itu kembali bersahabat.

“Nanti saja. Buang – buang tenaga membunuhmu. Lagi pula…”ucapan gadis itu terputus. Seperti ragu akan melanjutkan kalimatnya. “Aku membutuhkan teman sekarang,” mendadak semburat semu merah muda bermunculan di pipinya.

“Aha! Kau mulai jujur rupanya,”semut tersenyum simpul.

“Tidak!” gadis itu membantah cepat. Namun semburat – semburat merah muda lainnya tak sependapat dengannya. Seperti ingin melawan, mereka semakin riang menampilkan diri ke permukaan. “Ah, sudahlah. Terserah kau saja.”

“Haha. Kau sudah menyerah rupanya. Dan lagi, mengapa harus malu jika berkata jujur?”

“Entahlah,” suara gadis itu terdengar jauh.

“Kau merasa lebih baik sekarang?”

“Ha? Apa maksudmu?” gadis itu bingung. Ia menelengkan kepalanya.

“Yah, apakah kau merasa lebih tenang? Tidak bergemuruh seperti tadi?”

“Ah, aku tak mengerti benar maksud ucapanmu. Tapi, tampaknya, ya…”gadis itu berkata tak yakin.

“Baguslah. Itu salah satu dampak positif kejujuran.”

“Lagi – lagi aku tak mengerti.”

“Kau tak perlu mengerti. Kau hanya perlu berkata jujur. Cukup.”

“Ah, tak tahulah…”suara gadis itu mengambang. Seperti akan melanjutkan kata – katanya. “tak ada satu pun yang mau menerima cv-ku…”

“Oh, jadi itu masalahnya?”

“Ya…. Aku butuh uang. Untuk makan, untuk hidup…Tapi aku tak mendapatkan pekerjaan apa pun…”

“Kenapa kau tak mengemis saja? Atau mengamen misalnya?” semut bertanya penuh selidik.

“Tak mau. Tak baik meminta – minta sementara kau masih memiliki kemampuan di bidang lain. Dan lagi… aku sarjana… mana mungkin aku meminta – minta.”

“Walaupun itu halal?”

“Ya, karena seharusnya aku memberi, bukan meminta.”

“Bagus.”

“Apanya?”

“Kau sudah mengerti konsep memberi.”

“Ha?”

“Sudahlah. Mungkin kau hanya kurang ikhlas, tawakkal dan bersyukur?”

“Ah, yang benar saja, aku sudah pasrah setiap aku mengajukan cv.”

“Bukan pasrah, tapi tawakkal. Kalau pasrah, kau tak mengusahakan apa pun. Kalau tawakkal, kau telah mengusahakan sesuatu. Walaupun hanya berdoa.”

“Aku juga sudah berdoa! Bahkan berkomat – kamit panjang sebelum kuserahkan cv ku.”

“Ya, berdoa. Tapi lagi – lagi tidak disertai dengan keikhlasan. Kau berdoa karena kamu menginginkan materi. Menginginkan pekerjaan.”

“Lalu aku harus menginginkan APA?”gadis itu menggeram. Tak sabar dengan penjelasan semut yang terlalu berputar – putar.

“Ridha-Nya. Tentu saja. Mintalah Ia meridhaimu mendapatkan pekerjaan itu.”

“Oke. Baiklah, akan kuikuti saranmu,”gadis itu memutar matanya. “Lalu, syukur? Bukankah aku sudah selalu bersyukur?”

“Selalu? Yang benar saja. Yang ada kau selalu mengeluh dan menggerutu. Tahukah kau, jika kamu—“

“Mengeluh di pagi hari kepada sesama manusia, sepertiga agamamu akan berkurang. Ya, ya. Dialog itu lagi,”gadis itu memotong bicaranya lagi.

“Yah, kau sudah hafal rupanya. Tapi kenapa hanya kau hafalkan saja? Tidak kau terapkan, begitu?”

“Ah, sudahlah! Dan lagi aku tidak menggerutu di pagi hari, tapi siang hari.”

“Apa bedanya?”

“Kau yang tahu itu, uztadzah!”

“Hah, susah sekali bicara padamu,” semut itu beranjak, memikul remah rotinya. “Aku mau ke sarangku. Memberikan ini pada ratuku, makan, tidur, seperti yang kau katakan tadi,”semut semakin meninggikan pikulannya. Bersiap pergi. “Dan jangan rindu padaku.”

“Hah! Tak akan!” gadis itu berkacak pinggang dan memalingkan mukanya. Menunjukkan keangkuhannya.

“Oke, kalau begitu. Selamat tinggal…”semut berjalan menjauh dengan langkahnya yang kecil. Agak tertatih dengan beban di punggungnya.

Gadis itu tampak bimbang, beberapa bulir keringat membasahi telapak tangannya.

“Nggg… memangnya, kau mau ke mana?”

Semut menghentikan langkahnya. “Ke sarang ratuku, tentu saja.”

“Emmh…. Maksudku… apakah kau… akan… nggg….”ia tergeragap.

“Kembali lagi kemari?” sambung semut cepat. “Aha, aku tahu, kau akan merindukanku? Tak rela aku pergi?” semut tersenyum menggoda.

Gadis itu hanya diam. Meremas tangannya. “Kau akan kembali lagi kan?”

“Entahlah. Kau sepertinya tak membutuhkanku lagi. Dan lagi, sebentar lagi ratuku akan bertelur. Aku yang semut pekerja pasti akan repot. Kenapa?”

“Tak apa. Hanya saja… mungkin… aku akan merindukanmu…”gadis itu berkata lirih. Hampir pada dirinya sendiri.

“Oh, lagi – lagi kau jujur pada dirimu sendiri. Sudah dua kali pada satu hari ini.”

“Mungkin….”

“Mungkin? Itu benar – benar terjadi, He?”

“Ah, tak tahulah. Sana pergi. Ratumu sudah menunggu.”

“Kau mengusirku? Baiklah jika itu memang maumu.”

“Bukan begitu…”

“Tak apa. Selamat berjuang dengan cv mu. Semoga berhasil…”semut tersenyum. Senyum perpisahan.

“Hei, aku akan melihatmu lagi kan? Mengobrol lagi denganku?”

“Mungkin…”semut berlalu pergi dan menghilang di balik lekukan meja.

***

Siang itu angin berhembus perlahan, seperti akan membelai jiwa setiap anak manusia. Menghapuskan gelisah panas dari dalamnya dan meninggalkan kesejukan sempurna. Di antara bisikan angin, sehelai daun dengan titik hitam di tengahnya melayang – layang, menari mengikuti irama angin. Akhirnya jatuh… terhempas di tepi jendela kayu yang terbuka. Tepat di hadapan seorang gadis yang termenung memandang langit tak berawan. Gadis dengan binar mata bak danau di tengah hutan. Teduh. Dalam. Menentramkan.

“Bolehkah aku singgah di sini? Matahari terik sekali hari ini.”

Gadis itu tergeragap. Mencari sumber suara.

“Ah, ternyata seekor semut. Boleh saja. Kenapa tidak?”

“Terimakasih kalau begitu.”

“Tidak masalah,”ucapnya tanpa berpaling.

Lalu pembicaraan tergantikan oleh hening. Bahkan suara angin yang menggesek dedaunan enggan melantunkan melodinya.

”Ehm, kalau aku boleh tahu, apa yang membawamu sampai kemari? Tadi kau terbang, eh?”gadis itu berbasa – basi membuka pembicaraan.

“Maksudmu, dengan apa aku terbang, begitu? Kau lihat daun ini kan?”

“Yah, bukan begitu juga sebenarnya. Maksudku, kenapa kau sampai jauh-jauh terbang kemari? Bukankah panas – panas begini lebih enak mendekam di sarangmu?”

“Yah, awalnya aku memang terbang terbawa angin. Tapi aku memang ingin mengunjungi seorang kawanku di sini.”

”Kau punya teman di sini juga? Ah, melihatmu, aku jadi teringat seorang temanku dulu…”gadis itu menerawang, memandang jauh ke puncak langit.

“Seorang teman? Seekor semut maksudmu?”

“Yah, begitulah. Walaupun dia sangat cerewet dan menyebalkan, entah mengapa aku merindukannya…”

“Kau benar – benar merindukannya?”

“Sangat. Rindu bukan bualan. Berhari – hari aku menantinya di sini. Namun ia tak kunjung datang… Entah masih hidup atau sudah mati terinjak manusia…”gadis itu menatap semut sendu. Ada sedikit pengharapan tersembunyi di sorot matanya. “Ah, dia juga mirip kau… seekor semut hitam…semut pekerja…tapi dia betina.”

“Aku juga betina.”

“Oh! Maaf kalau begitu. Sampai sekarang aku belum bisa membedakannya,”gadis itu tersenyum. “Kalau begitu… kau benar – benar mirip dengannya…”gadis itu menerawang lagi. Entah untuk keberapa kalinya. “Aku titip salam jika kau bertemu dengannya. Bilang saja dari gadis di balik jendela. Ah, salah. Bilang saja dari gadis penggerutu, begitu. Dia pasti mengerti.”

“Baiklah… Tapi, mmm… maaf, aku tak tahu mana semut yang kau maksud. Bukankah semua semut sama?”

“Yah, tentu berbeda yang hitam dan yang merah. Yang besar dan yang kecil.”

“Yang hitam, maksudku.”

“Hhh. Kau benar. Sampaikan saja pada setiap semut hitam yang kau temui. Yang sama sepertimu tentunya. Betina. Kecil. Pekerja. Oh, ya, mungkin lebih baik jika kau sampaikan pada semut yang suka berceramah, cerewet, dan suka menasehati.”

“Baiklah kalau begitu. Tapi kalau aku boleh tahu, kenapa kau begitu ingin bertemu dengannya?

“Karena dia mengajariku bagaimana cara bersyukur, ikhlas, dan tawakkal. Oh, ya. dia juga mengajariku ramah tamah, kerjasama, dan segala sifat semut lainnya,”gadis itu sedikit tersipu. “Dan dia… juga mengajariku kejujuran. Sampai akhirnya… aku mendapatkan pekerjaan, dan…”gadis itu menggantung kalimatnya lagi. “sebuah keluarga,”kini wajah gadis itu menjadi semerah langit senja. “Aku ingin berterimakasih padanya…”gadis itu menunduk. Tampak ingin menyembunyikan wajahnya.

“Mm… maaf… tapi….”

“Kenapa? Kau tak bersedia menyampaikannya?”buru – buru ia menegakkan wajahnya. Memandang penuh permohonan.

“Bukan. Hanya saja…”

“Apa?”

“Bagaimana kalau aku bilang semut itu aku?”

Gadis itu terdiam, memalingkan muka. Dan kembali menatap langit yang masih tak berawan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s