Teruntuk Suamiku Tersayang#1

06

Bismillahirrahmanirrahim,

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang..

Tulisan ini adalah tentang pembicaraan menjelang tidur kita tadi malam. Tentang bagaimana pertumbuhan ekonomi yang melemah, harga-harga yang semakin tinggi, dan kebutuhan yang semakin meningkat dari hari ke hari. Aku sungguh paham, sayang. Kekhawatiranmu sebagai kepala keluarga yang memiliki tanggungjawab terbesar akan kecukupan rezeki bagi keluarga. Aku pun sungguh paham, ketika alur logika merujuk pada sebuah kesimpulan: bahwa pilar-pilar ekonomi keluarga harus dengan cepat dikokohkan sebelum suatu saat nanti, Tuhan berkehendak untuk menitipkan sebuah amanah luar biasa kepada kita berdua: menuntun anak manusia untuk kembali kepada TuhanNya dalam keadaan bercahaya. “Karena pendidikan terbaik, tidak membutuhkan biaya yang sedikit,” demikian argumenmu bertutur. Dan aku pun sepenuhnya sepakat. Pergaulanku dengan ibu-ibu di berbagai ranah membuatku belajar bahwa biaya pendidikan hari ini sungguh tinggi sekali. Bahkan di salah satu sekolah swasta terbaik di Jakarta, untuk uang masuknya saja sudah mencapai 60 juta dan biaya spp bulanan 3,5 juta rupiah. Sungguh mengerikan bahwa biaya Sekolah Dasar terbaik saat ini jauh lebih mahal daripada biaya kuliah saya dan suami dijadikan satu.

Namun, di balik semua itu, aku memiliki keyakinan bahwa rezeki bukanlah hal paling utama yang perlu dikhawatirkan. Aku, dan aku pun yakin kamu pun begitu sayangku, adalah tipikal orang yang by default cenderung tidak terlalu mengkhawatirkan masalah rezeki. “Rezeki itu unik. Semakin kita pikirkan dan khawatirkan, maka lajunya semakin lemah. Namun semakin kita tidak memikirkannya, semakin kita ringan tangan dan ringan hati untuk memberi, selalu ada rezeki yang datang di arah yang tidak disangka-sangka,” demikian selorohmu pada suatu masa. Ah ya, tidakkah kau ingat, sayang? Bahwa sepanjang perjalanan kita, rezeki senantiasa dekat dengan kata “keajaiban”? Mulai dari penyelenggaraan walimah pernikahan kita. Kami (aku, mamah, dan bapak), hanya memiliki niatan baik untuk memuliakan tamu dengan cara terbaik. Mengingat banyaknya kerabat dan rekan sejawat yang akan datang jauh-jauh dari berbagai kota. Begitu banyak keajaiban yang datang tiba-tiba. Sehingga kita bisa memiliki sebuah kenangan yang sangat manis sedemikian rupa. Sebuah hal yang sesungguhnya sangat tidak mungkin dilakukan jika diukur dengan logika ekonomi kami sehari-hari. Ah ya, tidakkah kau ingat, sayang? Ketika di malam kedua pernikahan kita, kita berdiskusi di salah satu foodcourt mall di Semarang, mengenai perencanaan keuangan bulanan. Hitung-hitungan kasarku mengatakan: pendapatan bulanan kita hanya cukup untuk kebutuhan dasar dan itu pun dengan gaya hidup sangat minimal alias super hemat. Namun ternyata Allah memberikan keajaibanNya. Dengan pengeluaran yang nyaris 3 kali lipatnya di bulan pertama, kita bahkan masih bisa memiliki tabungan :” Ah ya, tidakkah kau ingat, sayang? Siapa yang menyangka bahwa pendapatan selama 3 bulan setelah pernikahan bisa sedemikian mengalami perlipatan bahkan lebih dari 10x lipat biasanya?

Bukankah memang tiada yang lebih benar daripada janji Allah?

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang mampu dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Maka, begitu pula sesungguhnya dengan anak. Aku paham, sayang. Bahwa dengan tanggungjawab dan kewajibanmu, maka kekhawatiranmu akan hal ini menjadi semakin besar. Namun bukankah, sejauh ini sepanjang perjalanan, bahkan selama kita berdua masih membujang, kita sering membuktikan dengan mata kepala sendiri? Bahwa janji Allah, adalah yang paling benar.

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud [11]: 6).

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (QS Ar-Rum (60):37); juga tercantum dalam Al-Baqarah: 245, Ar-Rad:26, Al-Isra:30, Al-Ankabut:62, Saba: 36&39, Az Zumar: 52, As Syuuara: 12)

Bukankah dengan banyaknya perulangan di dalam Al-Qur’an, yang aku temukan adalah 9 kali, tidakkah itu berarti bahwa itu adalah janji yang sudah sedemikian pasti? Tugas kita sebagai manusia adalah memenuhi kriteria manusia yang dikehendakiNya: taqwa, bekerja keras, sedekah & zakat lancar, dan sebagainya..

Maka, aduhai suamiku tersayang. Sungguh apa yang dinda khawatirkan bukanlah tentang rezeki yang kurang. Namun apakah kita (terutama aku sendiri), sudah memiki kualitas yang cukup dan cakap untuk menjadi orangtua? Menjadi seorang ibu? Menjadi seorang ayah? Karena sungguh, sebaik-baiknya kualitas pendidikan di sekolahan semahal apapun, kunci utama dalam pendidikan anak terletak pada kedua orangtuanya. Apakah kita, sudah memiliki cukup ilmu untuk menjadi orangtua? Apakah kita, sudah bisa menjadi teladan terbaik bagi anak-anak kita nantinya? Baik dari segi ibadah, karakter, mental, dan hati? Apakah saya sudah bisa menjadi pemimpin yang baik untuk diri sendiri menuju Tuhan, hingga bisa membawa satu amanah lagi kembali kepadaNya? Ah ya, mempertanyakan ini, sungguh membuat dinda ingin menitikkan air mata.. Betapa kurang dan banyak cacatnya lah saya untuk menyandang sebuah amanah besar bergelar “ibu”..

Ibarat orang ingin naik gunung, maka bekal harus dipersiapkan dengan matang. Baik secara fisik dengan berbagai latihan, bekal ransum makanan, maupun doa dan berbagai persiapan lainnya. Dan menjadi orangtua, adalah sebuah perjalanan panjang. Proses mendidik yang panjang sepanjang usia, bukan hanya di kelas training 1-2 hari yang bisa kite lakukan. Memasuki jenjang pernikahan dan menjadi istri/suami adalah sebuah tanggungjawab yang besar. Dan menjadi orangtua, memikul tanggungjawab yang lebih besar lagi.. Bagaikan seekor burung dengan sepasang sayap, parenting akan menjadi optimal jika kedua sayap bergerak dalam sinergi untuk sama-sama mengepak. Sama-sama bergerak dan memperjuangkan sesuai dengan peranan dalam pendidikan..

Ah ya, akhir kata. Saya ingin mengutip sebuah nilai pembelajaran dari mama tercinta. Bahwa dalam menjadi orangtua, ataupun dalam hal apapun, jangan pernah mengandalkan diri sendiri. Bukan kitalah yang kelak akan menjadikan anak-anak kita baik dan sholeh/sholehah. Bukan kita yang akan menjadikan anak kita cerdas. Namun ridha Allah yang menjadikan semua itu terjadi. Dan doa serta ikhtiar orangtualah yang menjadi kunci untuk membuka pintu ridhaNya.. Maka, bolehkah aku meminta sebuah permohonan, duhai suamiku tersayang? Untuk kita berdua sama-sama mensinergikan doa yang sama: agar Tuhan berkenan memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri kita masing-masing, untuk menjadi ibu, ayah, dan orangtua terbaik bagi anak-anak kite nantinya. Agar kita bisa menghasilkan anak keturunan yang sholeh/sholehah, ulul albab, penyejuk mata, cerdasmulia, dan menjadi pemimpian bagi orang-orang yang bertaqwa… :”

Salam cinta,

Nurimannisa

10 Ramadan 1436

10:10 a.m

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s