Apa Arti Shalat?

“Apa arti kata shalat?”
Demikian suami saya bertanya pada suatu malam dalam salah satu diskusi kami.
Saya tercenung dan terdiam. Mencari-cari berbagai arsip di dalam kepala, dan tidak menemukan satu pun jawabannya.

“Mmm, arti kata secara harfiah?”
Saya malah kembali melontarkan sebuah pertanyaan, berusaha mengulur waktu agar tidak terlihat terlalu bodoh, sembari terus menggali arsip di otak.

“Ya. Apa artinya?”
Saya terdiam. Dan masih membisu, lalu menggeleng lemah. Menyerah.

“Bagaimana menghayati ibadah jika arti dan esensi ibadah itu sendiri tidak kamu pahami?”
Saya nyengir.

“Setidaknya aku tahu arti setiap bacaannya, dan memaknai shalat sebagai bentuk ketundukan, sesi menghadap, dan penyembahan kepada Allah sebagai Tuhan..” saya masih mencoba membela diri.

“Nah, yang begini begini nih. Sangat disayangkan bahwa umat muslim masa kini seringkali terjebak pada ritual belaka, tanpa menghayati esensi. Shalat tiap hari tapi tidak tahu apa makna hakiki dari shalat. Setiap hari baca qur’an tapi tidak membaca, memahami, dan bahkan mengamalkan isinya. Nggak heran banyak umat muslim yang tidak berakhlak islami. Shalat secara arti kata adalah doa. Maka jika dicermati setiap bacaannya adalah doa kepada Yang Maha Kuasa. Jangan sampai kita shalat tiap hari tapi tidak tahu arti doa yang dibaca. Bagaimana bisa menghayati jika artinya saja tidak mengetahui?”

Saya terdiam, tercenung, lalu merefleksi diri.
Ah ya, jangan jangan islam saya selama ini hanya di kulit saja? Ah ya, jangan jangan, saya hanya menjalani ritual tanpa makna? Jangan jangan, selama ini ibadah saya tiada artinya di hadapanNya karena dilaksanakan oleh raga, bukan hati dan jiwa..?

Padahal bukankah, lima kali sehari dalam doa iftitah kita senantiasa berikrar, “Inni wajjahtu wajhiya lillahirrabbil alamin..” “Kuhadapkan wajahku dan hatiku hanya kepada Allah, Tuhan Semesta Alam..”
Sudahkah saya selama shalat menghadapkan hati? Ataukah hanya menghadapkan raga ke kiblat dan berkomat kamit membaca bacaan tanpa menghayati?

Ah ya.. Sepertinya ada yang harus ditelisik kembali ke dalam diri..
Semoga di ramadan kali ini kita dapat menjadi muslim yang menghayati esensi dan menanamkan kecintaan terhadap Islam di dalam hati, bukan hanya berislam di kulitnya tanpa arti…

#kontemplasi 14 ramadan,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s