Batu Nisan dan Kekayaan

Bismillahirrahmanirrahim…

Selama ini, saya jarang sekali memiliki keinginan untuk menjadi kaya. Berbisnis iya, namun orientasinya adalah untuk berkarya, bukan menjadi kaya. Dalam bisnis, seringkali saya tidak memikirkan bagaimana mendapat uang ataupun keuntungan yang banyak. Bagi saya, yang penting kebutuhan sehari-hari sudah tercukupi, maka sudah cukup bagi saya. Yang terpenting, saya bisa berkarya, mewujudkan idealisme saya, dan bisa mewujudkan impian saya. Namun saya jarang sekali menginginkan untuk menumpuk harta kekayaan bagi diri saya sendiri. Karena selama ini mindset saya mengatakan: (1) harta (dan kaya) berbahaya, dapat membutakan dan mematikan hati (2) harta toh tidak dibawa mati, yang ditinggalkan adalah karya dan kebermanfaatan (3) saya tidak mencari dunia, namun mencari akhirat/surga. Namun, setelah saya berkontemplasi dan mengevaluasi diri sendiri, ternyata kinerja saya memiliki pola ritmik yang hampir selalu berulang. Ketika uang ngepas atau kepepet, saya akan bekerja keras, go extramiles, melakukan segala macam upaya agar bisa menjadi cukup. Namun, ketika uang yang ada sudah cukup, cashflow bisnis sudah lancar, ada profit yang tersisa bagi diri saya sendiri dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka kinerja saya akan melambat. Kerja sih, tetap dari bangun pagi sampai pukul 12 malam juga, namun tidak dengan energy, semangat, kecepatan, dan kekuatan yang sama, dengan ketika saya sedang dalam kondisi kepepet. Kalau kata orang-orang yang bergerak dalam bidang pengembangan diri: jebakan zona nyaman.

Selama ini, saya berpikir bahwa apa yang saya lakukan sah-sah saja. Baik-baik saja. Toh yang saya kejar adalah akhirat, adalah surga, bukan dunia. Saya merasa lebih nyaman dan aman berada di level cukup saja. Jika ada harta? Ya dibagi-bagikan saja ke orang-orang lain. Namun, hari minggu lalu, saat menghadiri acara ulang tahun Ibu Kartini Muljadi, satu-satunya wanita di Indonesia yang masuk ke majalah Forbes sebagai 40 orang terkaya, suami saya melempar isu. Membuat saya kembali berpikir ulang mengenai konsep yang selama ini saya pakai di dalam kepala. Kira kira beginilah diskusi yang terjadi di antara kami.
Suami     : “Hmm.. jadi begini ya, pestanya orang-orang kaya..”
Saya    : “hmmm.. Iya. Tapi entah kenapa aku nggak pengen jadi kaya.”
Suami    : “Nah, ini. Pantes aja nggak ada Muslim yang masuk Forbes. Lalu kita selalu terpesona dengan orang-orang yang masuk ke Forbes.”

Saya terdiam. Benar juga kata-katanya. Apakah karena mindset semacam ini, yang membuat saya kemudian menjadi tidak fullspeed dan fullpower ketika bekerja dalam keadaan cukup? Karena selama ini mindset saya tentang bagaimana mencapai surga adalah dengan cara banyak-banyak ibadah sholat, sholat sunnah, ngaji dan baca Al-Qur’an, zikir, sedekah… Bukan dengan bekerja keras dalam usaha. Meskipun, saya pun tahu bahwa usaha adalah ibadah, bahwa usaha yang berkah dan memberikan kebermanfaatan bagi orang banyak merupakan ibadah dan rahmat bagi banyak orang, dan harta yang kita kumpulkan dapat menjadi sarana bersedekah. Namun selama ini dalam mindset saya, ibadah dalam bekerja masih berada di level sekunder, sementara di level primer masih merupakan ibadah-ibadah khusus seperti sholat, baca Al-Qur’an dan berzikir..

Saya menjadi teringat lagi, akan sebuah diskusi kami yang lainnya di tempo hari. Tentang bagaimana kita sebagai muslim sebaiknya tidak mengkotak-kotakkan serta memisahkan ibadah dan kehidupan kita sehari-hari. “Jika misalnya, setiap pekerjaan kita, setiap langkah kita dalam berusaha, diniatkan untuk berdakwah, mengabdi kepada Allah, dan di setiap apa yang kita lakukan, kita memberikan yang terbaik, bukankah hal itu juga merupakan ibadah?” Ah ya, saya menjadi teringat sebuah ayat di surat Al Jumuah, ayat 9-10.
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[a]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (9) Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (10)”

Jadi? Bukankah, sholat adalah yang pertama dan utama, kemudian mencari karunia Allah (bekerja) sembari berzikir adalah perintah berikutnya? Jika setiap langkah, setiap ayunan tangan, setiap pemikiran, diniatkan untuk Allah sembari terus mengingatNya, bukankah setiap hal yang kita lakukan sehari-hari akan menjadi sebuah ibadah yang luar biasa? Kemarin malam, sewaktu dalam perjalanan pulang menuju Bogor dari Depok, mata saya tetiba tertumbuk pada tumpukan batu di sepanjang jalan, di dekat para pedagang taman: batu dingin dengan ornament pecahan batu-batu kecil, dengan pancang bernama di atasnya. Batu nisan. Entah mengapa, tiba-tiba saja kelebat kematian begitu jelas di depan mata saya. Saya terbaring, dalam kain kafan, tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tidak bisa berkarya lagi, tidak bisa memberikan kebermanfaatan lagi bagi banyak orang. Karena waktu saya sudah habis. Dan jujur saja, saya tidak ingin mati begitu saja tanpa meninggalkan karya apa-apa. Dan sejauh ini, saya merasa belum melakukan apa-apa untuk banyak orang. Suami saya seringkali menyindir saya dengan berkata begini di penghujung hari, “Sudah satu hari berlalu, mana karyamu?”

Lalu hari ini, Segala Puji Bagi Allah, saya bertemu dengan seseorang yang sangat luar biasa di sebuah acara seminar kewirausahaan. Seorang perempuan, istri, dan juga ibu, yang sekaligus merupakan seorang pengusaha. Mempekerjakan, mendidik, sekaligus memberdayakan 600 ibu-ibu rumah tangga di desanya. CSR perusahaannya pun mampu mambangun learning centre, beasiswa bagi anak-anak kurang mampu, sunatan masal, hingga nikah gratis. Beliau adalah Ibu Leony Agus Setiawati. Melihatnya, saya merasa menemukan sesosok role model lagi. Semangatnya dalam dakwah melalui bisnis dan menggapai ridha illahi sangat terasa dari pancaran wajahnya. Dan Alhamdulillah, siang ini selepas shalat dhuhur secara tak sengaja saya terlibat dalam sebuah diskusi menarik yang terjadi di sofa-sofa depan musholla UKM Centre FEUI. Diskusi yang terjadi antara Mbak Leony pemilik busana muslim Azkasyah dan Bu Dewi, seorang dosen FEUI yang juga merupakan mantan Kepala UKM Centre FEUI, dan sedang membahas mengenai kekayaan.

“Susahnya nih mbak, mengubah mindset orang-orang di desa. Mereka berpikir bahwa miskin lebih baik daripada kaya. Karena harta memang secara fitrah akan tertanam di hati, dan kemiskinan lebih dekat kepada surga. Jadinya mindset semacam inilah yang dijadikan excuse untuk tidak bekerja keras. Padahal, justru dengan kekayaan, kita bisa memberikan banyak kebermanfaatan. Dan ada sebuah hadis yang mengatakan, bahwa kerja keras nilainya setara dengan fii sabilillah, dan bisa menggugurkan dosa yang tidak bisa digugurkan oleh sholat, zakat, dan puasa..” demikian Mbak Leony berkisah, menceritakan tantangannya dalam memberdayakan masyarakat di sekitar desanya.

Karena penasaran, saya mencoba mencari dan menemukan beberapa tulisan di hidayatullah.com..

…Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Rasul menegaskan, “Sesungguhnya di antara dosa itu ada dosa yang tidak dapat dihapus oleh shalat, puasa, haji, dan umrah, tetapi dapat terhapus oleh lelahnya seseorang dalam mencari nafkah.”…
…Dalam buku yang ditulis Aidh Al-Qarni, La Tahzan, disebutkan Umar bin Khattab menyatakan perang terhadap semua bentuk pengangguran, kemalasan, dan ketidakgiatan. Bahkan Umar bin Khattab pernah menarik keluar para pemuda yang diam di dalam masjid dan tidak melakukan apa-apa. Umar memukul mereka dan berkata, “Keluar kalian, cari rezeki. Langit tidak akan menurunkan emas dan perak.”…

Maka, melalui tulisan ini, sesungguhnya saya ingin melakukan sugesti kepada diri sendiri. Jangan takut menjadi kaya. Karena bukan menjadi kaya (banyak harta) yang menjadi masalah. Yang merupakan masalah adalah ketika dengan kekayaan tersebut kita mulai mencintai harta lebih daripada Allah dan RasulNya, serta bermewah-mewah dan bermegah-megah dalam menyelenggarakan kehidupan. Karena bagaimanapun, bukankah sebuah hadis mengatakan bahwa, sebaik-baik manusia yang diperkanankan kita tanamkan rasa iri kepada mereka, adalah yang memberikan sebesar-besarnya manfaat bagi orang lain, dengan harta dan ilmunya? Bahkan, salah seorang istri Rasulullah SAW yang pertama kali menemani beliau ke surga adalah Zainab, seorang yang “bertangan Panjang”, karena bekerja keras menyamak kulit untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin. Harta, memang tidak dibawa mati, namun kebermanfaatan yang bisa diberikan oleh harta halal yang dihasilkan dengan kerja keras, akan menjadi sebuah amalan jariyah, ketika batu nisan sudah tertancapkan di atas kepala…

Wallahualam Bis Showab

#project365
21 Mei 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s