Benarkah, Saya Ingin Masuk Surga?

Bismillahirrahmanirrahim..
Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayng..

Pertanyaan yang menjadi judul tulisan di atas adalah pertanyaan yang kerap saya ajukan kepada diri saya sendiri, ketika sedang berkontemplasi. “Benarkah, saya ingin masuk surga?” Karena ketika melakukan refleksi dan evaluasi terhadap diri saya sendiri, saya menilai bahwa apa yang saya kerjakan sehari-hari masih jauh panggang daripada api. Biasanya, ketika saya ingin mencapai target tertentu dengan sebenar-benar kesungguhan hati, saya benar-benar akan berjuang sepenuh hati dan semaksimal mungkin. Misalnya, ketika ingin masuk ke Perguruan Tinggi. Maka belajar dan latihan soal setiap hari menjadi niscaya. Mengulang materi, kalau perlu tambah les ke sana ke mari, kalau perlu belajar bersama teman-teman yang pintar, ditambah rajin sekali berdoa, tahajud, shalat sunnah yang lainnya, untuk mencapai impian masuk jurusan yang diinginkan. Namun, ketika saya merefleksi dalam menggapai surgaNya, apakah saya sudah memberikan upaya yang terbaik sebagai hambaNya? Lagi-lagi, saya hanya bisa menggeleng lemah.. Saya bisa menyimpulkan bahwa, upaya dan action yang saya lakukan tidak sejalan dengan impian dan tujuan yang hendak dituju: Ridha dan SurgaNya. Upaya masih pas-pasan sekali, kalau tidak mau dibilang minimal.

Apalagi, jika saya menilik ke belakang, ke para umat muslim di masa lampau, orang-orang yang berdasarkan hadist dan kisah nabi, sudah memberikan banyak kontribusi dan tanda cintanya kepada Allah, Rasulullah, dan Islam. Begitu banyak orang yang betul-betul berjuang. Tidak hanya mempertahankan kotinuitas dan keistiqamahan ibadah, namun juga rela menanggung derita fisik ataupun mental hanya untuk mempertahankan keimanan. Atau mungkin, seperti ilmuwan-ilmuwan muslim yang luar biasa pada abad pertengahan. Mendedikasikan setiap waktu dan energinya untuk mengembangkan ilmu & peredaban Islam. Atau mungkin, di masa sekarang, kita sering mendengar berita-berita saudara-saudara kita di Palestina, Rohingya, atau bahkan Perancis, yang mengalami sekian banyak kesulitan hanya karena menyatakan diri seorang muslim. Cercaan, hinaan, pengusiran, penghardikan, bahkan penyiksaan, menjadi tantangan yang harus mereka hadapi untuk mempertahankan ketauhidan hati kepada Ilahi.

Padahal, jika kita berada di Indonesia ini, bukankah semuanya menjadi serba mudah dan serba menyenangkan bagi umat Islam? Menjadi kaum mayoritas. Masjid berada di mana-mana. Azan dengan mudahnya terdengar di telinga. Membaca Al-Qur’an di tempat umum adalah hal yang biasa. Toleransi yang diberikan begitu tinggi. Bahkan di saat Ramadhan, rumah-rumah makan ditutupi gorden ataupun kerai untuk menghormati. Berapa banyak nikmat yang sesungguhnya mungkin begitu berharga bagi saudara-saudara kita di luar sana, pada waktu yang sama. Dan saya, dengan semua nikmat itu, sungguh merasa malu. Upaya yang dilakukan dengan segala kenikmatan dan kemudahan, masih jauh dari kata “pantas”. Saya sungguh khawatir bahwa keridhaan, cinta, dan surga Allah yang (katanya) diinginkan itu hanya manis di bibir saja. Hanya kegombalan saya semata…

Yaa Rabbi.. di bulan Ramadhan kali ini, perbaiki hambaMu yang hina dan banyak kekurangannya ini, untuk menjadi sebaik-baiknya abdi bagiMu Rabbi.. :”

Rumahku, surgaku,
Renungan 4 Ramadhan 1436.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s