Katakan Tidak Pada Menunda!

Menunda nunda, menjadi “penyakit” bagi banyak orang di dunia, termasuk saya. Berbagai macam alasan seringkali menjadi perisai, “aduh, sedang banyak pekerjaan lain” atau “saya tidak punya waktu” atau “tunggu saja, saya akan melakukannya setelah blablabla”,”nanti akan saya lakukan jika sudah blablabla”, “saya akan lakukan itu esok hari ketika kondisi sudah blablabla”. Namun, yang sudah sudah semua itu hanya menjadi wacana, atau terselesaikan dengan amat sangat terburu-buru, di waktu yang mepet sekali. saya berharap rekan rekan sekalian tidak mengalami hal ini, namun setidaknya itu yang sering terjadi pada diri saya pribadi.

Jujur saja, saya merasa letih dan selalu ingin memperbaiki. Hidup pada situasi genting di setiap waktu rasanya melelahkan sekali. Namun yang namanya konsistensi, selalu memiliki tantangan tersendiri. Berkali kali saya “membara” di awal, lalu pupus di tengah jalan, dan kembali berkubang di permasalahan yang sama. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kebiasaan buruk ibaratnya sebuah kursi empuk. Sekali duduk, akan sulit untuk berdiri dan melepaskan diri. Dan saya pun merasakannya.

Namun, saya yakin bahwa ibaratnya setiap penyakit ada obatnya, setiap masalah pun ada jalan keluarnya. Termasuk menunda nunda. Melalui tulisan ini, sesungguhnya saya berniat mengikat ilmu sekaligus memanifestasikan rasa terimakasih saya kepada salah seorang sahabat di Young Trainer Circle, yang berhasil “menampar” saya melalui tulisannya.

Ia mengatakan bahwa, “seringkali kita menunda sesuatu hal karena memikirkan ‘harga’ yang harus dibayar untuk melakukannya. Namun seringkali kita lupa, untuk menghitung “harga” yang harus dibayar ketika kita tidak melakukannya”.

Saya terhenyak. Tanpa sadar memori kembali memutar selintas kenangan 2 hari yang lalu di acara Young Trainer Academy Batch 4. Saat sesi mas Andra Donatta, seorang rekan saya meminta tolong untuk merekamkan penampilan mas Andra dengan video di tabnya. Setelah beberapa waktu, saya menyadari bahwa ada angka angka yang bergerak di pojok kanan atas. 4561/7657. Angka pertama senantiasa bergerak maju seiring dengan berjalannya durasi rekaman, sementara angka kedua senantiasa bergerak mundur seiring dengan berkurangnya jatah waktu video yang bisa direkam. Saya menangkap angka tersebut lamat lamat, dan jantung berdegup semakin cepat. Saya merasa menyadari satu hal yang selama ini sering saya lupakan.

Jika dianalogikan dengan hidup, angka pertama adalah detik dan waktu yang berjalan maju, dan angka yang kedua adalah “jatah hidup” kita yang tersisa. Tanpa disadari, setiap detik yang berdetak menandakan satu detik jatah hidup kita yang hilang ataupun berkurang. Sedangkan waktu, tak akan pernah menunggu. Kehilangan satu detik berarti kehilangan satu kesempatan kebaikan. Dan menunda, semakin membuat saya merugi dalam kesia-siaan. Saya kemudian mensimulasikan, jika dalam setiap detiknya kita bisa melakukan satu kebaikan, katakanlah dzikir mengingat dan menyebut nama-Nya, maka ketika satu hari saya lalai, saya akan kehilangan kesempatan untuk menunaikan kebaikan sebanyak 68.400 kali.

Perhitungan ini muncul dengan asumsi bahwa waktu efektif untuk beraktivitas per hari adalah 19 jam, dgn 5 jam waktu istirahat.  jika diakumulasi, satu minggu menjadi 478.800, dan satu bulan menjadi 14.364.000. Wah! betapa ruginya saya. belum lagi kebaikan kebaikan lain yang mungkin sederhana, namun sering terlupakan. Misalkan menulis satu artikel setiap hari. ketika menulis, mungkin kita akan menggunakan waktu 30 menit. Namun kebermanfaatan yang diberikan bisa bernilai jauh daripada itu. Dan jika satu hari tidak menulis lalu terakumulasi dalam waktu satu bulan, maka saya bisa kehilangan potensi kebaikan sebanyak 30 tulisan, dengan entah berapa banyak potensi nilai kebaikan yang hilang di dalamnya

Ah ya, selama ini dengan menunda, saya telah merugi sekali ternyata. Dari sekian banyak hal, pekerjaan, dan tanggungjawab, bagi saya menulis adalah pekerjaan yang akan saya tunda menjadi prioritas kesekian yang baru akan dikerjakan setelah pekerjaan dan tanggungjawab yang lain terselesaikan.

Saya lupa, bahwa detik dan waktu, tak akan menunda untuk melaju.

Dan entah kita sepakat atau tidak, melakukan suatu kebaikan ataupun tidak, detik demi detik akan terus berguguran, tanpa pernah kita tahu tinggal berapa sisa jatah yang diberikan Tuhan. Sekali lagi, saya menuliskan ini sebagai sarana pengingat bagi diri sendiri, bukan berarti karena saya sudah baik. Justru tulisan ini ingin saya jadikan sebagai pelecut semangat untuk berkomitmen dan berkonsistensi, untuk terus memperbaiki diri dan melakukan kebaikan di setiap detik yang diberikan.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dalam semangat untuk terus menorehkan kebaikan, menguatkan langkah kita semua untuk menebarkan kebermanfaatan, dan memelihara kita semua dari kebodohan, kemalasan, dan penundaan! 🙂

Salam CerdasMulia!

 

Dimuat di Selasar.com

https://www.selasar.com/gaya-hidup/katakan-tidak-pada-menunda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s