Life Choice Management; sebuah diskusi ringan dengan Arry Rahmawan

Keputusan. Adalah hal yang krusial dalam kehidupan manusia. Begitu suatu keputusan ditetapkan, maka akan terjadi dampak domino, baik yang terprediksi maupun tidak. Bagaimanapun, entah disadari ataupun tidak, hidup sesungguhnya adalah sekumpulan dari pilihan-pilihan. Baik berupa pilihan di skala mikro yang remeh-temeh seperti apa yang akan kita makan, hingga pilihan-pilihan makro dan krusial yang bisa menentukan nasib dan jalan hidup. Maka, seringkali momen-momen penting pengambilan keputusan ini menjadi momen-momen paling galau sepanjang sejarah bagi banyak orang. Seperti momen untuk memutuskan kuliah di jurusan apa, memilih pasangan hidup, membuka bisnis baru, beralih bisnis, keputusan investasi, atau memutuskan untuk mengambil kontrak pekerjaan tertentu. Karena hukum alamnya, mengambil satu pintu berarti tidak memasuki pintu yang lain. Mengambil satu jalan berarti tidak akan mengambil jalan yang lain. Hidup adalah pilihan. Sekumpulan Trade Off

Dalam perjalanan pulang di Commuter Line Bogor-Depok beberapa hari yang lalu, entah mengapa tiba-tiba saya terpikir sebuah pertanyaan. “Dalam mengambil pilihan hidup, kapankah kita harus terus berjuang tanpa menyerah, dan kapan kah kita harus berhenti dan berputar arah?” Pertanyaan ini saya ajukan ke suami saya yang sedang berada di sebelah saya. Jawabannya menurut saya sungguh sangat menarik, sehingga kemudian memicu untuk menuliskan hasil diskusi kami.
“Hmm. Jadi begini. Manusia itu, ibaratnya sebuah perusahaan,” demikian pembukaan yang beliau berikan, sehingga membuat kedua bola mata saya membesar. Penasaran. “Ibaratnya sebuah perusahaan, maka ada visi, misi, kebijakan, strategi, dan tindakan. Visi dan misi tidak boleh berubah, dan sebaiknya memang tidak akan berubah. Pilihan jalan dan keputusan yang diambil sebenarnya ada di ranah kebijakan. Pertanyaan yang diajukan sebelum mengambil sebuah keputusan, apakah mau melanjutkan perjuangan ataukah bertahan, adalah: apakah keputusan yang akan saya ambil akan membawa saya lebih cepat atau lebih mudah menuju kepada visi saya atau tidak? Dari situ, turunlah menjadi strategi, lalu dari strategi menjadi tindakan. Maka yang paling pertama harus ditentukan adalah, apa visi dan misi hidupmu? Apa tujuanmu hidup di dunia? Dan kenapa dirimu ada?”

Ah ya, saya tercenenung. Sebuah pemikiran yang sangat menarik. Semuanya memang dikembalikan kepada tujuan semula. Visi dan misi semula. Jika kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Jika mungkin satu cara sudah dicoba berkali-kali namun tetap gagal juga, maka mencari cara, metode, dan pendekatan lain adalah jalan yang bijaksana. Namun, mencoba jalan lain ini juga ditetapkan setelah memang jalan yang pertama sudah benar-benar tidak ada cara dan metode lain untuk mencoba, atau sudah benar-benar maksimal dalam pelaksanaannya, sehingga tak ada lagi celah untuk memperbaikinya. Suami saya sering mengatakan begini, “Jika kamu seringkali gagal dalam suatu hal, jangan ubah tujuannya. Ubah strateginya. Coba dievaluasi, apakah benar sudah mencoba semua cara dan metode dengan maksimal? Jika kamu terus menerus mengubah tujuan, kamu tidak akan pernah sampai di manapun.”

Maka, sesungguhnya jika sudah ada visi-misi yang sedemikian kuat di dalam diri, seharusnya memang tidak ada kata menyerah untuk mewujudkannya. Yang ada hanyalah strategi,  cara, dan jalan yang berbeda. Bagaimanapun, bukankah KFC dan Harry Potter pun, harus mengalami penolakan hingga puluhan kali sebelum akhirnya berakhir?
Satu cara lagi yang ayah saya senantiasa tanamkan, tentang bagaimana mengambil keputusan dalam suatu pilihan. “Dahulukan yang wajib, baru yang sunnah. Jangan sampai terbalik-balik. Yang sunnah malah mengalahkan yang wajib.” Sebuah nasehat yang sangat berguna, ketika dihadapkan dengan berbagai macam pilihan. Seringkali, saya sendiri sering salah kaprah dalam mendefinisikan mana yang wajib mana yang sunnah. Maka pemahaman akan wajib-sunnah ini menjadi hal yang penting. Jangan sampai misalnya, keinginan kita untuk menamatkan target membaca Al-Qur’an menjadikan kita melalaikan atau tidak tepat waktu dalam menghadiri perjanjian dengan seseorang, ataupun menunaikan amanah yang cukup urgent untuk diselesaikan, atau bahkan menelantarkan tugas kuliah.

Jadi, untuk memudahkan kita dalam mengambil keputusan di dalam hidup, yang pertama adalah menentukan visi dan misi pribadi. Selanjutnya memahami wajib dan sunnah, baru setelah itu bisa memutuskan kebijakan yang paling adil dan bijaksana.

#project365
19 Mei 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s