Manusia Gunung Es

Bismillahirrahmanirrahim.

Judging dan kesombongan, seringkali menjadi penyakit yang suka sekali menghinggapi hati. Walaupun mungkin hanya dalam waktu sepersekian detik, ataupun hanya berupa satu titik. Munculnya sebuah perasaan, meskipun sedikit, merasa “sedikit lebih baik” daripada orang lain, atau merasa “sedikit lebih unggul daripada orang lain”.

Karena mungkin posisi/jabatan yang lebih tinggi, harta lebih melimpah, prestasi yang lebih banyak, pemikiran yang lebih cerdas, ilmu dan pengetahuan yang lebih luas, karya yang lebih banyak dan bermanfaat, paras yang lebih tampan atau cantik, ataupun berbagai latar belakang lainnya.

“Tidak akan masuk surga seseorang yang memiliki rasa kesombongan walaupun seberat biji zarrah”

Lantas merasa pantas memberikan penilaian sepihak atas seseorang, atau yang biasa disebut dengan “judging”, hanya karena satu atau beberapa ciri yang tampak dalam sekali tempo. Menggeneralisasi penilaian, berasumsi, berprasangka, lalu menganggap bahwa apa yang disangkakan merupakan kebenaran mutlak.

Lebih berbahayanya lagi jika dari penilaian sesaat dan super subjektif ini, kemudian menjadi timbul perasaan “lebih tinggi” dari orang lain, yang mungkin bisa jadi menyakiti orang tersebut jika ia merasakannya. Pernah merasa diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh orang lain? Baik dari kata-kata, gesture tubuh, atau bahkan hanya dari lirikan mata?

Saya pun pernah merasakannya, sehingga tahu betapa tidak mengenakkannya hal tersebut.

Karena itulah, seringkali perasaan bersalah menghantui saya setiap kali setitik perasaan ini terbersit muncul. Buru-buru saya berusaha menghalau pemikiran dan perasaan tersebut jauh-jauh. Bagaimanapun, saya teringat akan sebuah ayat yang mengatakan bahwa, “Tidak akan masuk surga seseorang yang memiliki rasa kesombongan walaupun seberat biji zarrah.”

Begitu bermasalahnya setitik rasa “lebih dari orang lain” ini, sehingga saya berpikir bagaimana cara agar saya tidak lagi dihinggapi perasaan-perasaan semacam ini. Bagaimanapun, menurut saya sesungguhnya tak pantas jika manusia merasa “lebih” dari manusia lainnya. Karena, sesungguhnya segala hal yang terjadi di dalam kehidupan kite terjadi hanya karena berkah, rahmat, dan kuasa dariNya semata.

Kesombongan adalah pakaian yang hanya pantas dimiliki oleh Tuhan, yang Maha Menguasai Segala Kejadian.

Manusia Gunung Es

Entah bagaimana pemikiran dan kontemplasi saya berujung pada gunung es di film Titanic. Pada film tersebut, terdapat sebuah gunung es “kecil” yang diremehkan oleh nahkoda kapal. Sang nahkoda merasa bahwasanya gunung es tersebut tidak layak diperhitungkan sebagai “masalah” sehingga tak perlu dirisaukan oleh kapal sebesar, sekuat, dan sehebat Titanic.

Namun, yang tidak disangka oleh Sang Nahkoda, ternyata gunung es “kecil” ini hanya yang terlihat di atas permukaan laut saja. Jauh di bawah permukaan laut, gunung es ini sesungguhnya merupakan entitas yang sedemikian besar, kuat, dan kokoh. Hanya saja, kebesaran dan kekuatannya yang luar biasa tak terlihat, karena tersembunyi di bawah permukaan laut.

Karena tidak menyadari potensi yang “tak terlihat”, nahkoda kapal ini menjadi lalai. Ketika tersadar, kapal raksasa yang kuat tersebut sudah menabrak gunung es dan mengalami kebocoran.

Menganalogikan gunung es dalam kisah Titanic, maka demikian pula saya mulai mengubah sudut pandang saya tentang manusia. Ibaratnya gunung es, sesungguhnya banyak hal yang tidak kita ketahui dari kehidupan orang-orang lain di sekitar kita.

Banyak hal tersembunyi yang tak tampak. Bagaimana kisahnya di masa lalu, pengalaman-pengalaman hidupnya, kesulitan-kesulitan yang sudah ia hadapi, perjuangan-perjuangannya, dan sebagainya. Yang mana jika kita mengetahuinya, tak akan sempat kita memandang manusia lain dengan sebelah mata.

Persepsi saya mengenai “manusia gunung es” ini terbukti tatkala saya menyimak setiap kali sesi “LS” atau “Life Story” di salah satu grup what’s app komunitas yang saya ikuti. Setiap malam, salah satu anggota grup menuturkan kisah-kisah yang terjadi di masa lalunya. Kisah-kisah yang dialami teman-teman di dalam grup begitu luar biasa.

Saya bahkan tak yakin jika saya berada di posisi dia, saya dapat bertahan dan berlaku sedemikian rupa. Jujur saja, saya salut dengan seluruh teman-teman di grup, yang mengajari saya banyak hal tentang arti hidup dan kehidupan. Arti kerja keras dan perjuangan. Arti bertahan dan terus bergerak menggapai impian.

Manusia-manusia gunung es yang menyimpan kekuatan dan kehebatan terpendam. Saya menjadi teringat salah satu slogan dari salah seorang sahabat saya, “Be HEBAT by Yourself”. Ya, setiap orang memiliki keunikan, pengalaman, potensi, dan kisah perjalanannya masing-masing. Setiap orang otentik, dan memiliki kekuatan terpendam yang mungkin sengaja tidak ditampakkan, atau mungkin belum tergali.

Maka, tak ada lagi alasan untuk merasa “sedikit lebih baik” dari orang lain. Tak ada lagi celah untuk masuknya bisikan-bisikan kesombongan. Justru ketika semakin banyak mendapatkan nikmat, harus semakin waspada untuk memberikan kontribusi yang lebih banyak sebagai perwujudan rasa syukur dan pertanggungjawaban atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.

Gunung Es Kita

Saya seringkali memandang bahwa kewajiban kita untuk “mengeluarkan” berbanding lurus dengan nikmat yang sudah kita dapatkan dari Tuhan. Baik itu berupa harta maupun ilmu. Ibaratnya seorang anak 4 SD, maka ia akan dituntut untuk bisa mengerjakan soal-soal perkalian. Namun, bagi seorang anak SMA, maka pastilah ekspektasinya lebih, karena ilmu yang didapatkan juga lebih. Tidak hanya harus mampu menyelesaikan soal-soal perkalian, namun juga logaritma dan persamaan kuadrat. Ukuran keberhasilan kita jangan dilihat dari orang lain, namun justru berkaca pada diri sendiri.

“Dengan semua hal yang sudah Tuhan berikan kepada saya, sudahkah saya mendayagunakannya dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan “kelas”nya? Ataukah saya sesungguhnya merupakan seorang anak SMA, yang masih berkutat di persoalan anak-anak SD saja?”

Dengan semua hal yang sudah Tuhan berikan kepada saya, sudahkah saya mendayagunakannya dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan “kelas”nya? Ataukah saya sesungguhnya merupakan seorang anak SMA, yang masih berkutat di persoalan anak-anak SD saja? Prinsipnya apa yang diberikan, harus berbanding lurus dengan apa yang sudah didapatkan, sebagai sebentuk pertanggungjawaban.

Maka, sebagai manusia-manusia gunung es, pekerjaan terberat kita sesungguhnya bukanlah menilai dan berkembang dengan tolok ukur orang lain. Menjadikan diri lebih unggul dari orang lain dalam aspek-aspek dunia yang terlihat oleh mata, kecuali dalam jalan kebaikan menuju taqwa.

Karena bagaimanapun, yang membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya di mata Tuhan hanyalah ketaqwaannya, yang terpendam dalam samudra hatinya dan tak kasat oleh mata. Mulailah melihat kepada “gunung es” diri sendiri. Dengan segala ilmu, harta, dan potensi yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, sudahkah kita berlaku dan memberikan kontribusi sesuai dengan kelasnya? Ataukah masih jauh panggang dari apinya?

Akhir kata, saya menulis seperti ini bukan berarti saya lebih baik dari yang lain, ataupun sudah melaksanakan yang saya tulis dengan sebaik-baiknya. Saya hanya ingin sedikit berbagi pemikiran dan kontemplasi pribadi, sebagai pertanggungjawaban atas sedikit ilmu yang saya miliki. Sekaligus, menjadi pelecut semangat untuk diri sendiri, agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Semoga, secuil kontemplasi ini dapat bermanfaat bagi Anda yang meluangkan waktu untuk membaca.

Salam CerdasMulia!

 

Dimuat di Selasar.com

https://www.selasar.com/kreatif/manusia-gunung-es

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s