Mengubah Sudut Pandang

Selama dua tahun merintis “karir” sebagai seorang pengusaha muda, saya memahami satu hal paling penting: menjadi pengusaha tak semudah apa yang dikatakan di seminar-seminar kewirausahaan. Dibutuhkan sebuah ketangguhan pribadi yang persisten, untuk bisa (seminimal-minimalnya) ‘bertahan hidup’ di jalan kewirausahaan.

Apalagi untuk bisa menggapai kesuksesan gemilang seperti para master entrepreneur seperti Chairul Tanjung, Elang Gumilang, Rangga Umara, dan lain sebagainya. Ketangguhan pribadi ini tidak hanya tentang bekerja keras, doing extra miles, atau memiliki visi yang kuat. Kita harus memiliki skill yang sangat penting: kemampuan bertahan menghadapi permasalahan dan tantangan.

Selama dua tahun ini, berbagai macam hal yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal pernah masuk ke dalam kehidupan saya. Sampai-sampai seorang sahabat saya pernah mengutarakan, kehidupan saya adalah kehidupan paling epik yang pernah ia dengar. Tak ubahnya sebuah sinema elektronik ataupun film layar lebar dengan skenario abnormal.

Perasaan ingin menyerah menghampiri saya berkali-kali. Belum lagi perasaan kecil, tak mampu, dan tak berbakat di bidang bisnis dan kewirausahaan. Perasaan-perasaan ini muncul dikarenakan saya beberapa kali merasa menghadapi sebuah “tembok raksasa” yang membuat saya merasa tak pantas berada di jalan ini.

Padahal, entrepreneurship adalah bagian dari darah saya. Sedari kelas satu SD saya sudah mulai berdagang. Memiliki sebuah korporasi dengan ribuan karyawan adalah impian besar saya. Meski sedemikian kuatnya visi itu, tetap saja tembok-tembok raksasa itu membuat saya merasa lemah dan tak berdaya. Tetap saja membuat saya berkali-kali menyerah dan ingin berhenti saja.

Seiring berjalannya waktu, setelah melalui perenungan, pemikiran, dan kontemplasi berkali-kali, saya menjadi memahami satu hal. Semua hanyalah tentang sudut pandang. Selama ini saya merasa tengah menghadapi sebuah tembok raksasa yang menghentikan langkah saya. Tembok ini begitu keras, terjal, dan tidak bisa dijebol dengan berbagai cara yang sudah saya coba.

Namun, ketika saya mencoba memahami dengan lebih baik dan mencoba melihat dengan sudut pandang helicopter view yang lebih tinggi, saya menemukan bahwa tembok yang selama ini saya berusaha jebol dan ratapi, sesungguhnya adalah sebuah anak tangga raksasa untuk menuju level yang lebih tinggi. Dari sudut pandang itu, saya diibaratkan seorang liliput super kecil yang tengah berusaha memanjat sebuah tangga sangat tinggi dengan segala upaya.

Melihat dari sudut pandang ini, optimisme saya perlahan-lahan mulai muncul. Saya menjadi memahami bahwasanya setiap permasalahan, tantangan, dan ujian yang kita hadapi sesungguhnya hadir bukan untuk menghentikan langkah kita, namun merupakan sebuah pijakan “anak tangga” lain yang seharusnya kita “panjat” untuk naik ke level berikutnya. Saya sepakat dengan pernyataan Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman, “Something doesn’t kill you will make you stronger”.

Perjalanan masih sangat panjang. Saya yakin tantangan di hadapan pasti akan jauh lebih besar daripada tantangan di hari ini. Berbekal sudut pandang inilah, saya semakin menguatkan diri untuk tidak pernah menyerah dan terus berjuang di jalan ini. Karena saya percaya, kewirausahaan adalah salah satu jalan yang tidak hanya akan mendatangkan kesejahteraan dan kebermanfaatan bagi diri kita sendiri, namun juga orang-orang lain, mitra karyawan, masyarakat, dan bahkan Indonesia.

 

Dimuat di Selasar.com

https://www.selasar.com/kreatif/mengubah-sudut-pandang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s