Perempuan Alpha Dalam Rumah Tangga

Beberapa waktu yang lalu di grup Pendidikan dan Parenting Forum Indonesia Muda, kami mendiskusikan sebuah artikel yang menarik. Mengenai perempuan cerdas, prestatif, mandiri, dan tangguh, yang berpotensi kesulitan mencari seorang lelaki pendamping hidup.

Dalam tulisan ini, dikatakan bahwa fenomena ini disinyalir karena lelaki merasa terintimidasi dengan sosok perempuan yang “lebih” dari dirinya. Perempuan perempuan tipe alpha, yang dominan, suka tampil di depan, kritis, dan suka memimpin. Bisa dikatakan bahwa kemungkinan, lelaki-lelaki ini merasa “kalah saing” atau “takut terdominasi”, sehingga tidak berani mendekati ataupun menjadikannya seorang istri.

“Bisa dikatakan bahwa kemungkinan, lelaki-lelaki ini merasa “kalah saing” atau “takut terdominasi”, sehingga tidak berani mendekati ataupun menjadikannya seorang istri”

Saya sendiri, sesungguhnya adalah perempuan tipe alpha, dan tipikal Thinking dalam tipologi kebribadian Stiffin. Dalam ulasan tipikal thinking, dikatakan bahwa orang-orang thinking memiliki dorongan atau hasrat yang cukup kuat atas tahta, atau kekuasaan.

Memiliki kontrol sepenuhnya atas sesuatu, menjadi hal yang sungguh menggembirakan bagi orang-orang tipikal thinking, termasuk saya. Keras kepala dan kepala batu, tentu saja menjadi salah satu hal negatif yang dimiliki kepribadian ini secara natural. Sekalinya punya mau, mau tidak mau harus melakukan atau mendapatkan hal itu.

Membaca ulasan di artikel tersebut, rasa-rasanya seperti membaca diri saya sendiri. Perempuan yang merasa maskulin dan agak sedikit tomboy, (merasa) tangguh, mandiri, tidak suka dandan, ingin memiliki financial independency, tidak suka bergantung, dan ingin terus menerus bergerak dan berkembang.

Namun, Segala Puji Bagi Allah, Yang Maha Menggariskan Takdir. Semenjak SMA, kedua orangtua saya melihat potensi “rebelitas” saya sebagai perempuan dan calon istri. Maka, kedua orangtua saya kerap sekali menasehati saya.

Bahwa keberhasilan tertinggi seorang wanita, akan didapatkan ketika ia berhasil taat dan mendapatkan ridha dari suaminya. Berkali-kali pula saya diingatkan, bahwa penyebab terbesar seorang perempuan masuk neraka adalah karena ia tidak taat pada suaminya. Sebuah hadist mengatakan, “Pelayananmu terhadap suamimu, adalah surgamu atau nerakamu”.

“Bahwa keberhasilan tertinggi seorang wanita, akan didapatkan ketika ia berhasil taat dan mendapatkan ridha dari suaminya”

Waktu berlalu. Nasehat orangtua yang saat itu saya anggap ingin lalu, perlahan-lahan mulai meresap ke dalam kalbu. Usia dan berbagai macam pengalaman kehidupan menempa. Lama-kelamaan, saya menjadi menemukan makna. Bahwa sebaik-baik kehidupan, adalah bekerja sebagai abdi Tuhan dan berjuang meraih ridhaNya. Apa lagi yang hendak dicari di dunia selain bekal menuju surga?

Maka perlahan lahan, Batu karang itu pun melembut. Saya menjadi mulai mau mendengarkan pendapat orang lain, belajar mengalah untuk sebuah kemenangan pribadi, belajar memahami baru meminta untuk dipahami, belajat untuk menjadi lebih bijaksana.

Saya pun memiliki tekad, untuk bisa menikah muda. Bagi saya, mindsetnya menikah bukanlah fase untuk menghambat perkembangan diri dengan menghambakan diri kepada suami. Bukan sama sekali.

Pernikahan, adalah jalan pengabdian kepada Tuhan, melalui memberikan suami sebaik-baik pelayanan. Saya menyambut pernikahan dan pelayanan penuh kepada suami dengan sukacita. Karena saya memiliki mindset bahwa sebagai perempuan, menikah adalah “jalan Pintas” dan “jalan tol” menuju surgaNya.

Jabatan istri,  adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada wanita. Jabatan tertinggi, yang membuatmu bekerja dalam bahagia dan cinta.

Dalam sudut pandang saya, menjadi istri, mengabdikan diri kepada suami, dan mengurusi dapur dan rumah tangga, sama sekali bukan merendahkan diri saya sebagai perempuan alpha. Sebaliknya, saya sadar bahwa kegiatan yang seolah terlihat “remeh” ini meninggikan saya.

Tidak hanya menggugurkan dosa, namun juga memupuk kualitas keikhlasan, ketulusan, mengekang ego dan nafsu, sekaligus membersihkan hati.

Dengan niatan pengabdian ini, saya pun melantun doa. Alhamdulillah, Allah mempertemukan dan menjalinkan cinta dengan suami saya, di usia saya yang masih 21. Saya sangat berterimakasih, yang pertama kepada Tuhan, yang kedua kepada suami saya tercinta. Yang dengan segala kesabarannya, mau menerima berbagai macam kekurangan perempuan alpha yang satu ini 🙂

Jujur saja, di minggu-minggu awal pernikahan, sedikit-banyak saya menyimpan kegalauan. Di satu sisi, saat sebelum menikah dulu saya memiliki impian-impian setinggi langit, hasrat yang tinggi untuk membangun bisnis dan membangun konsorsium bisnis saya sendiri.

Namun di sisi lain, saya teringat dua pesan ayah saya sebelum menikah: Satu. Taatilah suamimu. Dua. Berikan totalitasmu dalam membesarkan anak-anakmu. Saya pun tahu, bahwasanya pada setiap pekerjaan rumah yang saya lakukan pun menyimpan banyak ladang pahala.

Ridha serta kebahagiaan suami, adalah hal utama yang harus terus menerus diupayakan dalam rumah tangga. Saya ingin sekali menjadi total di dalamnya. Bekerja tanpa cela. Namun di sisi lain, segala macam impian itu begitu memanggil-manggil. Saya yang terbiasa aktif, sibuk, dan tidak pernah tinggal diam di rumah pun menjadi kesulitan jika harus “berdiam dan fokus di rumah” tanpa ada “mainan lain” yang menantang di luar sana.

Saya pun sesungguhnya merasa bersalah, ketika saya dengan segala nikmat yang telah Tuhan berikan kepada saya seperti ilmu, jaringan, pengalaman, dan segala macam sumber daya yang saya miliki, tidak memberikan kebermanfaatan apa-apa bagi masyarakat. Namun kekhawatiran itu tetap ada. Khawatir jika sibuk di luar rumah, saya tidak bisa menjalankan amanah saya dengan baik: totalitas dalam mengembangkan anak-anak.

Alhamdulillah, di tengah kegalauan saya, saya tiba-tiba berjumpa dengan seorang ibu-ibu paruh baya yang mengenali saya di kampus. Diskusi mengalir ke sana ke mari, dan tak sengaja ibu itu bercerita mengenai pengalaman kehidupannya.

Ia seorang ibu dengan tiga anak. Ketika mengurusi anak pertama, ibu tersebut sibuk bekerja di luar rumah. Sementara ketika anak kedua lahir, ibu tersebut memutuskan untuk fulltime di rumah saja. Hasilnya justru mengherankan saya. Berdasarkan cerita bunda, anak pertamanya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan “utuh”, sedangkan anak keduanya seolah justru menjadi kurang “matang”.

Selidik punya selidik, ternyata hal ini dikarenakan ketika hanya diam di rumah, si ibu yang terbiasa aktif ke sana kemarin merasa frustasi, sehingga berpengaruh ke perkembangan psikologis anaknya. Di sisi lain, saya juga mengamati bahwa banyak juga ibu-ibu pengusaha maupun wanita karir yang berhasil sekali dalam mengembangkan anaknya.

Maka, melalui beberapa kasus-kasus tersebut, saya mengamati bahwa aktualisasi diri sesuai bidang yang disenangi bagi seorang perempuan tetaplah diperlukan. Efeknya positifnya akan menghasilkan ibu dan istri yang bahagia dan merasa “penuh” karena berhasil memenuhi semua unsur Piramida Maslow.

Hal ini tidak hanya akan menebarkan aura positif di dalam rumah, namun juga menjadikan ibu bisa menjadi seorang ”role model” bagi anak-anaknya. Bahwa hidup, adalah bekerja untuk menorehkan karya.

Namun, meskipun begitu, bagi seorang perempuan, suami, rumah, dan anak-anak adalah yang utama. It’s okay bagi seorang perempuan alpha untuk dominan di teritorialnya di luar rumah. Namun, ketika di dalam rumah dan di hadapan suami, saatnya masuk ke mode beta.

Saya menjadi teringat pesan salah satu mentor saya yang luar biasa Ibu Prita Kemal Gani, seorang pengusaha sukses yang membangun London School of Public Relation. Semenjak pertama kali berjumpa dan mengetahui bahwa saya akan melangsungkan pernikahan, beliau menyampaikan pesan, “Sehebat-hebatnya wanita di luar rumah, ketika di dalam rumah, suami tetaplah sebagai imam. Taat kepada suami adalah nilai utama yang harus dipegang. Karena, bagaimanapun tidak boleh ada dua matahari di dalam rumah..”.

Akhir kata, saya ingin mengutip perkataan Babe Jamil di salah satu sesi diskusi Parenting Forum Indonesia Muda. Beliau mengatakan bahwa, “Parenting adalah proyek terbesar yang harus disukseskan dalam hidup kita. Apapun pekerjaannya, pendidikan dan pengembangan anak tetap yang utama. Jangan sampai dikorbankan oleh alasan pekerjaan”.

Apalagi, jika dilimpahkan ke asisten rumah tangga.

 

dimuat di Selasar.com

https://www.selasar.com/gaya-hidup/perempuan-alpha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s