Tujuan dan Kendaraan

Ada sebuah kejadian menarik yang saya alami dekat-dekat ini. Tentang tujuan dan kendaraan. Tentang pentingnya tujuan yang benar dan memastikan bahwa kendaraan yang kita naiki juga benar.

Kisah ini bermula dari seseorang yang bercerita bahwa ia mengalami sebuah kejadian yang konyol sekali. Pada suatu sore ia hendak bepergian dari Jakarta menuju Depok. Ia menggunakan kereta commuterline.

Ia sudah membeli tiket yang benar, menuju peron yang benar, dan menunggu kereta yang benar. Namun sayangnya, saat ia menunggu kereta ia sedikit terlalaikan oleh beberapa urusan sehingga kereta yang ia dengar dan disangka menuju Depok, ternyata menuju Bekasi.

Sepanjang proses perjalanan, sayangnya teman saya ini juga entah mengapa kehilangan fokus dan terlalaikan oleh berbagai macam urusan dan tidak memperhatikan jalan sehingga ketika ia “kembali sadar”, alih alih Stasiun Depok, ia sudah berada di Stasiun Bekasi. Ia pun harus berputar balik untuk mencapai tujuan, mengulang, dan membuang sekian banyak waktu dalam kesia-siaan.

Saya menyimak cerita ini sembari manggut-manggut. Pemikiran saya kemudian berkelana dan menganalogikannya kepada sebuah realita di kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang mengakui keberadaan Tuhan dan agama, pastilah merindukan dan mendamba surga keridhoan Tuhannya.

Namun pertanyaannya: sudahkah kita menaiki kendaraan yang benar untuk mencapai sana? Ataukah, seperti kawan saya tadi, sesungguhnya kita sedang “terperdaya”. Mengira sudah berada di jalan yang benar dan lurus, tetapi setan membuat kita melalaikanNya. Hingga tahu-tahu, ketika sampai di akhir perjalanan, ternyata salah alamat. Naudzubillahi min dzalik.

Saya pun mengakui, bahwa di dunia ini sesungguhnya banyak sekali tipuan dan jebakan “fatamorgana”, saya pun sejujurnya kerap sekali terlalaikan dalam perjalanan seperti kisah orang tadi.

Terlalaikan oleh kesibukan yang tiada habisnya, keinginan2 duniawi, termasuk terkait update  di sosial media maupun aplikasi bicara yang senantiasa menggoda, game online, dan hal-hal lain yang mungkin tidak esensial. Tujuannya ridha Tuhan dan surga, namun tujuan kendaraannya berbeda. Mungkinkah akan sampai ke sana?

“Terlalaikan oleh kesibukan yang tiada habisnya, keinginan2 duniawi, termasuk terkait update  di sosial media maupun aplikasi bicara yang senantiasa menggoda, game online, dan hal-hal lain yang mungkin tidak esensial. Tujuannya ridha Tuhan dan surga, namun tujuan kendaraannya berbeda. Mungkinkah akan sampai ke sana?”

Melalui kisah ini saya menjadi memahami, bahwasanya kalimat “ihdinas shirathal mustaqim”, tunjukkan saya jalan yang lurus, yang dibaca minimal 17 kali dalam sehari, adalah kalimat yang sangat penting untuk dibaca, dimaknai, diresapi, dihayati, dan dipinta dengan sepenuh hati..

Ah ya, mungkin saya harus kembali memekakan mata, telinga, dan hati, untuk mengevaluasi kembali. Memperhatikan jalanan, genangan dan rambu-rambu yang sesungguhnya mungkin sudah diberikan Tuhan.  Sudahkah kendaraan kita melaju ke alamat yang semestinya?

 

Dimuat di Selasar.com

https://www.selasar.com/kreatif/tujuan-surga-dan-jalan-abuabu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s