Kehidupan Seperti Apa yang Hendak Kau Perjuangkan?

Kemarin, ketika sedang berselancar iseng di sebuah media sosial, saya menemukan sebuah gambar yang sungguh menggetarkan. Mungkin banyak yang sudah melihat gambar ini, namun izinkan saya mengulanginya kembali. Saya mendapatkan foto ini dari sebuah postingan facebook oleh Ustaz Ahmad Dusuki Abd Rani, mengenai berpulangnya seorang alim ulama kehadirat Allah SWT, Syaikh Abdul Munim Abu Zant. Sebuah gambar yang sungguh mengharukan dan menggetarkan jiwa, seorang hambaNya yang berpulang dengan sebuah senyuman tulus dan bahagia. Mata saya mendadak basah dan berkaca-kaca. Duhai, beruntung sekali Syekh ini. Dari akhir kehidupannya, beliau terlihat mendapatkan sebuah kebahagiaan tak terkira yang sempurna. Kenikmatan luar biasa yang tergambar dari senyuman yang begitu lebarnya. Saya sudah sering mendengar adanya orang yang meninggal dalam keadaan tersenyum bahagia, dalam keadaan sujud, dan dalam keadaan baik lainnya. Namun sungguh, baru kali ini saya melihat jenazah yang begitu berbahagia dan bercahaya, hingga senyuman yang begitu lebar terhias di wajahnya.

       “Kehidupan seperti inilah yang seharusnya kamu upayakan dan perjuangkan. Betapa ruginya saya jika saya tidak berhasil berbahagia di akhir hayat nantinya. Menyesali dan mengutuku diri dalam keabadian yang tiada bertepi.” Demikian batin saya berbisik. Merefleksi betapa kurangnya saya dalam berjuang dan beupaya untuk mendapatkan tujuan kemenangan yang sesungguhnya: berpulang dalam keadaan berbahagia dan bercahaya. Saya kemudian sungguh merasa penasaran, “Apa yang sesungguhnya sudah dilakukan oleh syekh ini, sehingga ia mendapatkan kebahagiaan yang sedimikian?” Saat makan malam, saya ajak suami saya berdiskusi singkat mengenai hal ini.

 

Saya: “Aku benar benar tertawan oleh pancaran kebahagiaan Almarhum Syeikh Abu Zant. Allah, melalui beliau menunjukkan tujuan dan kebahagiaan yang sesungguhnya harus kita kejar mati-matian secara nyata. Siapa sesungguhnya beliau? Dan kira-kira apa ya yang sudah beliau lakukan sehingga bisa meninggal dalam keadaan demikian? Apa rahasianya?”

Suami: “Bukankah sesungguhnya caranya sudah jelas? Di Al-Qur’an kan sudah dibahas semuanya.. Kita sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Hanya saja kita tidak melakukannya. Coba, satu hal saja.. Bisa tidak tahajud selama 30 hari penuh?”

 

Saya terhenyak di tempat. Merasa tertohok. Ah ya, saya sebenarnya sudah tahu. Rahasia itu sesungguhnya sudah bukan menjadi rahasia. Allah sesungguhnya sudah mengungkap “rahasia” hidup bahagia tersebut di dalam kitabNya. Beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya, menjadikan Rasulullah teladan dalam segala perbuatan, menjadikan Al-Qur’an pedoman, mendirikan shalat dengan khusyuk, menjaganya, rajin berpuasa, banyak bersedekah, tahajud, mencari dan menebarkan ilmu, meninggikan Islam dan membela agama Allah, senantiasa membersihkan hati, berlaku baik kepada sesama, amar ma’ruf nahi munkar, meninggalkan maksiat, dan berbagai hal baik lainnya.

Namun antara tahu, mau, dan mampu, antara pengetahuan dan pelaksanaan, memang memiliki kesenjangan yang signifikan. Seringkali, nafsu dan bisikan setan justru lebih dimenangkan ketimbang kebahagiaan sejati yang seharusnya diperjuangkan. Padahal, apa yang seharusnya dicari dan diperjuangkan di dunia ini? Apakah harta yang banyak? Kedudukan yang tinggi? Nama yang tenar dan diakui? Yang semuanya berujung pada satu kata yang (katanya) dicari semua orang mengatasnamakan harta, tahta, dan ketenaran nama: kebahagiaan. Namun yakinkah bahwa semua yang dicari mendatangkan “bahagia” yang sesungguhnya? Jika semua yang dicari dan dilakukan dijadikan alat untuk menuju kepadaNya, bisa jadi jawabannya adalah ya. Namun jangan sampai, alat-alat yang dicari justru mengaburkan kita dari tujuan yang sesungguhnya..

Bagi saya, Almarhum Syeikh Abu Zant telah menunjukkan kepada saya secara nyata arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Beliau, meski sudah tutup usia, memberikan inspirasi dan mengajarkan makna kepada orang-orang di seluruh dunia apa makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Ah ya, senyuman itu, kebahagiaan itu.. adakah yang lebih didamba ketimbang kebahagiaan sempurna ketika berjumpa dengan Rabb yang Maha Memiliki Segala?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s