It’s Not About Passion, It’s All About Reason

Beberapa waktu yang lalu, seorang rekan mengontak saya. Mengajak saya untuk berdiskusi mengenai perempuan (dan sekaligus ibu rumah tangga) yang memutuskan untuk berkarya secara independen mengejar passion. Memilih untuk tidak bekerja kantoran, namun mengejar impian. Jalan yang saya tempuh adalah menjadi seorang wiraswasta, atau istilah yang sekarang memang sedang didengung-dengungkan, entrepreneur. Saat saya mahasiswa dulu, seminar mengenai kewirausahaan begitu marak di lingkungan kampus. Sebagian besar mendengungkan pemikiran yang sama: jadi entreperenur aja. Duitnya banyak. Waktunya bebas. Kita bisa mewujudkan apapun gagasan yang kita impikan tanpa harus tertumbuk pada ketidaksetujuan boss. Semua kita yang memutuskan, tentu saja dengan keridhaan Tuhan. Saya sendiri, tanpa terkompori oleh sekian banyak seminar entrepreneurship sesungguhnya sudah berkeinginan membuat perusahaan sendiri semenjak SMA, dan bergelut di dalamnya selama beberapa tahun terakhir, mengakui kebenaran kalimat-kalimat yang dijanjikan di seminar-seminar itu. Jika dikatakan bahwa saya bergerak di bidang entrepreneurship karena passion, maka tampaknya hal itu ada benarnya. Bahkan dulu, di salah satu aplikasi untuk pendaftaran sebuah kompetisi entrepreneurship di kampus, saya mengatakan bahwa entrepreneurship sudah menjadi bagian dalam darah saya. I just have a big desire to make it happen, without any reason.

Namun, seiring dengan perjalanan saya hampir 3 tahun bergelut di ranah ini, saya menyadari satu hal. Passion saja tidak cukup untuk membuatmu bertahan dalam perjuangan. Satu hal yang sayangnya seringkali tidak disampaikan dalam acara-acara seminar: Berbisnis tidak semudah itu dan tidak semuanya yang manis-manis saja. Sama seperti halnya hampir semua hal di dunia. Selalu ada dua sisi, hitam-putih, yin-yang. Memutuskan menjadi seorang entrepreneur berarti bahwa kamu harus siap dengan segala kondisi dan kemungkinan. Harus siap memiliki jam kerja aktif sepanjang minggu Senin-Minggu, dan seringkali di waktu liburan pun harus menyelesaikan masalah atau menangani klien. Harus siap bekerja lebih keras, berpikir lebih keras, serta menanggung tanggungjawab dan tingkat stress paling besar di dalam perusahaan. Harus siap “membayar beberapa harga”, seperti jam tidur berkurang, sebisa mungkin mengurangi anggaran bersenang-senang karena lebih baik dialokasikan untuk usaha, berkurangnya waktu dengan keluarga, dan lain sebagainya. Dan kadangkala, ketika mungkin “jatah”nya tiba, semua kerja keras dan upaya itu dibayar dengan sebuah kenyataan yang bisa jadi membuat sakit kepala: kerugian yang membuat pusing tujuh keliling. Nah!

Saya masih ingat betul, ketika pada suatu hari, saya menjadi moderator di sebuah acara, dan yang menjadi pembicara adalah salah seorang sosok yang saya kagumi dalam dunia usaha dan sekaligus mentor saya. Beliau mengatakan bahwa, “Apa yang kamu inginkan dengan menjadi pengusaha? Jika yang kamu inginkan adalah cepat kaya, maka lebih baik tidak usah saja. Jadi politisi atau pejabat, maka kamu justru akan lebih cepat kaya,” mendengarnya saya menjadi terhenyak. Saya tahu, beliau adalah pengusaha yang sudah cukup besar omzet, profit, dan asetnya. Dan saya heran bahwa kalimat seperti ini meluncur dari beliau. Setelah berkisah lebih jauh, saya baru tahu bahwa beliau baru saja ditipu partner dan harus menanggung kerugian sebesar 2M. Saya hanya berdecak. Tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saya berada di posisi beliau. Tidak hanya sosok pembicara ini, beberapa waktu yang lalu saya juga mendengar kisah beberapa pengusaha yang harus menanggung kerugian sebesar 7M, atau bahkan 400 M. Mengerikan bukan?

Saya bukannya hendak menakut-nakuti. Saya hanya ingin memberikan gambaran yang seimbang. Bahwa selalu ada prinsip high risk, high return. High gain, high effort. Bahwa dalam setiap hal yang ada di dunia ini, adalah kumpulan dari keseimbangan dua kutub. Maka, sepanjang perjalanan saya dan pengamatan terhadap perjalanan orang-orang lain dalam sepak terjang dunia usaha, saya jadi memahami satu hal. Bahwa salah satu kunci sukses pengusaha terletak dalam dua kata: pantang menyerah. Baik dalam hal doa, mimpi, maupun aksi.

Saya sendiri, bisa dibilang beberapa kali sampai pada titik kulminasi: lelah dan ingin menyerah. Jika sudah sampai di sini, keinginan untuk menyerahkan begitu saja impian dan perjuangan bertahun-tahun, merelakannya pergi, lalu menjalani kehidupan biasa-biasa saja sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, hidup tentram dengan menulis dan berkreasi karya, seringkali begitu menguasai jiwa. Kehidupan tentram di zona nyaman begitu menggoda. Memang benar, jika seringkali dikatakan bahwa manusia itu kurang bersyukur. Ketika kehidupannya nyaman dan tenang-tenang saja, maka menjadi tergoda untuk mencari tantangan baru. Namun, ketika berada di dalam sebuah tantangan yang cukup pelik, menjadi ingin untuk berhenti dan kembali hidup dalam kenyamanan.

Maka, saya kemudian merenungi diri, bahwa passion saja tidak cukup untuk membuat kita terus bertahan dan tetap berjuang. Apalagi sekedar keinginan untuk menjadi kaya. Bisa jadi, ketika tantangan-tantangan dan friksi begitu pelik menghadang di hadapan, kita memilih untuk berhenti dan hidup biasa-biasa saja dan nyaman seperti orang-orang pada umumnya. Untuk itu, dibutuhkan sebuah reason atau alasan yang kuat untuk terus berjuang. Butuh misi yang dibawa. Butuh adanya visi mulia yang diperjuangkan. Bukan hanya tentang kepentingan dan keinginan diri sendiri, namun bagaimana diri kita bisa berkarya dan memberikan kebermanfaatan bagi orang banyak. Bagaimana diri kita dapat menjadi solusi bagi permasalahan umat Islam dan bangsa Indonesia. Bagaimana kita membulatkan tekad, untuk tetap berjuang dan menciptakan perubahan. Bukan hanya penonton atas suatu kemenangan apalagi pengutuk yang enggan menyalakan lilin dan hanya mengkritik pemerintahan ataupun keadaan. Bagaimana kita manjadi proaktif, mewujudkan masa depan Islam & Indonesia yang lebih baik seperti yang kita idam idamkan.. Maka “alasan” itulah yang harus dicari, ditemukan, dan diperjuangkan.. Dan alasan yang berorientasi kepada akhirat dan pengabdian kepada Tuhan, biasanya mewujud kepada motivasi dan antusiasme tanpa batas yang tak berkesudahan..

Ah ya, menjadi entrepreneur, atau mungkin orang yang sedang berjuang di ranah apapun, seringkali ini bukan hanya tentang mewujudkan passion,namun lebih kepada memperjuangkan reason. So, for what reason do you stand for?

 

A letter to myself,

22-8-15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s