Menggapai Kemandirian Finansial dan Keridhaan Tuhan melalui Usaha Sampingan

Menjadi seorang istri sholehah yang berbakti, taat kepada suami, membuat suami senantiasa berbahagia, setia, selalu menyayangi, dan betah di rumah, tentu saja menjadi impian bagi banyak perempuan. Ditambah lagi, jika kita berhasil menjadi seorang ibu teladan. Memiliki anak-anak yang menghayati keimanan yang kuat di dalam hati, akhlaknya mulia, cerdas-prestatif, mandiri, dan menelurkan banyak karya yang bermanfaat bagi umat. Terbayang betapa bahagianya bisa memenuhi amanah dan tanggungjawab secara maksimal sebagai seorang istri dan seorang ibu. Sudah begitu, di balik kesuksesannya dalam membina rumah tangga, ternyata sang ibu pun sangat produktif berkarya. Selain menghasilkan banyak amal jariyah melalui segudang buku dan tulisan, ia juga memiliki sebuah bisnis yang menghasikan profit milyaran per bulan, memberdayakan banyak karyawan, sekaligus menebarkan segudang kebermanfaatan melalui usaha sampingan. Sungguh impian yang sangat menyenangkan, bukan? 🙂

Maka, ketika masih zaman mahasiswa saya ditanya akan menjadi apa di masa depan, ilustrasi di ataslah yang akan menjadi jawaban. Namun, ketika saya akhirnya alhamdulillah mengikatkan janji suci dengan seorang lelaki, mimpi-mimpi yang tadinya saya patok sangat tinggi dengan sepenuh tekad kekuatan, mulai bergoyang perlahan. Tugas menjadi istri ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Apalagi jika mendengar kisah beberapa rekan yang sudah diberi amanah momongan. Seluruh waktu yang dimiliki habis untuk mengurusi rumah dan ananda kesayangan. Boro-boro bisa mewujudkan impian memiliki perusahaan. Bisa memiliki sedikit waktu untuk luluran saja benar-benar sebuah kenikmatan. Namun, saya tidak ingin menyerah dan merelakan impian serta passion begitu saja. Banyak perempuan di luar sana yang bisa sukses bisnisnya, sembari tetap menyeimbangkan peranan utamanya sebagai istri dan ibu yang baik. Saya kemudian berpikir, bukankah kita sama-sama makan nasi dan sama-sama memiliki waktu 24 jam? Jika mereka bisa, mengapa saya tidak?

Berangkat dari kegalauan ini, saya memulai sebuah perjalanan belajar. Mencari ilmu dari para pengusaha-pengusaha perempuan yang berhasil membangun istana di rumahnya sekaligus kerajaan bisnisnya. Menimba rahasia-rahasia sukses mereka dalam menyeimbangkan banyaknya tugas perempuan yang luar biasa. Siapa bilang bahwa ketika perempuan sudah berubah status menjadi istri dan ibu, lalu kemudian mimpi, karya, dan kontribusinya berhenti begitu saja? Perempuan-perempuan yang saya wawancarai, justru memulai bisnisnya ketika anaknya masih kecil, dan bahkan ada yang tidak lama setelah melahirkan anak keduanya. Ketika saya menelisik kepada perempuan-perempuan luar biasa ini tentang apa yang menjadi sumber energy dan motivasinya, hampir seluruhnya menyampaikan jawaban yang senada: Ridha Allah, Berbuat kebaikan, Ahsanu Amala. Diajeng, pemilik HijUp.com, sebuah e-commerce muslimah fashion yang paling top saat ini, mengatakan, “Walaupun repot, semuanya ibadah. Menjadi ibu, bekerja, berbisnis, dan lain-lain, semua yang dilakukan dalam rangka berbuat kebaikan.” Spirit yang sama juga yang mendorong Leony, menorehkan kontribusi kebaikannya melalui 3 bisnis sekaligus: Azkasyah, Bukit Air Resto, dan Alazqilla Shop. “Visi perusahaan kami adalah menjadi leader dalam dakwah di bidang fashion muslim untuk mencapai ridha Allah SWT, sedangkan salah satu misi kami adalah menjadi perusahaan yang memegang nilai amanah dan barakah.” Sedangkan seorang wanita luar biasa lainnya, yang pernah menjadi PimRed majalah Ummi dan Sakinah, ibu SIta Resmi, mengatakan, “Hamil itu ibadah. Menyusui juga ibadah. Menulis juga ibadah. Mengapa tidak dilakukan semuanya?”

Saya menjadi teringat, ketika pada suatu hari saya merasa tersentak tatkala menyadari tujuan hidup yang sesungguhnya. Dulu, yang saya pahami tentang tujuan hidup adalah yang terpenting meniatkan semua hal dalam rangka ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Pemahaman ini bersumber kepada sebuah ayat Al-Qur’an, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.” (Adz Zariyat: 51:56). Dari ayat tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa, asalkan niatnya sudah benar dan lurus hanya untuk mengabdi kepada Allah semata, maka insyaAllah “aman”. Namun, beberapa bulan yang lalu dalam sebuah acara peringatan kematian seorang tetangga di komplek perumahan, bu ustadzah menyadarkan saya akan adanya ayat lain yang lebih menggambarkan bagaimana seharusnya seorang muslim berlaku. “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (Al Mulk 67:1-2). Saya merasa mendapatkan sebuah frasa yang seharusnya dijadikan semangat perjuangan dalam menjalani kehidupan: Ahsanu Amala! Amalan terbaiklah yang seharusnya dicari dan senantiasa diupayakan dengan sepenuh kemampuan. Niat baik saja tidak cukup, namun harus terus berjuang dan berusaha keras untuk senantiasa menorehkan amalan terbaik. Karena itulah hakikat yang tersembunyi di balik keniscayaan hidup dan mati. Karena dari situlah Allah akan menilai yang mana di antara hamba-hambaNya yang pantas mendapatkan “hadiah agung” berupa keridhaan dan surgaNya. Amalan ini tidak hanya berupa shalat maupun mengaji, atau taat kepada suami dan mendidik anak dengan sepenuh hati. Namun juga mengumpulkan harta agar bisa lebih banyak bersedekah dan beramal jariyah, menebarkan ilmu, memberikan lapangan pekerjaan untuk orang lain, ataupun berdakwah melalui fashion, sesungguhnya juga merupakan ibadah. Menjadi ibu rumah tangga yang juga menjalankan usaha sampingan adalah sebuah tantangan yang tentu saja tidak mudah dan membutuhkan energy serta upaya ekstra. Namun, di situlah letak perjuangannya. Untuk masuk ke sekolah favorit atau universitas ternama saja membutuhkan perjuangan ekstra keras, masa untuk mendapatkan kenikmatan surga yang abadi, kita tidak mau berjuang dengan segenap jiwa dan raga?

“Kamu sudah merasa bisa masuk surga, ya?” demikian pertanyaan dari suami yang membuat saya terperangah ketika pada awal-awal pernikahan semangat perjuangan saya dalam menorehkan kebaikan malah menurun drastis daripada ketika masih lajang. Zona nyaman dan rutinitas rupanya telah “menjebak” saya. Menjadi istri bagi saya adalah sebuah jabatan istimewa, dengan segudang ladang pahala di dalamnya. Menyapu mendapat pahala, mengepel mendapat pahala, memasak mendapat pahala, memijat suami mendapat pahala, bahkan dalam kondisi terburuk pun, ketika sedang marah dan berhasil menahan amarah, juga berbuah pahala. Siapa coba yang tidak bahagia? Namun, ketika kami berdiskusi dan mengevaluasi performa saya yang stagnan atau bahkan agak menurun di bisnis yang saya geluti, pertanyaan di ataslah yang terlontar dari suami. Membuat saya sedikit-banyak merasa “tertampar” dan tersadar. Teringat oleh saya sebuah kata-kata dari seorang ulama, “Jangan pernah merasa aman sebelum sebelah kakimu menginjak surga.” Melakukan bisnis sebagai usaha sampingan selain menjalankan tugas utama perempuan sebagai istri dan ibu, tentu saja tidak sekedar diniatkan untuk membantu suami menguatkan pondasi rumah tangga. Para pengusaha-pengusaha perempuan yang luar biasa di atas memiliki misi yang jauh lebih besar dari sekedar mencari uang: menorehkan kebaikan, menebarkan kebermanfaatan, berdakwah dan meninggikan Islam melalui bisnis yang digelutinya. Salah satu hal yang saya khawatirkan ketika saya mau benar-benar serius di usaha sampingan yang saya geluti adalah tentang anak-anak. Saya khawatir amanah saya sebagai ibu menjadi kurang maksimal jika saya sibuk memperjuangkan visi yang lain. Namun, sebuah kalimat dari mbak Diajeng HijUp.com ketika saya bertanya tentang bagaimana anak-anak saat ditinggal pergi, sungguh menenangkan hati, “Yang penting dan harus dilakukan adalah memahamkan berulang-ulang kepada anak bahwa orangtuanya bekerja adalah untuk berjuang, demi kebaikan. Jadi role modelnya lengkap, ayah dan ibu adalah orangtua yang sama-sama berjuang untuk menorehkan karya yang terbaik. Anak ketika ditinggal juga menjadi lebih mandiri, dan belajar bersosialisasi juga dengan orang lain selain orangtua (nenek, kakek, teman, guru, asisten RT, dan lain sebagainya). Walaupun sedih saat berpisah, tapi mereka justru akan lebih happy dan menghargai ketika moment kebersamaan dengan orangtua.”

Lalu, bagaimana rahasia para wonderwoman ini dalam menyeimbangkan seluruh peranan perempuan yang luar biasa banyaknya? Berikut ini adalah 7 tips taktis mengelola usaha sampingan. Tips ini disarikan dari pembicaraan dengan beberapa pengusaha muslimah Indonesia, yang bisnisnya sudah memiliki banyak pendapatan dan menebarkan banyak kebermanfaatan.

  1. Benahi mindset & luruskan niat

“Semuanya dimulai dari pikiran. Jika kita berpikir bahwa usaha akan mengganggu rumah tangga, maka kondisi itulah yang akan diberikan Allah kepada kita. Sementara jika kita berpikir bahwa bisnis dan usaha akan meningkatkan kualitas hubungan antar keluarga dan kualitas anak-anak kita, maka kondisi itulah yang akan Allah berikan kepada kita..” demikian bunda Leony menuturkan ketika ditanya apa kunci keseimbangan peran. Bunda Leony juga mengatakan, bahwa ia dan suami meyakini anak yang pintar & sholih adalah berkat rahmat Allah, yang berasal dari doa-doa yang panjang dan rezeki yang halal. Membuka usaha sampingan adalah salah satu jalan dalam membawa rezeki yang halal nan berkah ke dalam keluarga, mengingat ada banyak sekali zona abu-abu di luar sana. Selanjutnya adalah meluruskan niat. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya, ingat selalu bahwa niatan dalam membangun bisnis bukan hanya tentang mencari uang ataupun mengumpulkan kekayaan, namun yang lebih utama adalah dalam rangka ibadah dan menebarkan kebaikan. Jika kita memang tulus bergerak untuk menciptakan kebaikan, berdakwah & berjihad melalui usaha, dan mengumpulkan sumber daya untuk lebih banyak berbagi kepada sesama, maka insyaAllah, Allah pun akan memberikan pertolongan. Selain sebagai ibadah dan sumber nafkah yang halal, niatkan juga perjuangan yang dilakukan adalah dalam rangka memberikan keteladanan. Ketika ayah & ibu sama-sama menjadi pejuang yang berusaha memaksimalkan potensi untuk berkarya demi menebarkan kebaikan, maka hal ini justru menjadi contoh positif bagi anak di masa depan.

  1. Tetapkan Visi dengan Kejujuran Hati

Ketika ditanya tentang tips taktis, mbak Diajeng HijUp.com menempatkan “Be Honest” di urutan pertama. “Yang paling pertama adalah jujur dulu dengan diri sendiri. Apa panggilan jiwa, passion, atau cita-cita tertingginya. Jika melakukan hal yang disukai/panggilan jiwa/passion, maka kita menjadi bahagia dan bisa melakukan apa saja,” demikian tuturnya. Begitu pula dengan bunda Leony. Dari dulu, impian, panggijaln jiwa, dan passionnya adalah memberdayakan masyarakat di sekitar rumahnya. Ketika ia menjalankan usaha sampingan berupa toko pakaian di dekat rumahnya, entah kenapa usahanya tidak berjalan dengan lancar dan justru menemui kebangkrutan. Setelah instrospeksi diri, ia menyadari bahwa ternyata ia sudah agak “melenceng” dari tujuan awalnya membuka usaha. Maka, ia belajar lebih banyak lagi lalu memutar haluan. Dari usaha yang berbasis perdagangan semata, menjadi bisnis yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Usahanya membuat pakaian muslim-muslimah dengan ciri sulam tangan khas bogor yang dibuat oleh ibu-ibu di sekitar rumahnya membuahkan hasil. Brand Azkasyah yang dibangun olehnya, saat ini sudah memiliki 600 karyawan, yang tersebar di 24 titik lokasi pemberdayaan. Dengan semangat pemberdayaan masyarakat ini, Leony masuk ke kampung-kampung untuk memberikan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kualitas kehidupan ibu-ibu rumah tangga. Berkat kerja kerasnya, bisnis yang sebelumnya mengalami kebangkrutan dan hanya menyisakan modal 1 juta rupiah, saat ini memiliki 600 Agen yang tersebar di seluruh Indonesia, dan juga Malaysia dan Singapura. Maka, mari sekarang kita berkontemplasi dan bertanya kepada diri sendiri, perubahan apakah yang hendak kita ciptakan? Ketika kita nanti mati dan meninggalkan dunia ini, warisan karya apakah yang hendak kita tinggalkan?

 

  1. Koordinasi strategi dengan suami

Berbeda dengan seorang lajang yang bergerak dan berjuang sendirian, dengan menikah berarti kita membentuk sebuah tim. Ibaratnya sebuah tim yang solid di dalam kompetisi olahraga, maka tim yang baik di dalam rumah tangga adalah yang saling menguatkan, mendukung dan melengkapi. Begitu pula yang terjadi di rumah tangga para mompreneur ini. Ridho suami adalah yang pertama dan utama. Jika ridho suami sudah didapatkan, maka insyaAllah ke depannya akan dilimpahi keberkahan. Yang kedua adalah berkoordinasi mengenai strategi, rencana ke depan, dan juga pembagian peran. Baik strategi dan rencana bisnis, maupun visi dan rencana pendidikan anak & keluarga. Peran antara ayah dan ibu di dalam pendidikan keluarga haruslah seimbang. Tanggungjawab pendidikan dan pengasuhan tidak hanya terletak pada ibu, namun juga ayah. Hal ini sesungguhnya sangat penting untuk diterapkan di seluruh keluarga baik memiliki usaha sampingan maupun tidak, agar sosok ayah juga selalu hadir maksimal di tengah-tengah keluarga, dan anak memiliki sosok teladan yang lengkap.

 

  1. Strategi Pelaksanaan & Manajemen waktu

Hasil yang baik, tentu saja merupakan buah dari pelaksanaan yang baik. Mbak Diajeng merangkumnya dalam sebuah frasa, “Keep Going”. Apapun yang terjadi, teruslah bergerak maju. Meskipun progress sedikit demi sedikit, namun jangan pernah menyerah. Intinya, sekecil apapun, harus tetap bergerak maju dan melakukan peningkatan dari posisi sebelumnya. Karena bagaimanapun, semuanya adalah dalam rangka ibadah. Maka menyerah hanya boleh dilakukan ketika nafas terakhir sudah dihembuskan. Semangat pantang menyerah inilah yang sebaiknya menjadi landasan utama dalam bergerak. Terkait teknis pembagian waktu harian, Bunda Leony membagikan salah satu strateginya: pembagian waktu dan hari. Pukul 06.30-08.00, adalah saatnya menyiapkan anak-anak berangkat sekolah. Setelah itu, berangkat ke kantor. Karena perusahaan milik sendiri, kantornya sangat dekat dari rumah sehingga waktu tidak “habis di jalan”. Setelah jam 6 sore hingga malam hari, adalah full waktu untuk berinteraksi dengan keluarga. Karena mengelola 3 bisnis sekaligus, Bunda Leony membaginya seperti ini.

Senin   : Azkasyah busana muslim.

Selasa  : Bukit air resto

Rabu    : CSR & Masyarakat

Kamis  : Azkasyah & Al Azqila

Jum’at : Mengajar

Sabtu   : Sharing bisnis dengan yang lain

Minggu: Keluarga

Dengan pembagian hari seperti ini, membudahkan bunda Leony untuk tetap fokus “one day one task” dan mengelola ketiga bisnisnya secara simultan. Memang, salah satu keuntungan bekerja pada perusahaan sendiri adalah memiliki fleksibilitas waktu yang dapat ditentukan sendiri sistem kerjanya.

 

 

 

  1. Maksimalkan quality time dengan keluarga

“Salah satu keuntungan yang didapatkan ketika ibu memiliki kesibukan lain adalah, ketika pulang bersama anak dan suami, waktu dan kesempatan yang ada menjadi sangat berharga, sehingga kita lebih maksimal berperan sebagai istri/ibu. Mungkin secara kuantitas waktu memang lebih sedikit, namun secara kualitas jauh lebih optimal,” demikian bunda Leony berkisah dalam sebuah seminar kewirausahaan. Salah satu strategi lain bunda Leony, ia benar-benar memperhatikan fase tumbuh-kembang anak, dan poin kritis apa yang perlu dipenuhi di usia tersebut. Misalkan anak pertama, Azka, yang duduk di kelas 2 SMK. Yang ia butuhkan di usia tersebut adalah tempat curhat yang mau mendengarkan. Maka sering mengobrol tentang hal-hal yang ia sukai menjadi poin yang sangat penting. Anak di usia ini tidak butuh dihakimi atau disalahkan. Maka menjadi sosok ibu yang menyamankan dan hadir ketika anak memiliki masalah, menjadi kunci yang sangat penting. Lain halnya dengan anak keduanya yang saat ini kelas 1 SMP. Ia yang memiliki hobi menggambar, mendapat dukungan penuh dari ibunya. Sedangkan anaknya yang ketiga, Ally, yang berusia 3 tahun, sedang masa-masanya bermain dan membutuhkan teman main. Maka Leony berupaya menjadi teman main yang menyenangkan bagi anaknya, seperti menemaninya main lego, atau hingga berantem penuh canda bersama ananda. Begitu pun ketika bersama dengan suami. Karena merasa bahwa saat-saat bersama suami adalah waktu yang sangat mahal dan berharga, maka kualitas interaksinya pun dimaksimalkan sekali.

 

  1. Do less. Delegasi.

“Jangan menjadi one woman show”, kata bunda Leony. Atau, “Delegasikan tugas di kantor dengan sebaik-baiknya,” kalau kata Mbak Diajeng. Keduanya, tetap membutuhkan bantuan dari orang lain. Baik itu asisten rumah tangga untuk menangani urusan kerumah-tanggaan, maupun tim dan bawahan di dalam bisnis. Delegasikan yang sekiranya bisa dengan lebih baik dikerjakan oleh orang lain. Selain melayani suami dan urusan pendidikan anak, bunda Leony memilih mendelegasikannya kepada asisten rumah tangga.

 

  1. Pray & Zikr

Ini sesungguhnya adalah kunci yang paling utama bagi keduanya. “Jagalah selalu kualitas ibadah harian, upayakan bangun sebelum subuh karena di situlah letak keberkahan. Berkah artinya dengan upaya yang minimal, namun menghasilkan dampak maksimal. Senantiasa berdoa agar setiap langkah yang dilakukan benar, dan diringankan beban tugas yang ditanggung. Yakini bahwa Allah tidak akan memberikan beban di luar kesanggupan. Jika merasa mendapatkan beban yang berat, maka sesungguhnya Allah melihat bahwa kita mampu. Tinggal diupayakan dan didoakan.” Demikian pesan Mbak Diajeng. Kalau Bunda Leony dan keluarga, membangun kebiasaan doa, sholat, dan tilawah bersama. Dengan begitu, selain untuk menjaga kondisi ruhiyah pribadi juga berfungsi untuk mengukuhkan ikatan batin dan hubungan antar anggota keluarga.

 

Dari hasil belajar saya terutama kepada mbak Diajeng dan Bunda Leony, saya menjadi belajar satu hal yang sangat penting. Semangat mereka untuk melakukan kebaikan dan menebarkan kebermanfaatan, menjadi energy utama dalam membangun usaha sampingan. Dengan visi yang besar, kita bisa berjalan lebih jauh, dan berjuang dengan lebih kukuh. Dengan visi yang besar pula, kebermanfaatan yang ditorehkan menjadi lebih luas dan berpengaruh. Menjadi seoran istri dan ibu, tentu saja merupakan sebuah “tiket emas” bagi para perempuan untuk menabung bekal kematian. Namun bukankah, ilmu dan potensi yang diberikan Tuhan, juga akan dimintai pertanggungjawaban? Maka, mulai hari ini, yuk bersama-sama kita mulai memikirkan masa depan yang lebih pasti: kematian. Mari kita menanyai diri sendiri, apa saja warisan amal jariyah yang hendak ditinggalkan, ketika waktu kita sudah habis di dalam kehidupan? Melalui usaha sampingan, maka impian kemandirian finansial sekaligus keridhaan Tuhan yang dicita-citakan, bisa menjelma menjadi kenyataan.

 

 

 

@nurimannisa

Wife. Entrepreneur. Creative Learning Designer.

Baca pemikiran penulis yang lainnya di

https://nurimannisa.wordpress.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s