“The Happily Ever After Marriage”

Semenjak kecil dulu, seringkali kita menonton kisah-kisah Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, dan berbagai macam kisah Disney lainnya. Hampir semua kisah kanak-kanak ini memberikan gambaran alur cerita yang senada: seorang gadis cantik nan baik hati, memiliki masalah berupa ancaman dari sesosok musuh yang jahat (ibu tiri ataupun penyihir yang iri), yang kemudian berusaha mencelakakan tokoh utama ini dengan berbagai cara. Di akhir cerita, tiba tiba datang seorang pangeran tampan yang kemudian menyelamatkan gadis cantik nan baik hati ini dari kutukan penyihir ataupun belenggu kekejaman ibu tiri. Penderitaan kemudian berakhir, pangeran tampan dan gadis cantik menikah, lalu ditutup dengan sebuah kalimat: “Happily Ever After”. Kisah-kisah ini memberikan gambaran kepada kita bahwasanya “menikah” bisa menjadi solusi bagi sebuah kebahagiaan abadi yang dicari. Pertanyaannya, benarkah seperti itu?

Kebetulan, saya mengikuti beberapa grup diskusi ibu-ibu. Banyak dari mereka mengatakan: “the real marriage is not like a fairytale which always say ‘happily ever after’”. Dan kebanyakan dari mereka ternyata kaget, setelah menemui realitas pernikahan yang tidak sesuai dengan bayangan. Jika menurut pandangan saya sendiri—yang alhamdulillah sudah menikah,walaupun masih seumur jagung—jika saya ditanya apakah kisah-kisah Disney itu benar adanya, saya akan menjawab bahwa Alhamdulillah, tingkat kebahagiaan saya meningkat berlipat-lipat setelah menikah. Hehehehe. Namun, memang benar jika dikatakan bahwa menikah itu tidak selamanya “maniiis” saja isinya. Dan untuk merasakan indahya dan manisnya penikahan, ternyata diperlukan sebuah “seni” dan “perjuangan” dalam mengolah pemikiran dan sudut pandang. Ibaratnya sebuah masakan, bisakah dibayangkan jika masakan itu terlalu banyak gula? Pasti akan menjadi terlampau manis dan mungkin malah membuat yang memakan menjadi eneg dibuatnya. Untuk membuat masakan yang enak, haruslah dipadu-padankan dengan garam, cabai, asam, bawang, dan berbagai macam bahan-bahan lainnya yang akan membuat masakan menjadi nikmat. Begitu pula dengan pernikahan. Justru kadangkala—berdasarkan pengalaman pribadi penulis sebelum-sebelumnya—pertengkaran-pertengkaran yang terselesaikan dengan baik justru bisa menambah hati semakin dekat, dan cinta semakin kuat. ❤

Alhamdulillah, hari ini saya berkesempatan untuk menimba ilmu dari sepasang suami-istri yang menurut saya luar biasa. Setelah 32 tahun pernikahan, dengan dikarunai 5 orang anak dan 2 orang cucu, saya masih merasakan binar cinta yang begitu tulus dari sang istri ketika menatap kepada sang suami, pun sebaliknya. Dua sosok yang menurut saya sangat patut dijadikan teladan bagaimana menyemai cinta di dalam rumah tangga. Membuat “happily ever after” yang dikisahkan cerita-cerita Disney bukan hanya kisah fiksi belaka, namun menjelma menjadi realita. Meski tentu saja, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk mencapainya. Dalam sebuah diskusi online yang dibuat oleh FC 4 Pendidikan Parenting Forum Indonesia Muda (sebuah komunitas kepemudaan yang diprakarsai oleh sepasang suami istri luar biasa ini, Bunda Tatty dan Pak Elmir), kami mereguk lebih dalam makna cinta dalam pernikahan.

Bunda Tatty mengatakan bahwa, hakikat cinta adalah pengorbanan. Hal ini senada dengan apa yang dipesankan ibu saya sebelum saya berumah tangga. Bahwa sesungguhnya hakikat cinta adalah memberi. Hakikat menikah bagi seorang perempuan adalah mengabdikan dirinya kepada Allah, melalui pengabdian kepada suami. Kebahagiaannya terletak ketika kita bisa memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan sesuai dengan peranannya. Perihal “buah” berupa suami/istri yang semakin sayang, itu hanyalah bonus. Tolok ukur dan bahan evaluasinya bukanlah bagaimana pelaksanaan peranan “dia”, namun bagaimana pelaksanaan peranan “saya”. Karena bagaimanapun, satu-satunya entitas yang kita memiliki kekuasaan penuh untuk mengubahnya hanyalah diri kita sendiri. Jika mengubah diri sendiri saja sedemikian sulit, bagaimana kita bisa mengharapkan orang lain/pasangan kita berubah? Ketika ada suatu yang tidak kita sukai dari pasangan, mungkin sudut pandangnya bisa dibalik. Daripada berpikir, “Bagaimana ia bisa berubah?” lebih baik berpikir, “Bagaimana saya bisa mengubah diri saya sendiri, untuk melakukan sesuatu, demi membantunya menjadi lebih baik?”

Pernikahan, yang dibangun oleh kesadaran (dan perjuangan) perbaikan diri kedua insan secara terbuka inilah yang akan menjadi pondasi kuat dalam membangun sebuah rumah tangga yang bahagia di dunia (dan insyaAllah di akhirat. Amiin). Hal inilah poin penting pertama yang saya pelajari dari kisah rumah tangga Bunda Tatty dan Pak Elmir. Bunda menceritakan bahwa, di 10 tahun, terutama 5 tahun pertama, keduanya saling melakukan evaluasi terbuka melalui surat, mengenai apa yang masing-masing sukai/tidak sukai dari yang lainnya, untuk menyamakan persepsi dan membuat keduanya semakin saling memahami. Niatnya adalah untuk memperkaya sudut pandang pribadi, agar bisa menilai dengan lebih baik apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan dari diri sendiri. Namun, meskipun saling melakukan evaluasi, sekali lagi, jangan bermimpi bisa mengubah pasangan. Jika evaluasi sudah disampaikan, namun ternyata perubahan sepertinya sulit sekali dilakukan oleh pasangan kita, padahal kita pun sudah membantu semaksimal mungkin, yang bisa dilakukan hanya penyesuaian, pemaafan, dan pengikhlasan yang tiada akhir. Bersyukur dan bersabar, menjadi dua kunci utama untuk meraih kebahagiaan. Tentang ini, saya menjadi teringat pesan seorang teman yang sudah menikah, ketika saya ingin menikah. Ketika saya meminta kepada beliau tips pernikahan, beliau hanya memberi saya satu kalimat, “Pokoknya Mel, Lowest your Expectation, Highest your Performance.”. Jangan berkekspetasi atau berharap lebih kepada pasangan, namun berfokuslah kepapada bagaimana memberikan performa pribadi yang terbaik dalam peranan. Saya jadi teringat perkataan seorang teman, “Reality will not hurt you, but expectation does.” Hal ini ternyata senada dengan apa yang disampaikan oleh Bunda Tatty dan Pak Elmir. Bahwa salah satu kunci utama mereka dalam membangun pernikahan yang berbahagia dan “happily ever after” adalah meminimalisir tuntutan kepada yang lain. Karena suami yang jarang atau bahkan tidak pernah menuntut sesuatu, maka bunda Tatty pun merasa sungkan memberikan tuntutan tertentu. Namun, tidak menuntut bukan berarti setiap pribadi tidak berupaya untuk menjadikan pribadi istri/suami yang lebih baik. Kembali kepada poin pertama, bahwa kesadaran evaluasi dan perbaikan performa pribadi yang terus menerus serta berkelanjutan adalah poin yang sangat penting.

Poin kedua yang saya pelajari adalah tentang komunikasi yang baik nan sehat. Perkataan harus selalu diupayakan lemah lembut dan tidak menyakiti. Bahkan, dalam keadaan marah sekalipun. Kata-kata yang tajam haruslah dihindari. Karena bagaimanapun, bukankah ketika kita menyakiti hati pasangan, lalu ia terluka, menangis, ataupun marah, kita juga akan merasakan sakit dan pedihnya? Karena bukankah, kepedihan yang paling pedih adalah, ketika melihat orang yang kita sayangi/cintai menderita? Maka, panggilan sayang dan penuh kasih menjadi sangat penting. Otak kita secara tidak sadar akan membentuk perilaku yang sejalan dengan informasi yang masuk ke dalamnya. Bunda Tatty menceritakan bahwa beliau pernah menyaksikan sepasang suami-istri yang cek-cok dan tidak ada rasa saling menghormati di antara keduanya, karena mereka terbiasa saling memanggil “lo-gue”. Pak Elmir juga menambahkan, “Dalam berkomunikasi harus dengan tutur kata yang lembut, dan emosi ditekan. Baelajar memahami pasangan, berusaha memahami terlebih dahulu baru meminta dipahami. Lebih banyak mendengar daripada berbicara, dan pegang erat komitmen terhadap keluarga.” Selain berusaha berkata lemah-lembut, “manajemen mengalah” juga perlu diperhatikan. Ketika salah seorang marah, maka yang lain harus mengalah dulu, dalam artian tidak membalas amarah dengan amarah pula. Saya jadi ingat, sebuah pesan dari ibu saya. Ibu saya mengatakan begini, “salah satu kunci dari rumah tangga sesunguhnya sederhana: Jika suami kamu marah, jangan ikut marah. Diamlah. Diamlah dulu hingga amarahnya reda. Walaupun kamu tidak salah, walaupun kamu yang benar, atau walaupun semua tuduhannya tidak ada yang tepat. Baru, setelah suasana membaik dan kau lihat bahwa kondisi emosi suamimu sudah lebih baik, maka barulah kamu boleh memberikan penjelasan, tentu saja dengan cara yang lemah lembut.” Dari kisah Bunda Tatty dan Pak Elmir, saya juga memperlajari hal yang senada. Penting untuk mengusahakan betul salah satunya bisa berkepala dingin dan mengontrol situasi ketika terjadi perbedaan pendapat. Mengalah, bukan berarti kalah. Mengalah, untuk sesuatu yang lebih besar, justru membuat kita menang, karena kita menjadi memiliki ketangguhan pribadi untuk mengelola amarah. Salah seorang kawan saya memberikan komentar yang menurut saya sangat menarik di akhir diskusi tersebut, “Jika menikah diniatkan untuk menyenangkan Allah dan ciptaan-ciptaanNya, insyaAllah hati akan dilapangkan selapang-lapangnya..” Ah ya, bukankah hakikat dari segala hal yang kita lakukan adalah dalam rangka ibadah kepadaNya? Dan bukankah, justru dengan menjadi orang yang mengalah dalam perdebatan meskipun benar, Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda?

Poin ketiga, dan poin yang paling penting, adalah doa dan senantiasa mencari keberkahan kepada Allah SWT. Bunda Tatty mengatakan bahwa, “Tidak ada titik aman dalam berumah tangga.” Maka penjagaan doa menjadi hal yang sangat penting. Bunda Tatty dalam kesempatan yang lain di akun Facebooknya mengatakan, “Menurut para tetua yang telah menuntaskan perjalanan pernikahannya dengan sukses, keselamatan pernikahan hanya bisa terjadi karena kasih sayang dan berkah Allah.” Cara meraih berkah Allah ini, konon harus diperjuangkan dengan 7 kunci utama: (1) saling peduli (2) selalu bersyukur, saling rela berkorban, dan berbagi (3) saling mendukung/memajukan (4) saling percaya (5) saling menghormati (6) saling mengingatkan ibadah (7) selalu menjaga rahasia rumah tangga. Ketika beberapa hari menjelang menikah, saya juga meminta sedikit wejangan kepada salah seorang sahabat saya yang sudah lebih dulu menikah. Ia mengatakan bahwa, “Yang terpenting doa, Mel. Doa sebelum menikah, saat prosesi pernikahan, hingga sepanjang jalan pernikahan. Minta dan berdoa kepada Allah, agar dijaga dari setan yang terkutuk dan senantiasa dibimbing perjalanan penikahannya menuju taqwa. Karena setan tidak akan pernah puas hingga seorang suami dan istri saling berpisah.” Saya pun secara pribadi merasakannya. Ketika keberkahan dan penjagaan dari setan tidak diselipkan dalam doa-doa setelah shalat, biasanya ada saja “sesuatu” yang terjadi.. Maka, jangan lupa selipkan doa, agar Allah senantiasa memudahkan langkah dalam rumah tangga menuju taqwa.

Pernikahan, memang bukan seperti kisah-kisah di fairytale yang biasa kita tonton saat kecil, yang kemudian serta merta “happily ever after” setelah janji suci diikrarkan. Bunda Tatty mengumpamakan bahwa pernikahan ibaratnya “sekolah” yang tak kenal kata “wisuda”. Pembelajaran, pengembangan, dan perbaikan diri berlangsung sepanjang hayat. Dalam proses belajar, seperti saat kita sekolah ataupun belajar naik sepeda, pastilah ada yang namanya ujian, ada yang namanya luka, ada rasa sakit, ada air mata, amarah, atau ada juga perasaan kecewa. Namun kombinasi dari semua itulah yang menjadikan manusia semakin matang, dewasa, dan bijaksana. Semua terpaan dan tempaan itulah yang kemudian membersihkan segala “kotoran hati” yang ada di dalam diri manusia. Sehingga ketika kita menghadapNya, sudah dalam keadaan bersih tanpa noda.

Maka, bagi para lajang yang belum menikah dan menemukan separuh dirinya, berjuanglah. Berusahalah. Namun, bukan berusaha “mengejar” atau “mendekati seseorang”. Bukan berusaha dengan cara “mengenal lebih dekat” seseorang melalui pacaran. Lakukanlah pendekatan dengan cara yang benar, hanya jika memang benar-benar siap ingin menikah. Berusahalah dalam memperbaiki diri, memantaskan diri menjadi istri/suami terbaik pagi pasangan kita nantinya. Jadikan siapapun pasangan kita di masa depan adalah orang yang akan merasa sangat beruntung mendapatkan diri kita, bukan malah menyesal berkepanjangan. Mulailah menggeser paradigma bahwa pernikahan adalah sebuah “ladang amal” untuk memberi, mengabdikan diri kepada Tuhan, dan memanen banyak pahala kebaikan. Bukan hanya sarana mencari dan mengharapkan kesenangan dari pasangan. Begitu pula bagi yang sudah menikah. Saya pun sebagai penulis yang merangkum ilmu ini masih sedemikian banyak kekurangan. Mari kita bersama-sama mengevaluasi diri, memperbaiki diri, dan menjadikan diri lebih baik dari kemarin, untuk memberikan amalan dan performa terbaik dalam berumah tangga, dalam rangka mewujudkan “happily ever after” menjadi nyata 🙂

 

 

Dari seorang istri,

Yang senantiasa tertatih memperbaiki diri,

nurimannisa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s