5 RAHASIA KUNCI MEWUJUDKAN IMPIAN MENJADI KENYATAAN

“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu (Arai),” demikianlah kalimat yang tertera di dalam salah satu buku tetralogi Laskar Pelangi: “Sang Pemimpi”. Kalimat itu, buku itu, sedemikian mengguncang relung-relung jiwa saya. Membuat saya, ketika kelas 2 SMA kala itu, menuliskan 100 daftar impian yang ingin saya capai selama hidup saya. Kalimat itu, sedemikian mendorong saya untuk menggapai impian-impian saya, dan meletakkan berbagai impian itu di dalam kepala saya selama kurang lebih 5 tahun setelahnya. Alhamdulilah, beberapa impian tercapai. Alhamdulillah, Tuhan benar-benar memeluk impian-impian itu dan mewujudkannya menjadi kenyataan, seperti apa yang Arai katakan di buku Sang Pemimpi. Sebagian lagi, tetap menjadi seuntai tulisan di atas kertas. Entah karena ternyata saya tidak benar-benar menginginkannya, atau karena saya memang tidak berusaha keras untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Mewujudkan impian, memang merupakan hal yang sangat membahagiakan.

Namun, ternyata, ketika saya memfokuskan segala daya dan upaya untuk mewujudkan impian-impian saya 4 tahun yang lalu (yang sebagian besarnya bersifat duniawi selain tentu saja menaikkan haji orangtua), hal itu justru membuat saya jauh dari Allah dan akhirat. Membuat saya “lalai” akan kematian yang bisa saja datang di tengah saya mengejar segala impian duniawi itu. Membuat saya harus menjumpai berbagai macam masalah karena orang-orang terdekat saya menganggap saya “tidak punya hati” atau “tidak memanusiakan manusia”, karena begitu ambisiusnya saya mengejar impian. Semenjak beberapa kejadian yang membuat saya melakukan instrospeksi dan rekonstruksi konsep diri besar-besaran, saya tidak lagi “berani” menggantungkan impian seperti dahulu lagi. Semenjak 2013, saya tetap bermimpi. Namun saya tidak lagi mengerahkan segala daya upaya yang saya miliki untuk mewujudkannya menjadi nyata. Saya tetap bergerak, terus bekerja, dan senantiasa berusaha berkarya. Namun dengan energy yang tidak sengoyo, seambisius, dan semaksimal sebelumnya. Saya lebih memilih untuk mengalir begitu saja, dan sayangnya, justru sering tidak mengupayakan yang terbaik dalam meraihnya. Jujur saja, dalam hati paling dalam, saya takut untuk kembali memasang mimpi tinggi-tinggi. Saya khawatir, bahwa bermimpi adalah bagian dari berpanjang angan-angan, yang bisa melalaikan saya dari kematian. Saya khawatir, bahwa bermimpi bisa membuat saya mengeraskan dan melalaikan hati, seperti yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Namun, kajian “How to Reach Your Dream” yang disampaikan oleh suami saya tercinta, Arry Rahmawan, pada hari Sabtu 31 Januari 2016 kemarin, di Masjid Sunda Kelapa, menggetarkan kembali relung-relung jiwa saya. Di rumah, kami sudah seringkali berdiskusi (dan juga berdebat produktif) masalah ini. Dan kesimpulan dari pembicaraan yang biasa-biasanya tetap sama: saya tidak mau lagi kembali ke “stase achiever” seperti dahulu. Bahkan, setiap kali suami saya tercinta menyebut kata “achiever”, di dalam diri saya seperti merasa alergi dan membentuk antibodi. Mungkin, hal ini disebabkan saya tidak ingin menelan pil pahit yang sama. Sampai ketika beberapa waktu yang lalu saya terhenyak dengan sebuah kalimat beliau, “untuk masuk surga, kita harus achieve, bukan?” Namun, kalimat itu hanya menyentak sejenak, lalu menghilang kembali ditelan rutinitas. Dan pada kajian sabtu kemarin, sentakan itu jauh lebih kuat, jauh lebih dahsyat, dan masih membekas lekat, hingga hari ini..

Siapa yang memiliki impian?

Saya yakin, bahwa setiap orang memiliki impian. Entah seberapa kuat keyakinan orang tersebut, entah seberapa keras ia berjuang untuk mewujudkannya. Setiap orang memiliki impian, meskipun sesederhana memberangkatkan orang tua untuk pergi haji (meski tentu saja mengumpulkan uangnya tidak sesederhana itu). Namun mengapa, ada orang-orang yang berhasil mewujudkan impiannya menjadi nyata, dan ada orang-orang yang membiarkannya tetap menjadi sebuah resolusi di atas kertas dari tahun ke tahun? Dan jujur saja, saya salut pada suami saya tercinta. Beliau berhasil mewujudkan banyak impian yang ia miliki, mencapai banyak hal, dengan semangat perjuangan yang jarang sekali padam. Mungkin kita (dan saya pun) bertanya-tanya, bagaimana caranya? Di kajian sabtu kemarin, beliau membeberkan 5 rahasia bagaimana mewujudkan impian menjadi kenyataan..

  1. SUMBER MOTIVASI: Ingatlah Selalu Kematianmu, dan Apa Yang Hendak Kamu Tinggalkan Setelah Mati

Perjalanan seorang Arry Rahmawan ternyata dimulai semenjak ia nyaris menghadapi maut saat kelas 2 SMP. Sebuah kecelakaan motor yang meninggalkan sebuah baret luka di bawah bibirnya, mengubah kehidupannya 180 derajat. Dari seorang anak gaul warnet yang memiliki hobi bermain game online seperti anak-anak remaja pada umumnya, menjadi seorang remaja muda yang memiliki tekad baja: menjadi seorang trainer yang bisa memberikan kebermanfaatan bagi banyak orang. Sumber energinya sederhana: Ia tidak ingin diri dan kehidupannya lewat begitu saja di panggung sandiwara dunia. Ibaratnya seorang figuran yang ada tiadanya ia tidak memberikan dampak apa-apa.

Keinginan beliau sederhana, beliau ingin kehidupannya di dunia ini memberikan makna. Dan hal itu, ternyata bergantung kepada kebermanfaatan yang sudah ditebarkan ke sekitarnya. Beliau memikirkan satu hal: “Ketika saya meninggal dunia nantinya, apa “warisan/legacy” kebermanfaatan yang akan saya tinggalkan?” Maka ia pun mulai menggantungkan impiannya: mengumpulkan jejak karya untuk bekalnya menuju kematian yang entah kapan datangnya. Beliau berpikir sederhana saja: ketika kita sudah meninggal maka akan terputuslah amal manusia kecuali 3 hal: (1) ilmu yang bermanfaat (2) doa anak yang sholeh dan (3) sedekah jariyah. Maka, demi memiliki sebuah “Passive Income” di akhirat, beliau mulai membangun impian-impiannya, satu demi satu. Ternyata, ketika impian digantungkan bukan hanya untuk memuaskan hasrat dan ambisi pribadi semata, namun untuk menjadi sebaik-baik abdiNya dan mempersembahkan karya terbaik untukNya sebagai seorang manusia, energy yang dipancarkan menjadi berbeda. Ketika niatnya menggapai impian adalah untuk Allah dan Rasulullah, berprestasi demi meninggikan Islam dan mengabdi kepadaNya, insyaAllah, bukannya semakin jauh dan lalai dari Allah, justru semakin dekat J Maka, jika dalam perjalananmu menggapai impian justru menjauhkanmu dari Allah atau membuat ibadah utamamu menjadi semakin berantakan, ada yang perlu dikaji kembali di dalam hati: benarkah semua perjuangan yang dipayakan untuk mewujudkan impian, betul-betul ditujukan untukNya dan mengumpulkan bekal menuju surgaNya, ataukah hanya sebagai pemuas nafsu pribadi semata?

 

  1. FOKUS, dan KUNCI Impianmu

Sebagai analogi kisah, Kak Arry memberikan sebuah gambaran: jalur penerbangan dari Los Angeles ke NYC. Jika diibaratkan NYC sebagai tujuan adalah impian, maka jalur yang tepat untuk mencapainya sangat dibutuhkan. Ternyata, pergeseran 1 derajat dari tujuan dan path penerbangan yang sesungguhnya, akan membuat pesawat mendarat melenceng hingga 117 mil jauhnya! Luar biasa. Itu baru 1 derajat. Bagaimana jika kita tidak fokus? Atau bahkan tidak mengarahkan pesawat ke arah yang benar? Dan Kak Arry memang membuktikannya. Dengan fokus yang terus menerus, beliau berhasil mewujudkan impian-impiannya menjadi nyata.

 

  1. Membuat Milestone/Storyboard

Ada sebuah riset menarik yang dilakukan seorang professor Harvard University. Di universitas terbaik di seluruh dunia tersebut, sang professor bertanya kepada murid-muridnya: akan menjadi apakah diri kalian di masa depan? 84% tidak bisa menjawab dengan jelas. 13% bisa menjawab dengan jelas, namun tidak detil. Hanya memberikan gambaran umum, namun tidak disertai dengan langkah-langkahnya. Sementara 3% mahasiswa lainnya, bisa menjawab dengan jelas apa impiannya, dan milestone atau bagaimana langkah-langkah untuk mencapainya. Hasilnya, setelah 10 tahun kemudian professor tersebut menemui mereka dan menanyai pendapatan mereka. 13% orang yang memiliki impian yang jelas, memiliki pendapatan yang lebih besar 2 kali lipat daripada 84% orang yang tidak memiliki impian yang jelas. Sementara 3% orang yang memiliki impian yang jelas dan detil, memiliki pendapatan berlipat-lipat jauh di atas 97% orang lainnya. Hal ini sangat menarik, karena menunjukkan pentingnya memiliki impian yang jelas, dan langkah-langkah yang detil bagaimana untuk mencapainya. Kak Arry menyarankan bahwa setelah dari sesi tersebut, setiap orang membuat storyboard masing-masing, mengenai ke mana ia akan menuju dan bagaimana langkah-langkah strategis untuk mencapainya.

 

  1. ANTUSIASME yang Tinggi

“Bagaimana orang lain yakin dengan impianmu jika kamu sendiri tidak yakin dan antusias dalam menceritakannya ke orang lain?” demikian Kak Arry bertutur. Membuat saya terdiam. Ah ya, betapa pentingnya ternyata berbagi impian dengan antusias kepada orang lain. Karena siapa tahu, orang yang kamu bagi impiannya, bisa membantu, atau setidaknya mendukung apa yang ingin kamu wujudkan? J

 

  1. Langkah Strategis Membangun Impian Menjadi Keyataan

Di sesi ini, Kak Arry menjelaskan 3 langkah strategis untuk bergerak mewujudkan impian. Tidak seperti biasanya, kali ini penjabaran 3 langkah dimulai dari angka 3, karena angka 1 adalah yang paling penting dan merupakan pondasi utama.

  1. Memantaskan Diri

Seringkali, kita ingin ini ingin itu banyak sekali, namun jarang melakukan refleksi: jika semua keinginan saya terpenuhi, apakah saya sudah pantas untuk menjadi orang seperti itu? Misalnya, kita ingin jadi seorang pengusaha sukses yang memiliki bisnis besar. Apakah iya, kita sudah pantas dan memiliki kapasitas untuk memimpin ratusan atau bahkan ribuan karyawan? Atau, jika kita ingin menikah dan memiliki jodoh lelaki/perempuan yang sangat baik: sholeh-sholehah, cerdas, kritis, penuh tanggungjawab, dll. Apakah diri kita, sudah menjadi calon istri/suami terbaik, sehingga pantas mendapatkan jodoh terbaik seperti yang kita cita-citakan? Kepantasan diri ini, menjadi penting. Seringkali kita terfokus untuk “mendapat”, tapi lalai untuk “menjadi”. Ada 3 kepantasan diri yang perlu dibangun:

Kepantasan#1: Sudahkah memiliki impian yang jelas?

Impian yang spesifik adalah yang memenuhi kaidah SMART. Spesific, Measureable, Achievable, Realistic, and Time Limit. Sebagai contoh: Saya ingin menaikkan pendapatan dari 5 juta menjadi 7 juta (specific & measureable) pada bulan Mei 2016 (time limit), dengan meningkatkan intensitas promosi online saya lebih banyak 2 jam per hari dari sebelumnya (realistic). Saya yakin bahwa hal ini dapat dicapai, karena sebelumnya saya berhasil meningkatkan pendapatan dari 3 juta menjadi 5 juta per bulan, dengan menambah waktu promosi 1 jam/hari (achieveable).

Kepantasan#2: Sudahkah memiliki kapasitas ilmu dan amal untuk meraihnya?

Hal yang paling penting dalam meningkatkan kapasitas ilmu adalah dengan mencari seorang Role Model, yang lebih dahulu melalui path yang ingin kita lalui dan sudah berhasil di dalamnya. Lakukan sedikit lebih baik dari Role Model yang kita tetapkan. Apakah dari segi bacaan, teknologi yang digunakan, inovasi yang dilakukan, dan lain sebagainya.

Penting juga untuk senantiasa mengelilingi sekitar kita dengan orang-orang yang memiliki standar yang tinggi. Jadi, kita akan bersemangat untuk mengalahkan, atau minimal menyamai, standard kualitas dan kapasitas orang-orang yang berada di sekitarnya. Seorang Mentor kak Arry mengatakan bahwa, “Dalam dakwah, jangan pakai standar No.2, kita harus selalu menggunakan standar No.1 sebagai seorang muslim. Terutama dalam hal ketepatan waktu dan menepati janji.”

Selain itu, menjaga amalan harian “standar” yang ditetapkan Allah juga menjadi hal yang penting. Misalnya: shalat 5 waktu, sedekah, shalat dhuha, tahajud. Karena Allah, akan mengabulkan permohonan hamba-hambaNya, dengan catatan, mereka menaati segala perintahNya.

Kepantasan#3: Sudahkah Melakukan Evaluasi Harian?

Salah satu penyebab impian tetap menjadi tulisan di atas kertas adalah tidak adanya evaluasi harian atas perjalanan kita menuju impian yang hendak kita capai. Sudah berada di mana kah kita dibandingkan dengan impian kita?

  1. Ridha dan Restu Orangtua

      Bagaimanapun, ridha Allah terletak pada keridhaan orangtua. Jika apa yang kita lakukan belum juga menemui titik terang, coba dicek. Apakah orangtua ridho dengan apa yang kita lakukan? Ataukah ornagtua justru memendam rasa ketidakrelaan?

 

  1. Minta Yang Terbaik kepada Allah SWT

Poin ini, mungkin adalah poin terakhir. Namun ini adalah poin kunci yang paling penting: doa dan tawakkal. Bagaimanapun, seringkali apa yang kita pandang sebagai yang terbaik bagi diri kita, ternyata tidak baik menurut pandangan Allah Yang Maha Mengetahui segala. Maka, selalu mintalah petunjukNya untuk ditunjukkan jalan yang Terbaik ketika menghadapi pilihan apapun. Karena Hanya Dialah, Yang Maha Mengetahui apa yang ada di belakang, di depan, di samping kiri dan kanan.. Apa Yang Terbaik bagi masa depan dan akhirat kita.. 🙂

Maka, tetaplah dan teruslah bermimpi, dengan tetap terfokus kepada kunci yang utama: Mencari dan mengharapkan keridhaanNya semata.. demi kembali pulang kepadaNya, dalam keadaan bahagia dan bercahaya… 🙂

Salam CerdasMulia!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s