Strategi Membangun Keluarga Harmonis & Bahagia

 

Memiliki keluarga yang harmonis, berbahagia, dan menyenangkan, pastilah menjadi impian bagi banyak orang. Namun, untuk mewujudkannya, memang diperlukan sebuah usaha yang konsisten. Kebetulan, saya memiliki pengalaman pribadi terkait hal ini, dan pada akhir pekan ini saya ingin berbagi kepada bunda-bunda sekalian :). Sejauh pengamatan saya, (tanpa bermaksud meninggikan diri), bisa dikatakan bahwa keluarga saya adalah keluarga yang paling hangat, seru, ramai, dan dekat hubungannya antar-anggota-keluarga, jika dibandingkan beberapa keluarga kakak atau adik kedua orangtua saya. Kami adalah orang-orang yang sangat suka berada di dalam keluarga dan beraktivitas bersama-sama. Saking sukanya, seringkali nenek saya protes. Jika ada sebuah keperluan kecil di luar yang agak jauh (misalkan sekedar membeli beras satu karung), maka seluruh anggota keluarga yang berjumlah 4 orang akan ikut semua sekaligus jalan-jalan bersama. “Rentang-renteng”, jika menurut bahasa nenek saya. Tidak efektif memang, namun kami sangat bahagia dengan hal ini. Menggunakan baju kompakan satu warna untuk berempat bagi kami adalah hal yang sangat menyenangkan, meski beberapa om dan tante melontarkan komentar miring “seperti anak panti” atau semacamnya. Kami tidak peduli apa yang orang lain katakan, yang penting kami berbahagia dan tidak mengganggu kepentingan orang lain. Karena sense of belonging di dalam keluarga yang sangat tinggi ini, kami memberikan julukan sendiri kepada empat orang “rentang-renteng” ini: Catur Gumbiro. Dalam bahasa Jawa, artinya adalah “Empat Bergembira”. Karena kami hanya akan merasa utuh jika beaktivitas berempat, dan akan merasa ada yang hilang jika satu orang berkurang.

Mungkin, penilaian ini bisa dikatakan sangat subjektif. Namun, yang hendak saya pelajari di sini adalah bagaimana caranya bisa membangun kedekatan dan kehangatan keluarga seperti itu. Pada suatu hari sewaktu masih kuliah, saya mengajukan pertanyaan kepada ibunda tercinta, “Mah, kenapa ya? Kok keluarga kita bisa hangat dan menyenangkan? Mengapa sepertinya selalu bergembira ketika berada di dalam keluarga. Apa rahasianya? Kenapa bisa begitu?” Mama pun tersenyum dan berkata, “Dulu, dan mungkin sampai sekarang, Bapak selalu berdoa setelah shalat. Doa Rasulullah SAW yang diambil dari Al Qur’an, surat (QS. Al-Furqân: 74) yang artinya, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa..”
Sebuah doa yang sederhana, namun ternyata memberikan dampak yang luar biasa di dalam keluarga.. J Jadi, jangan lupakan doa ini setiap setelah shalat yaa bunda.. 🙂 Selain doa, ternyata ada beberapa strategi yang bisa dilakukan juga oleh bunda di rumah. Beberapa strategi ini sudah teruji bagi kami, dan mungkin bunda bisa memodifikasinya sendiri sesuai dengan preferensi keluarga bunda 🙂

  1. Meluangkan waktu untuk bermain bersama di rumah
    Semenjak kecil dulu, jika hari libur atau akhir pekan tiba, kami sering memainkan permainan berempat seperti Scrabble ataupun Ludo. Momen-momen ini ternyata bisa menumbuhkan kekompakan dan kedekatan hati antar anggota keluarga, dengan biaya yang sangat minimal. Tertawa, bercanda, dan bersenang senang di dalam keluarga juga termasuk ibadah yang disukai Allah lho bunda.. 🙂
  2. Meluangkan waktu untuk melakukan diskusi bersama

Keluarga kami adalah keluarga yang suka berpindah-pindah. Dari Bontang (Kalimantan Timur), ke Jakarta, ke Jogja, lalu ke Semarang. Meskipun berpindah-pindah begitu, saya ingat adanya satu “kultur” yang hampir selalu ada di rumah yang kami tinggali. Kultur yang sangat sederhana: berbincang-bincang di ruang tamu. Entah sembari menikmati sore, menikmati malam, atau sambil makan malam (kami lebih suka makan di ruang tamu karena kursinya yang lebih empuk, hehe). Kami sering berkumpul 4 orang di sana, meski mungkin beberapa orang seperti saya dan adik menyambi mengerjakan pekerjaan lain di laptop setelah dewasa. Tapi kami memilih mengerjakan di ruang tamu alih-alih di kamar sendirian. Di dalam sesi “berkumpul bersama” itu, biasanya terbentuk diskusi-diskusi yang mengasah daya kritis kami baik secara pemikiran, wawasan, kehidupan, atau bahkan keagamaan. Bapak seringkali melontarkan pertanyaan-pertanyaan “menggelitik” yang membuat kami berpikir, melontarkan argumen, dan berdiskusi. Ketika masih di usia yang lebih kecil, ketika kami belum pandai berargumentasi, seringkali Bapak yang bercerita entah tentang perjalanan hidupnya, kisah-kisah berhikmah, ataupun kisah lainnya.

 

  1. Meluangkan waktu untuk berkegiatan bersama yang disukai semua

Saya ingat betul, bahwa semasa kecil dulu (saat di Bontang dan Jogjakarta), hampir setiap minggu kami berenang bersama. Meski hanya kecipak-kecipak di air saja, namun itu adalah kegiatan yang sangat menyenangkan! Ketika kami menjadi lebih besar dan mulai malas berenang (karena saya juga mulai memperhatikan penampilan dan khawatir menjadi hitam), maka kegiatan ini pun diganti dengan jalan pagi bersama ke Simpang Lima saat di Semarang. Jarak tempuh yang lumayan (sekitar 30 menit berjalan kaki) membuat kami banyak melakukan diskusi dan interaksi di sepanjang jalan. Semuanya adalah kegiatan yang murah meriah, dan tidak perlu banyak biaya 🙂 Atau, ketika kami menjadi lebih dewasa dan menjadi anak rantau semuanya, kami memiliki sebuah “kultur” yang wajib dilakukan ketika saya dan adik “pulang kampung” ke Semarang: Karaokean. Keluarga kami yang memang sama-sama suka menyanyi, menyempatkan diri untuk pergi ke Karaoke dan bernyanyi bersama. Jika masa liburan yang lebih panjang tiba, maka biasanya kami menyempatkan diri untuk “plesir” atau liburan ke tempat-tempat wisata seperti Pantai, Candi, Air Terjun, dan lain sebaginya. Melakukan kegiatan-kegiatan bersama semacam ini meninggalkan kesan yang mendalam dan menyenangkan. Tidak perlu aktivitas liburan yang mahal, namun yang penting berkesan, penuh interaksi yang menyenangkan, dan penuh kehangatan.

 

Semoga sedikit pengalaman pribadi ini bisa diterapkan di keluarga bunda, dan bisa menambah kehangatan, kebahagiaan, dan keharmonisan di dalam keluarga bunda.. Selamat berakhir pekan! 🙂

 

Advertisements

2 thoughts on “Strategi Membangun Keluarga Harmonis & Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s