Strong Father, Strong Children

Malam ini, di salah satu grup diskusi Parenting favorit saya, sedang membahas sesuatu yang sangat menggetarkan jiwa: peranan ayah di dalam keluarga, terutama bagi anak perempuannya. Bagi saya pribadi, sosok ayah sungguh demikian istimewa. Sebagai seorang anak perempuan pertama dan satu-satunya, peranan ayah sedemikian kuat dan berperan dalam membentuk kepribadian saya saat ini. Ayah adalah idola dan pahlawan pertama, dan sebagai tolok ukur standard saya akan “tipe laki-laki yang baik”. Bahkan, dulu sering sekali saya mengatakan kebada ibunda, ingin memiliki suami yang seperti Bapak. Atau, merasa “iri” kepada Mama yang bisa memiliki suami seperti Bapak, dan merasa menyesal terlahir belakangan. Mungkin hal ini terkesan lucu atau aneh, tapi berdasarkan penelitian, memang ayah yang baik justru sebaiknya menjadi “cinta pertama” anak perempuannya. Memang, kebanyakan kajian dan saran-saran parenting, ditujukan kepada Ibu, dan kebanyakan pesertanya adalah ibu-ibu. Namun, sesungguhnya (dan saya pun merasakan sendiri di dalam kehidupan saya), ayah memiliki peran dan dampak yang sangat signifikan dalam pribadi anak-anaknya, baik anak laki-laki maupun perempuan.

Di dalam tulisan ibunda Elly Risman yang berjudul “Vitamin A untuk anak kita”, disampaikan bahwa obrolan sederhana antara anak dan ayah membuat anak menjadi tumbuh menjadi orang dewasa yang:

  • suka menghibur,
  • punya harga diri yang tinggi,
  • prestasi akademis di atas rata-rata, dan
  • lebih pandai bergaul.

 

Sementara ayah yang kurang banyak mengobrol atau bercengkerama dengan anak perempuannya, membuat anak perempuannya:

  • mudah jatuh cinta dan cenderung mencari penerimaan dari laki-laki lain
  • 7-8 kali lebih mungkin memiliki anak di luar pernikahan
  • Cenderung suka lelaki yang jauh lebih tua, dan
  • Cenderung lebih mudah bercerai.

Sedangkan anak laki-laki yang jarang diajak ngobrol oleh ayahnya:

  • Lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak criminal
  • Cenderung lebih cepat puber di usia yang lebih muda
  • Cenderung join a gang
  • Cenderung menemui kesulitan mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan di masa dewasa.

Salah satu ciri anak yang kekurangan vitamin A adalah lebih rentan terhadap peer pressure. Lalu, bagaimana caranya menjadi ayah yang baik dan apa saja yang perlu dilakukan? Berikut ini adalah beberapa tips yang saya pelajari dari apa saja yang terjadi di rumah.

  1. Kenalkan Ia Kepada Tuhan

Satu hal yang sangat amat saya syukuri dari pendidikan di rumah adalah, betapa Bapak sangat mengenalkan kami (saya dan adik) kepada Allah. Kenal di sini adalah kenal dalam artian yang sesungguhnya, baik menanamkan secara pemikiran maupun masuk ke dalam hati. Mengenalkan di sini bukan sekedar menyuruh untuk shalat atau beribadah, (karena justru saya pribadi merasa jarang sekali disuruh-suruh untuk shalat), namun benar-benar mengajak kami untuk memikirkan kehadiran Allah. Dialog-dialog mengenai Tuhan, kematian, kiamat, dajjal, akhirat, adalah hal yang sangat biasa terjadi di dalam keluarga. Dialog ini seringkali terjadi begitu saja. Ketika sedang duduk-duduk sore menikmati senja, ketika sedang duduk-duduk bersama di ruang tamu sembari makan malam, ketika sedang shalat di masjid, dan lain sebagainya. Selain itu, Bapak yang sangat mencintai masjid, rajin sekali mengajak seluruh keluarga untuk shalat Jum’at bersama, termasuk saya dan mama yang merupakan perempuan. Dan ini terjadi semenjak saya kecil. Jadi, kami sangat familiar dengan masjid dan surau, dan terikut mencintainya. Dialog-dialog keimanan, yang membuat kami lebih mengimani dan mengenal Tuhan. Saya yang seringkali punya banyak pemikiran nyleneh pun sering bertanya ini-itu. Dan yang saya senantiasa suka, Bapak senantiasa memiliki jawaban yang baik. Meskipun mungkin sebenarnya tidak tahu, Bapak senantiasa memberikan jawaban kritis yang memuaskan J Dialog-dialog inilah yang senantiasa saya rindukan, tatkala saya pulang ke rumah. Dialog-dialog yang menyejukkan dan menggetarkan relung-relung jiwa.

Tidak hanya itu, bapak yang juga mencintai zikir dan takbir, setiap malam takbiran Idul Fitri/Idul Adha senantiasa menyempatkan menyetel takbir di dalam rumah, atau sekedar keluar ke teras berempat (saya-bapak-mamah-adik), lalu bersama-sama melantunkan takbir bersahut-sahutan dengan masjid, hingga waktu tidur tiba sembari menunggui opor matang. Sederhana, namun sungguh sangat berkesan. Bapak juga senantiasa mengingatkan tentang arti ibadah yang sesungguhnya, agar kami tidak sembarangan melakukan ibadah tanpa memahami hakikatnya. Saya ingat betul, ketika itu kami hendak shalat dzhuhur berjamaah. Karena sembari menunggu antrian wudhu, saya dan adik bercanda kesana kemari, ketika akhirnya akan shalat, Bapak mengatakan, “yuk menghadap Allah dulu. Serius. Ketawanya disimpan dulu.” Saya terdiam dan terhenyak. Sudah sekian banyak melaksanakan shalat, baru kali itu saya “ngeh” dengan makna shalat yang sesungguhnya: pertemuan cinta seorang hamba kepada Rabbnya..

  1. Sayangi Ia dengan sentuhan dan belaian

Bagi anak, sentuhan dan belaian di kepala dan pundah adalah vitamin yang menyejukkan. Sesederhana saya sedang duduk di ruang makan, lalu bapak lewat meja makan sembari mengelus kepala saya. Sungguh, kalaupun ketika itu saya sedang kesal atau marah dengan Bapak, begitu mendapat sebuah belaian lembut di kepala, air mata langsung menggenang di pelupuk dan hati menjadi hangat. Meskipun anak sudah dewasa dan bukan anak-anak lagi, sentuhan dan belaian singkat di kepala ini tetap diperlukan lho aybun.. 🙂

  1. Asah logika dan cara berpikirnya

Di rumah, dialog dan pembicaraan memang senantiasa terbuka. Tidak hanya saya yang sering mengajukan pertanyaan, namun Bapak juga seringkali memberi kami pertanyaan pertanyaan menarik untuk dipecahkan, sebelum akhirnya menyampaikan hikmah di baliknya. Dari situ, kami belajar cara berpikir logis, mengolah sudut pandang, dan bagaimana merunut suatu permasalahan menjadi sebuah solusi.

  1. Ajak dia melihat dunia

Jujur saja, dulu saya memiliki obsesi untuk menjelajah dunia adalah karena Bapak yang dulu seringkali menceritakan berbagai tempat di dunia dan keindahannya. Tidak hanya itu, diskusi mengenai permasalahan politik, ekonomi, maupun berita terkini membuat kami memiliki pemahaman yang cukup luas akan bagaimana dunia ini berjalan.

  1. Ajarkan ia menjadi orang yang rendah hati dan penuh empati

Kegiatan yang paling saya sukai saat menjelang lebaran adalah membagi-bagikan beras zakat fitrah. Daripada memberikan zakat fitrah langsung kepada lembaga, Bapak lebih suka membagi-bagikannya sendiri kepada orang-orang di jalanan yang sekiranya membutuhkan. Bukan pengemis atau orang yang meminta-minta, namun orang-orang miskin yang sesungguhnya: yang bekerja keras namun hidupnya masih kekurangan. Setelah besar, kami seringkali berkeliling kota menggunakan mobil dan disuruh memilih mustahik sendiri. Setelah bertemu dengan sosok yang “srek” di hati dan sekiranya membutuhkan, kami sendiri yang turun ke jalan dan memberikan. Pengalaman mendapatkan senyuman kaget bercampur haru dari orang yang tiba-tiba mendapat “uang kaget” itu adalah pengalaman yang tak terlupakan.

  1. Ajarkan ia untuk menjaga diri, Jadilah Seperti Sosok Pria yang Anda Inginkan Untuk Dinikahi (untuk anak perempuan).

Bapak senantiasa mewanti-wanti kepada kami berdua, untuk menjaga diri dari yang namanya pacaran. Pendekatannya selalu dengan logika, bahwa kami akan “rugi” serta buang-buang waktu, energy, dan uang jika memutuskan untuk pacaran. Selain itu, Bapak juga menunjukkan “standard” laki-laki yang baik di mata saya. Sehingga jika ada lelaki yang mendekati namun jauh kriterianya dari ayah saya, langsung saja saya masukkan ke daftar coret 😀

  1. Ajarkan ia akan arti Kerja keras, bersungguh-sungguh, dan fokus

Ini adalah pesan yang hingga sekarang senantiasa terngiang-ngiang dan sebisa mungkin saya terapkan. Bapak sangat menekankan anak-anaknya (yang cenderung malas dan suka seenaknya sendiri ini) untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam segala hal. Belajar sungguh-sungguh, bekerja dengan sungguh-sungguh. Bekerja keras dalam mencapai sesuatu, karena hasil hampir pasti akan mengikuti usaha yang dilakukan. Bapak juga senantiasa mengingatkan kami untuk fokus, dan jangan mudah tergoda dengan “distraksi-distraksi” yang terlihat enak, namun sesungguhnya melencengkan dari tujuan.

  1. Ajarkan ia untuk memiliki visi akan masa depan

Dulu, saya ingat betul bahwa ketika SMP, Bapak memberikan saya sebuah pertanyaan:”Ingin jadi apa kamu 10 tahun lagi coba tuliskan profesi yang kamu inginkan 1-10.” Dari situ, saya bisa melihat apa kecenderungan diri saya, dan di bidang apa sekiranya saya harus bergerak

9. Latih kemandiriannya, namun tetap berikan bekal perlindungan untuknya

Saya ingat betul, bahwa semenjak kelas 1 SD, saya sudah disuruh untuk berangkat sekolah sendiri dengan berjalan kaki, karena jaraknya yang cukup dekat. Atau ketika kelas 5 SD, saya memilih bersepeda dari rumah ke sekolah sejauh 2,5 km daripada diantar seperti biasanya agar bisa bermain. Namun, yang saya tidak tahu, Bapak senantiasa mengikuti dari belakang diam-diam tanpa terlihat, untuk memastikan anak perempuannya baik-baik saja. Jadi, saya dilatih untuk mandiri, tapi tetap diberikan support system sebagai pelindung di belakangnya. Begitu pula saat saya iseng-iseng membuat cincin dan gelang dari manik-manik untuk dijual. Bapak dengan senang hati membantu merekatkan senar menggunakan lilin, agar tidak berbahaya untuk saya :” Pun dengan adik saya yang laki-laki, Treatmentnya pun berbeda. Ketika adik saya dulu sering “diserang” oleh temannya baik secara fisik maupun mental, Bapak mengajarkan jurus-jurus pertahanan dasar baik secara verbal maupun fisik.

10. Ayah sebagai Pemimpin Harmonisasi Keluarga

Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel sebelumnya, Bapak senantiasa memberikan ide maupun mengajak keluarga untuk beraktivitas bersama, untuk menjadikan keluarga menjadi dekat, rekat, dan erat. Silakan baca selengkapnya .disini

 

Demikian 10 tips pendidikan rumah dari ayah tercinta 😀 Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca yaa. Dan semoga baik para ayah maupun calon ayah, bisa selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.. J

Demikian 8 tips pendidikan rumah dari ayah tercinta 😀 Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca yaa. Dan semoga baik para ayah maupun calon ayah, bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s