23 Years of Life #SelfReflection

Hari ini, tepat 23 tahun sudah usia saya berkurang.

Tak dirasa, saya yang 23 tahun yang lalu dilahirkan sebagai seorang bayi mungil ke dunia, sebentar lagi insyaAllah akan mengambil peranan yang sama: melahirkan seorang manusia lain ke dunia.

Inilah usia titik balik saya sebagai seorang wanita. Dari seorang “single” yang bebas ke mana-mana, menjadi seorang “ibu berbuntut” dengan segudang tanggungjawabnya.

Dua-puluh-tiga, bilangan yang tak bisa lagi disebut kanak-kanak. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus mendewasa. Menuntaskan dengan lebih cepat permasalahan dengan diri sendiri, karena selanjutnya Allah menitipkan sebuah tanggungjawab yang jauh lebih tinggi kompleksitasnya: mendidik dan membimbing manusia lain sepenuhnya.

Ah ya, saya paham betul bahwa saya tak sempurna. Namun, semoga di usia ini Allah berkenan memberi saya kekuatan untuk menjadi ibu terbaik bagi anak saya nantinya.. :”

Semoga, mulai di usia 23 ini saya bisa semakin mendewasa, dan semakin banyak karya, amal, dan bekal yang bisa tercipta :”)

Sudah tiga tahun lamanya, semenjak terakhir kali saya menuliskan #selfreflection di hari ulangtahun saya. Refleksi di usia 22, justru hilang karena salah prosedur saat menyimpan data. Refleksi di usia 21, entah saya letakkan di mana, mengingat saat itu tengah sibuk mempersiapkan acara lamaran saya di tanggal 25 september.

Maka, di usia 23 yang menjadi titik balik saya lagi, saya hendak mengekalkan tinta kembali. Sembari melihat kembali ke belakang, saat saya berusia dua puluh tahun, di mana nampaknya rasa bersyukur saya justru lebih banyak dan lebih baik daripada saat ini :” astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni saya, dan menjadikan saya termasuk orang yang bersyukur. :”

Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengingat kembali, refleksi diri 3 tahun silam, yang ternyata menyuarakan hal yang tak jauh berbeda hingga tahun ini. ah ya, sebegitu lambatnya saya bertumbuh ternyata :”

Tulisan ini, sekali lagi, ditujukan untuk diri saya sendiri di masa yang akan datang, untuk menjadi pengingat kala saya alpa mengenai tujuan perjalanan…

 

***

 

REFLEKSI #duapuluhtahun Hari Ini:

Sudah Sekian Banyak Nikmat yang Diberi,

Apa yang Hendak Kau Bagi dan Dedikasi?

Sebuah catatan menjelang detik-detik kelahiran, dua puluh tahun yang silam.

 

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, yang telah tanpa lelah dan bosan memberikan nikmat dan kasih sayangNya kepada saya , keluarga saya, dan hamba-hambaNya hingga hari ini.

 

Setengah jam lagi. Ya, setengah jam lagi.

Saya yakin, bahwa saat ini, pada jam ini, dua puluh tahun yang silam, seorang wanita tengah berjuang mati-matian melawan rasa sakit dan penderitaan. Antara hidup dan mati. Berjuang melawan pedih dan perih, demi memperjuangkan sehela nafas baru ke dunia ini. Dengan darah dan air mata. Ya, Mama. Wanita paling luar biasa yang pernah saya temui. Wanita perkasa dengan kesabaran tiada tara dan kelembutan tiada dua. Wanita yang dengan sepenuh kasih dan sayangnya membesarkan dan merawat saya hingga saat ini, dua puluh tahun lamanya. Bukan waktu yang singkat, untuk terus konsisten dalam kesabaran dan kasih sayang penuh pengertian. Untuk bertahan dalam kesabaran tanpa kemarahan. Tampaknya baru dua kali sepanjang dua puluh tahun saya hidup di dunia ini, saya melihatnya dengan gurat kemarahan di wajahnya. Ya. Karena perjuangannya di dua puluh tahun silam dan konsistensinya di dua puluh tahun sesudahnya lah, saya bisa berdiri sebagai Melinda Nurimannisa yang saat ini kau jumpa.

“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak kamu dustakan?” kalimat itulah yang senantiasa terngiang-ngiang di kepala saya semenjak pukul dua belas lewat tiga menit malam tadi. Saat saya menemukan sebuah bingkisan paket ketika memasuki kamar pertama kali. Kejutan. Dikirimkan langsung dari kampung halaman. Sepasang sepatu cantik dan sebuah tas tangan dengan warna senada. Terselip sepucuk surat di balik kotak sepatu yang berhasil membuat pandangan saya mengabur seketika.

”…Semoga engkau benar-benar menjelma menjadi seorang wanita yang berpendar dengan cahaya imannya. Menjadi inspirasi bagi sesama muslimah baik yang di sekitarmu, di mata masyarakat umum, bahkan di mata bangsa dan negara. Semoga engkau bisa bermanfaat bagi sesama, melalui ilmu yang diberikan Tuhan kepada dirimu, melalui akhlaqul karimah yang jadi hiasan pada tingkah lakumu, dan melalui kecantikan batin & jasmani yang dianugerahkanNya untukmu… (Sepenuh cinta dan sayang, ayah&bunda)”

Sungguh, ini adalah doa dan kado terindah kedua setelah nama luar biasa yang orangtua saya berikan kepada saya. Nurimannisa: Wanita yang berpendar dengan cahaya imannya. Saya luluh. Saya luruh. Tak kuasa membendung air mata yang membanjir tanpa suluh. Sungguh, saya malu, malu sekali. Selama ini sudah terlalu banyak mengeluh dan kurang berbakti dengan segenap peluh. Sekiah banyak. Sungguh sekian banyak. Nikmat yang telah Tuhan berikan kepada saya, baik yang saya pinta maupun tidak. Keluarga dan orangtua yang luar biasa, teman-teman yang luar biasa, kesempatan, peluang, dan takdir yang luar biasa, dan juga tanah air yang seperti tanah surga dan kaya raya. Sudah sekian banyak nikmat yang diberikan olehNya, lalu apa yang sudah saya beri dan bagi sebagai bentuk bakti, abdi, dan dedikasi? Pertanyaan ini benar-benar menampar: membuat saya tersungkur dalam tangis di sudut kamar.

Pengabdian yang terpenting adalah pengabdian kepada Tuhan, sayang,” masih saya ingat benar kata-kata Mama kemarin sore, ketika beliau menelepon dan menyinggung-nyinggung masalah usia duapuluhtahun. Pernyataan itu membuat saya makin merasa malu. Pengabdian macam apa yang sudah saya lakukan sejauh ini? Saya hanya bisa menggigit jari. Ya, saya menyadari, bahwasanya hidup diibaratkan tak lebih dari sehari. Waktu kita sangat singkat di dunia ini, yang akan menentukan dalam rupa seperti apa ketika kita Kembali. Bagi saya, hidup adalah sebuah perjalanan menuju mati. Life is a journey to back Home. Kembali Pulang. Bagaimana kondisi ketika kita pulang nanti? Kitalah yang berwenang untuk memilihnya sendiri.

Dengan sebuah perjuangan mati-matian penuh peluh dan penderitaan, saya bisa menyesapi dinamika dunia ini. Maka dengan perjuangan pulalah, seharusnya saya menyiapkan diri untuk kembali. Saya merasa hingga saat ini, perjuangan saya masih minim, dedikasi dan kontribusi saya masih nihil. Maka, saya berdoa, mengulum  pinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa suatu saat nanti, jika “masa pengabdian” saya sudah habis di dunia ini, saya akan Kembali dalam kondisi terbaik yang pernah saya temui: berpendar dalam cahaya iman, meninggalkan warisan berupa kontribusi yang bermanfaat bagi negeri ini. Semoga secuplik refleksi ini bisa memberikan manfaat bagi saya sendiri, Anda, dan siapapun yang mungkin menyempatkan diri untuk membaca catatan kecil ini.

 

 

Salam duapuluhtahun,

22 September 2013, 3:09 p.m,

@nurimannisa.

 

***

 

Kini, di usia 23, alhamdulillah saya sudah menggenapkan separuh agama, dan bahkan diberi amanah untuk mendidik seorang anak manusia. Doa saya, ternyata masih sama saja dengan apa yang saya tuliskan 3 tahun sebelumnya. Dan semoga, lebih banyak lagi karya, amal, dan bekal yang bisa tercipta :”

 

Bogor, rumah ibu suami tercinta,

22 September 2016

22:58

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s