Quarter Life Crisis dan Pilihan Jalan Hidup

Sebagai generasi gen Y yang disebut sebut sebagai generasi “transisi”, saya hidup dengan mengenal passion, life mission, dan menginginkan “meaningful, growing, and impactful life”. Hal ini tentu saja sangat baik, karena akan membuat seseorang pada akhirnya (semoga) hidup dengan mengoptimalkan seluruh potensi terbaik dirinya. Namun, untuk mencapainya, sepertinya diperlukan sebuah upaya keras untuk melalui fase yang tak kalah menantangnya: quarter life crisis. Alias kegalauan di usia 20-30 tahunan.

.

Pertanyaan pertanyaan seperti, “Hendak ke mana saya? Bidang apa yang hendak saya tekuni dan mahir di dalamnya? Apa karya masterpiece yang hendak saya tinggalkan sebelum meninggal dunia? Apa poin yang hendak saya ubah dari dunia?” berputar putar di kepala, dan seringkali menimbulkan kegalauan yang tak ada ujungnya. Apalagi, jika melihat si x yang sudah begini, si y yang sudah begitu, si z yang sudah blablabla. Atau, ketika sudah mau menetapkan pilihan, eh ternyata sudah ada yang mengambil peran yang serupa. Atau ketika baru menggagas ide tertentu, ternyata tak lama kemudian ada yang meluncurkan karya dan produk yang sama. Sehingga “kekosongan ruang” yang hendak diisi kok sepertinya mendadak lenyap begitu saja. Semua lini sudah terisi dengan pemainnya masing masing.

.

“Udahlah, kerjain aja, beramal saja, kerjakan apa yang kamu bisa,” tutur suami saya, ketika dulu saya sempat menggalaukan tentang pilihan hidup. Dan pembicaraan ini seringkali bergulir, hingga akhirnya mencapai kesimpulan yang (lagi lagi) serupa. Tapi saya seringkali merasa tidak puas dengan hasil pemikiran itu. Selalu merasa ada yang kurang. 

.

Beberapa hari yang lalu saat pembicaraan dan diskusi sebelum tidur, saya menyadari (lebih tepatnya disadarkan suami) bahwa saya tidak puas puas dengan pencarian (dan tidak action action) adalah karena saya meminati begitu banyak hal yang seringkali tidak berhubungan. Sastra, desain, arsitektur (yang menjadi jurusan kuliah saya), desain interior, entrepreneurship & bisnis,  children development, creative thinking, inovasi, leadership, toys design, parenting, sufisme, self development, pendidikan, videografi, fotografi, analytical thinking, dan filsafat. Dan sayangnya, tidak ada yang terlampau ahli di satu bidang. Tapi mengharuskan memilih dan menjadi spesialis di salah satu di satu bidang seringkali membuat saya merasa uncomplete. Dan sepertinya, (bisa jadi) ini dikarenakan saya termasuk tipe generalis.

.

Maka, ketika saya mengikuti Matrikulasi IIP (Institute Ibu Professional) batch#3 besutan Septi Peni Wulandari dan mendapatkan NHW (Nice Homework), berupa pertanyaan pertanyaan kontemplatif tentang hendak ke mana spesialisasi saya dibangun, saya bingung. Saya disuruh memilih salah satu ilmu yang ingin didalami, dan bagaimana strategi mencapainya. Dalam pikiran pertama saya ada yang berteriak. Mau semuanya :3 Selain tidak boleh dan tidak memenuhi kualifikasi tugas, saya sadar bahwa mengambil semuanya secara simultan dalam satu waktu hanya akan membuat saya burnout, tanpa tujuan, dan akhirnya malah tidak beranjak ke mana mana. Bisa jadi, itulah kesalahan saya dalam quarter life crisis selama ini. Berpikir, namun memilih untuk tidak memilih. 

.

Selain karena mendapat NHW, mungkin saat ini adalah saatnya saya memilih. Karena bagaimanapun dengan status baru menjadi bunda, waktu menjadi harus semakin dibuat efektif dan efisien :).

Maka, saya menuliskan tulisan ini. Untuk mengikat pilihan, membagikannya, dengan harapan tulisan ini akan mengingatkan diri saya sendiri suatu hari nanti.

.

Setelah melalui beberapa pemikiran dan diskusi (yang sesungguhnya kesimpulannya sudah diambil beberapa momen sebelumnya dengan kesimpulan yang sama berkali-kali), dengan basmalah saya memilih untuk mendalami “Creative Learning Design in Children Development”.

.

Kenapa? Yang pertama, karena saya mencari irisan yang bisa mencakup semua bidang yang saya sukai. Mencoba menjadi seorang komposer yang bertugas menggubah beragam instrumen minat dan (mungkin) bakat yang saya miliki, menjadi sebuah lagu yang (semoga) lebih nikmat dan bermanfaat. Bidang ilmu yang membutuhkan ilmu desain,  parenting, children development, creative thinking, analytical thinking, innovation development, parenting, sekaligus business & entrepreneurship. Karena saya pun melihat, bahwasanya saat ini kemampuan connecting the dot atau menghubungkan beberapa disiplin ilmu menjadi sebuah spesialisasi ilmu baru merupakan kebutuhan yang terlihat dari maraknya jurusan master semacam ini di mancanegata. Yang kedua, karena saya memiliki misi pribadi di sana. Saya memiliki life mission ingin membantu anak Indonesia mengeluarkan potensi terbaiknya; generates brilliant muslim generation. Dan saya pikir, dengan membuat berbagai macam media edukasi dan cara belajar kreatif, semoga bisa memberikan dampak, peningkatan kualitas, dan juga kebahagiaan kepada setiap anak di setiap keluarga 🙂

.

Lalu, bagaimana caranya saya bisa mempelajari dan membangun kapasitas di bidang ilmu tersebut? Dalam hal ini, saya hendak “mencontek” cara belajar dan cara bekerja yang saya pelajari di bangku kuliah. 

1. Learn The Resources. Membaca dan berusaha memahami sebanyak mungkin sumber sumber ilmu dari topik terkait. Baik itu berupa buku, jurnal ilmiah, website, ebook, video, dan lain sebagainya. 

2. Observe; Precedent Studies. Mencari, mempelajari, membreakdown tools tools, mainan, dan creative learning yang telah ada di dunia. Mencari pola, untuk kemudian diterjemahkan ke dalam prinsip prinsip dasae pembuatan learning tools yang baik

3. Searching for The Issue. Untuk bisa standing out from the crowd, tentu saja harus ada diferensiasi kuat yang menyelesaikan issue yang sesungguhnya banyak dibutuhkan masyarakat, namun belum terjamah. Entah hal ini berupa penciptaan produk baru, atau peningkatan produk yang sudah ada.

3. Creating Prototipe. Membuat “mock up” atau maket 1:1 untuk mengetahui kesesuaian desain dengan kenyataannya.

4. Test & Gain Feedback. Mencobakan langsung produk ke anak, dan melihat kesesuaian dan keberhasilan tujuan dan pelaksanaan. Hingga saat ini, alhamdulillah sudah membuat dan mengetes 2 produk dari @alkindikids, yakni “Alphabetic Montessori Card” untuk pengenalan kata dan latihan membaca dasar, dan “Basic Math Smartcard” untuk pengenalan angka dan berhitung dasar. 

5. Evaluate and Revise. Memperbaiki hasil desain dari feedback yang ditemukan. 

.

Saya bersyukur, bahwa di kelas matrikulasi pertama institut ibu professional kali ini, saya belajar tentang adab mencari ilmu. Seperti menghormati guru sebagai pemberi ilmu, senantiasa mengulang ulang materi ilmu yang didapatkan, menuliskannya untuk mengikatnya, dan yang terpenting: belajar dengan niatan untuk mengamalkan, bukan belajar untuk sekedar mempelajari dan mengetahui. Nampaknya, saya selama ini seringkali hanya suka belajar, membaca, mencari tahu, dan menimba ilmu dengan pengaplikasian minim, karena dari awal sudah kurang tepat niatnya. Semoga, dengan memperbaiki niatan dan adab mencari ilmu untuk mengaplikasikannya, amal yang dilakukan menjadi sebanding dengan ilmu yang didapatkan :” amiin.. 

.

26 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s