Menikahkan Impian

Anganku melayang, 

menuju sebuah malam Rabu, di bulan November, empat tahun yang lalu.. 

“Jadi, mau cerita?” tanyamu waktu itu, tak lama setelah kita menutup rapat organisasi mingguan yang biasanya.

“oh iya, boleh.”

Lalu mengalirlah berbagai kisah. Masalah masalahku, di bisnis yang baru saja aku bangun. Bisnis yang bukan sekedar bisnis. Bisnis yang kuletakkan seluruh misi dan visi hidupku beserta hatiku di dalamnya. Bisnis yang ternyata merupakan jawaban dari doa doa panjang selama empat tahun lamanya. Alkindi Islamic Daycare Plus, yang menjadi langkah dan batu pijakan pertama dalam impian besar seumur hidup yang kupunya. Membangun generasi golden age. Generates Brilliant Muslim Generation. Dan kau, seperti biasa, memberikan solusi solusi jitu tentang bagaimana sebaiknya aku menyelesaikan masalah-masalah itu. 

Kamu, yang memang menjadi tempat bertanya bagi banyak sekali orang, bahkan hingga kini. 

Kamu, yang selalu memiliki jawaban atas berbagai permasalahan dan mengusir berbagai macam kebingungan. 

Dan aku, saat itu, seperti halnya ribuan orang lainnya. Sama saja. Memandangmu sebagai seorang guru ilmu. Tak lebih dari itu.

Hingga, malam itu.. 

“oh iya, tahukah kamu mengapa aku membangun CerdasMulia?”

Aku hanya mengedikkan bahu. “Entahlah. Ingin membuat orang Cerdas&Mulia?” jawaban bodoh, tentu saja. Namun aku sedang bergulat dengan pemikiranku dan solusi solusi yang kamu berikan. Tidak mau terlalu banyak mengeluarkan energi untuk pertanyaanmu tentang alasanmu membangun lembaga training kepemudaan yang kau bangun. 

“Karena aku ingin mengeluarkan bintang yang ada di diri setiap orang. Aku ingin mengembangkan potensi terbaik yang tersimpan di diri setiap orang.”

Mendadak, aku merasa tercekat. Terpana. Rasa rasanya jantungku berhenti berdetak selama beberapa masa. 

Pikiranku memutar rolnya: menampilkan sebuah buku notes yang baru saja kutulis beberapa hari yang lalu. Buku yang berisikan hal-hal paling berharga dari diriku: Jati diriku, dan berbagai macam hal yang meliputinya. Kelebihan, kekurangan, mimpi, visi, misi hidup… 

Dan ya, kalimat itu. Kalimat itu persis sama dengan yang pernah kutuliskan di dalamnya. Persis sama dengan apa yang sering kuminta dalam doa: teman seperjalanan dengan visi yang sama. Yang entah mengapa sejujurnya aku tak begitu yakin bahwa ada orang lain yang memiliki misi dan visi yang serupa. 

Namun orang itu, malam itu, 

Menyatakannya, tepat di hadapanku. 

Dalam beberapa detik, aku kehilangan kata-kata dan pengendalian diri. 

“oh ya?” hanya itu yang mampu kuberikan sebagai respon padamu. 

Lalu kau pun mulai memaparkan. Tentang bintang. Tentang resonansi. Tentang bagaimana terus menerus tumbuh menjadi bintang terang dan mengembangkan diri, sehingga beresonansi: mempengaruhi orang lain untuk berbuat hal serupa. Kau bercerita tentang konsep yang sedang kau bangun di cerdasmulia. Tentang buku yang sedang kau tulis. 

Aku menyimakmu dengan tatapan yang tampaknya berbinar. Sembari, tentu saja. Menahan rasa asing yang mulai menyeruak di dalam dada.

Dan malam itu, aku pulang dengan sebuah rasa yang berbeda. 

Sungguh, betul betul asing dan berbeda. 

Aku pernah mengalami perasaan suka dan jatuh cinta. Berbunga bunga dan melayang hingga ke angkasa. 

Namun, kali ini apa yang kurasa bukan itu semua. 

Bukan suka, bukan pula cinta. Namun sebuah keyakinan yang begitu kuat di dalam jiwa, seolah diturunkan dan ditanamkan dari langit begitu saja. Tiba-tiba. 

Bahwa kau, adalah teman seperjalanan dan setengah jiwa.

Dan aku mendadak teringat, apa yang kudoa tadi pagi ketika memulai aktivitas ke luar rumah. Bahwa hari ini, aku akan bertemu dengannya: separuh jiwa yang selama ini dipinta dalam doa.. 

***

Lalu, malam ini, dengan kau yang berada di sampingku dan mengecup pipiku, kita berbicara tentang kita. Tentang aku, kamu, dan lelaki mungil yang tengah tertidur di sampingku. 

“Sepertinya, kita harus berlaku layaknya seorang konduktor dalam sebuah orkestra,” katamu. 

“maksudnya?” aku mengernyit bingung.

“iya. Seperti halnya seorang konduktor yang memadukan berbagai ragam instrumen musik menjadi sebuah melodi yang indah.”

“e-hem? ” aku masih tak paham. Berusaha menerka arahmu.

“aku dan kamu, dan kemungkinan besar si kecil kita, sepertinya adalah tipikal manusia generalis yang serba bisa. Generalis yang spesialis. Seperti para ilmuwan muslim masa lalu.”

“Amiin..”

“Menulis, bicara, merancang, mengkonsep, analisa, desain, berhitung, berwirausaha. Atau jika berbicara dengan kacamata multiple intelligence, kecerdasan linguistik, logis, Interpersonal, intrapersonal, visual-spasial, yang utama. Sementara musikal dan kinestetik bisa dikuasai meski dalam kadar seadanya. Sedangkan naturalis, ehem,” kau menyeringai sejenak. “kita tahulah kapan terakhir kalinya kita memelihara ikan lalu mati. Tentang berkebun, jangan ditanya. Kita bahkan tak berminat meluangkan waktu untuk mempelajarinya..” 
Aku manggut manggut. Suka sekali dengan pilihan frasanya. Konduktor.

“Karena tipe generalis, jadi jika harus memilih salah satu spesialisasi saja malah akan membuat frustasi, karena merasa menyia nyiakan salah satu passion dan potensi. Sementara karena bisa semuanya, trade off nya adalah kemahiran kita pada semua bidang itu seadanya. So so. Bisa tapi tidak terlampau mahir. Jika terjebak di dalamnya, bisa tidak beranjak ke mana mana dan menjadi serba nanggung.”

Aku semakin manggut manggut. Masih menyimak. Menjadi mahami mengapa impian-impian dan passionku tersebar di banyak bidang. Ingin membuat sekolah dari preschool sampai minimal SD, sekaligus mendesain mainan anak edukatif, sekaligus menjualnya dan menjadikannya bisnis yang besar, sekaligus menjadi penulis yang menelurkan banyak buku best-seller. 

“Jadi, tugas kita adalah menjadi konduktor. Meramu semua potensi yang kita miliki menjadi sebuah karya. Laiknya seorang konduktor yang menggubah lagu dan melodi dalam orkestra. Contohnya adalah kamu dengan Alkindi Daycare & PAUDmu, bisnis mainan anak Alkindikidsmu, dan mungkin buku buku yang akan kau buat. Sedangkan aku dengan CerdasMulia, ProductiveMe Academy, Online Courses, dan Business Simulation Gaming yang kubuat. Dan ketika melihat Irsyad, karena aku dan kamu serupa, maka kemungkinan ia akan menjadi kuadrat. Kamu lihat sendiri sekarang kemampuan kognitif dan berbahasanya bagaimana. Alhamdulillah. Padahal ia baru 4 bulan..”

“cool!” pekikku pelan. Karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. “conductor! Filosofi yang keren sekali.”

“keren kan? Keren kan?” 

Aku pun terkekeh. Menatap kembali board yang pernah kita tulisi saat awal awal menikah dulu.. 

Tentang konsep misi keluarga kita dan CerdasMulia.

Tentang bagaimana mengembangkan potensi terbaik yang ada di dalam diri setiap manusia, dengan mengoptimalkan keseimbangan potensi akal (cerdas)  dan hati (mulia). Sebuah konsep yang persis sama yang termanifestasi di logo Alkindi yang kubangun, padahal ketika itu aku bahkan belum bertemu denganmu.

Kutatap lagi gambar yang ada di board yang terpajang di dinding kamar itu. Konsep peradaban CerdasMulia yang tergambar dalam sebuah bangunan berpilar a la Panthenon Yunani. Sebuah atap segitiga dengan bintang delapan tergambar di sisinya, yang disangga oleh empat pilar utama yang menjadi kunci dari perubahan peradaban manusia: anak-anak, pemuda, guru, dan orangtua.. 
Ah ya, sepertinya sudah lama sekali gambar itu terlupa. Terpinggirkan dalam lautan rutinitas dan to-do-list yang tak pernah usai.

Ah ya, semoga, semoga.. 

Kami berdua bisa mewujudkannya dimulai dari diri kami sendiri dan keluarga kecil ini. Membangun Generasi Indonesia CerdasMulia, seperti yang tertoreh namanya di akta yayasan yang kami dirikan. Generasi yang memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya untuk sebesar besarnya kebermanfaatan bagi umat dan bangsa Indonesia. 

Semoga, semoga. 

Bukan sekedar nama, bukan sekedar asa, namun semoga Allah menguatkan setiap niat dan langkah kita, dan dengan kekuatanNya mewujudkannya menjadi nyata, sebagai bekal dan pertanggungjawaban sebelum Pulang menghadapNya.. :”
Amiin amiin yaa rabbal alamin.. 🙂
#writetoremind

#familymission

#iipproject_nhw3

Written on 07-10 februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s