Life Mission Discovery and Steps Toward the Vision

Bismillahirrahmanoirahim.. 
“What is your legacy? “demikian pertanyaan akhansha, seorang socialpreneur lulusan Princeton University yang menjadi pembicara saat sesi final regional HultPrize di Dubai. Ia yang berangkat dari pertanyaan itu, kemudian membuat sebuah social enterprise yang mengalirkan air ke banyak wilayah di Afrika yang mengalami krisis air. MasyaAllah. Terbayang jika ia seorang muslim, berapa banyak pahala jariyah yang bisa didapatkan dari projectnya itu. 

Sepulang dari sana, kata kata akhansha terngiang-ngiang di kepala, hingga saya menuliskannya di sticky notes di laptop saya. “What is your legacy? Apa warisanmu? ” 

Jika aku meninggal nanti, apa yang sekiranya hendak aku tinggalkan?  Amal jariyah apa yang bisa aku ciptakan sebagai tabungan amal?  

Kematian. Memang selalu menjadi sumber motivasi terbesar. Masa di mana amalan tak bisa lagi ditorehkan. Taubat tak lagi bisa diterima. Upaya tak bisa lagi dilaksana. Astaghfirullah. 

Maka, 2013, sepulangnya dari kompetisi HultPrize, saya kembali merenungkan. Warisan apa yang hendak ditinggalkan? Karya apa yang hendak saya torehkan dan menjadi tak lekang, tatkala ruh sudah memeluk kematian? 

Semenjak 2009, tepatnya saat menggalaukan masuk jurusan apa untuk kuliah nantinya, saya mulai bertanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Menciptakan: “untuk peranan apa gerangan aku diciptakan? ” karena saya percaya, bahwa setiap manusia sesungguhnya unik, dan memiliki tugas serta peranannya sendiri di dalam mengemban amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Memiliki misi spesifiknya masing-masing. Life mission. Tugas khusus dari Yang Maha Menciptakan untuk kita jalankan.

Sebuah perjalanan pencarian yang panjang, berliku, tak mudah, dan sempat beberapa kali tampak seperti “salah arah”. Namun ternyata, benar apa yang dikatakan oleh Steve Jobs, “connecting the dots”. Tak pernah ada kata sia sia dalam perjalanan hidup dan pencarian. Justru banyaknya perjalanan yang kita tempuh akan menghasilkan sebuah kreativitas dan inovasi yang lebih utuh.

2010, hasil dari istikharakh dan doa doa panjang saya menunjukkan: arsitektur adalah jalan. Saya yang sedari kecil memang memiliki minat di gambar menggambar, kriya, desain, membuat ini-itu, akhirnya memilih arsitektur sebagai jurusan. Ketika itu, dengan idealisme anak SMA yang belum begitu memahami dunia nyata, saya memvisikan sebuah utopia: meningkatkan kualitas bangsa Indonesia melalui bangunannya. Saat itu, saya percaya, seperti apa yang menjadi keyakinan Soekarno saat awal membangun Indonesia dulu: kedigdayaan suatu negara, dapat diciptakan dari bangunannya.

Ya, saya begitu mencintai Indonesia. Semenjak SMA, saya ingin melakukan sesuatu untuk negeri ini. Untuk menjadikan negeri ini lebih baik. Lebih berdaya. Lebih digdaya. Karena saya percaya, bahwa ada sebuah alasan mengapa kita dilahirkan di tanah ini. Nusantara. Negeri yang kaya raya, namun rakyatnya merana. Tugas kitalah sebagai putra putri Indonesia, untuk memperjuangkan yang terbaik bagi kebangkitan bangsa ini. Dan ketika itu, dengan keyakinan bahwa desain dan arsitektur adalah jalan untuk mewujudkan negeri yang penuh keberkahan,  kepadanya saya jatuh cinta.

Namun ternyata, semakin ke sini, semakin saya mempelajari lebih banyak hal lagi, saya menemukan bahwa: kualitas pendidikan dan sumber daya manusia suatu negara memegang kunci utama. Jika bangunan kuat nan kokoh namun pondasinya tak kuat, maka kehancuranlah yang akan didapat. Maka saya jatuh cinta lagi untuk kedua kalinya. Kali ini pada pendidikan. 
Lebih dalam lagi mempelajari tentang pendidikan, saya menemukan bahwa ada sebuah fase yang sangat berharga dalam kehidupan seorang manusia: anak anak, lebih tepatnya golden age. Usia semenjak kehamilan hingga 5 tahun. Maka lebih spesifik lagi, kepada makhluk lucu nan menyenangkan yang masih membawa aroma surga, saya meletakkan hati saya kepadanya. Anak anak. 

Desain. Pendidikan. Anak anak. Adalah topik yang senantiasa membuat saya berbinar, bersemangat, dan tak pernah merasa jemu. Bersama dengan entrepreneurship, yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan roda kebaikan dalam keberlanjutan.

Maka, setelah entrepreneurship journey saya yang berubah ubah dan berusaha mencari bentuk terbaiknya sepanjang 2010-2013, mulai dari bisnis kaos, sepatu, hingga furniture, pada medio 2013 atau sekitar bulan mei 2013, saya akhirnya memutuskan, sekaligus menemukan alasan apa yang hendak saya lakukan untuk mengisi kehidupan, terus menerus bergerak di ranah yang sama hingga menjemput kematian. Mengembangkan anak Indonesia melalui desain dan pemikiran kreatif untuk anak anak di usia golden ages. Creative Learning in Children Development. Children’s Architect. 

Lebih khususnya, life mission ini termanifestasi dengan frasa yang menjadi tagline atau jargon Alkindi, “generates brilliant muslim generation.” 

“The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why”–Mark Twain

Dan ya, kalimat bijak itu benar adanya. Semenjak menemukannya, kehidupan saya alhamdulillah menjadi lebih bersemangat, berwarna, dan tidak lagi melenceng ke mana-mana. Sebagai perwujudannya, sebagai langkah pertamanya, agustus 2013 layar dikembangkan. Alkindi Islamic Daycare Plus yang diharapkan menjadi wadah perwujudan misi hidup, didirikan. 

Dan sebagai bentuk warisan yang akan ditinggalkan, dengan basmalah, jika Allah meridhai, saya ingin meninggalkan warisan dalam tiga hal:

– sebuah sekolah muslim terbaik di negeri ini. Dari playgroup-tk-sd. Atau mungkin hingga smp dan sma. Tersebar di berbagai penjuru tanah air.

– sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan dan penyediaan segala macam produk dan jasa untuk anak anak. Mengalahkan rezim disney, mattel, dan lego.

– buku buku hasil karya tulisan pribadi, terkait dengan pengembangan anak dan pemberdayaan perempuan sebagai agen pendidikan pertama dan utama, yang semoga bisa menjadi best seller dan senantiasa dicetak ulang, agar kebermanfaatan serta aliran pahalanya tidak terputus meski saya sudah memeluk kematian. 

Dan yang keempat, yang terpenting, tentu saja. Anak anak sholeh sholehah yang mendoakan. Yang senantiasa berjuang dan berkarya untuk menegakkan nilai nilai Islam dan kalimat kalimat Allah di muka bumi. 

.

Namun sayangnya, dalam perjalanannya, cahaya dan keyakinan akan life mission and vision ini semakin lama semakin meredup. Terliputi rutunitas dan berbagai macam kekhawatiran dan ketakutan, serta perasaan gagal dan tak berguna yang berulang ulang karena ketidakmampuan menyelesaikan beberapa hal yang menurut saya sangat basic. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan kelas Institute Ibu Professional, yang menyentak kembali kesadaran saya, dan mengingatkan kembali akan “tugas” saya yang sesungguhnya. Tugas dari BigBoss kehidupan, Allah SWT.

“Kuncinya adalah pada BERSUNGGUH SUNGGUHnya kita dalam menjalankan misi hidup.”

Ya, selama ini saya memang kurang bersungguh sungguh. Kurang bekerja keras. Kurang memberikan performa terbaik dalam mengerjakan life mission yang saya miliki. Bahkan, saya hanya menetapkan tujuan, namun belum menetapkan strategi spesifik untuk mencapainya. 

Maka, berikut ini garis besar langkah langkah yang bismillah akan saya lakukan untuk meningkatkan kesungguhan dalam menjalankan peran:

1. Selesai dengan diri sendiri, dengan selalu berusaha berkomitmen dan lebih baik dalam mengerjakan dan menjalankan butir butir parameter kesuksesan diri sebagai individu, istri, dan ibu. Sejauh ini sudah berusaha mengaplikasikan, dengan dibantu aplikasi HabitLoop yang saya download dari playstore. Meski pelaksanaannya masih banyaaak sekali bolong bolong dan tambal sulam. T. T Bismillah harus lebih baik lagi :”

2. Mendaftar berbagai macam ilmu yang perlu didalami untuk mewujudkan warisan hidup yang menjadi mimpi.

A.  Untuk mendidik anak yang sholeh dan menjadi generasi brilian (Beriman, Berakhlak, Berilmu, Berkarya, Bermanfaat) :

– Ilmu membina iman dan ruh anak

– Ilmu membina akhlak dan adab anak

– Ilmu untuk menstimulasi otak dan membuat anak mencintai ilmu

– Ilmu untuk mengobservasi dan memetakan bakat anak

– Ilmu komunikasi kepada anak

– Ilmu untuk menumbuhkan kreativitas anak 

– Ilmu kesehatan anak dan ilmu gizi untuk nutrisi terbaik bagi anak

– Ilmu Children & Human Development

– Ilmu Islamic Parenting & Parenting Nabawiyah

B. Untuk membangun sekolah:

– Ilmu Psikologi Pendidikan

– Ilmu Manajemen SDM

– Ilmu Education Management

– Ilmu Classroom Management

– Ilmu Manajemen Guru

– Ilmu tentamg beberapa metode sekolah usia dini (Montessori,  Waldorf, BCCT)  
– step by step dan peraturan pemerintah terkait pembangunan sekolah

C. Untuk membangun perusahaan:

– Leadership

– Innovation Management

– Marketing

– Design,  spesialisasi Toys & Children Design

– Finance

– Product Development

– Operation Management

– Digital Marketing

– Supply Chain

– ekspor-impor

D. Untuk menjadi penulis yang baik:

– perbanyak buku sastra sebagai selingan dan untuk memperkaya bahasa

– Membaca buku tentang editing tulisan and how-to-write

– melatih diri untuk rutin menulis, entah sehari sekali atau dua hari sekali. 

3. Menetapkan milestone pencapaian maupun milestone pembelajaran tahunan. 

Yang sudah berlalu:

KM0 2013 (20 y.o): membangun alkindi daycare, belajar mengenai children development (kitab Human Development Papalia, Olds, Feldman) 

2014: on going progress. Mengkaji keterkaitan desain ruang dan kecerdasan anak, melalui project skripsi. 

2015: Launching pertama kali produk edukatif @alkindikids. 

2016: membentuk yayasan Generasi Indonesia CerdasMulia, mulai membuka PAUD selain daycare. Membuat berbagai macam produk edukatif @alkindikids lainnya. 

Yang akan datang:

2017 (23 y.o): 

– menggali ilmu poin (A). Mengenai parenting dan bagaimana membentuk anak brilian.

– memanifestasikan ilmu ke dalam sistem yang lebih rapih untuk daycare&paud alkindi, sehingga lebih siap dan matang untuk ditinggal ke luar negeri. Menyiapkan juga konsep dan sistem CerdasMulia Privat untuk ditinggal ke luar negeri. 

– mendapatkan izin PAUD dari diknas

– eksplorasi produk mainan edukatif. Lebih baik lagi jika bisa mengangkat unsur uniqueness Indonesia.

– mempelajari ilmu dan mekanisme ekspor produk dari yang sudah berpengalaman (sebagian poin C) 

– menerbitkan buku perdana (direncanakan bisa menerbitkan buku baru setiap dua tahun. Amiin).

2018-2022(24-28 y.o): membersamai suami studi ke luar negeri

– menggali keilmuan poin (B) dan (C). Mempelajari prakteknya di luar negeri. Kalau perlu mengambil kursus/sertifikasi.

– membuka kemungkinan dan peluang ekspor ke luar negeri. Atau membuka channel produk2 edukasi yg menarik ke Indonesia. 

– menerbitkan buku kedua & tahapan menyusun buku ketiga

– anak kedua

– mengembangkan lagi desain desain mainan yang baru.

2022 (29 y.o): pulang ke indonesia

– meningkatkan kualitas sekolah. Mulai berekspansi secara kuantitas dengan membuka 1 cabang tambahan

– meingkatkan kualitas dan kuantitas produk & penjualan @alkindikids

– menerbitkan buku ketiga

– mempelajari ilmu manajemen sekolah dasar (poin B)

2023:

– @alkindikids memiliki toko tersendiri

– belajar ilmu retailing dan produksi pabrikan (poin C) 

2025 (32 y.o)

– Alkindi ICDC memiliki SD

– @alkindikids masuk kr retailrt besar dan mal mal 

2030 (39 y.o)

– @alkindikids meraih top brand for kids 
Semoga, Allah berkenan menguatkan langkah dan ikhtiar perjuangan untuk mentransformasi tulisan tulisan impian menjadi kenyataan, sebagai sebentuk pengabdian dan pertanggungjawaban atas segala nikmat yang telah Dia berikan. 

Amin, amin, yaa rabbal alamin.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s