Architecture and Learning Design

Selama ini, saya seringkali berpikir dan bergulat dalam ranah “pembelajaran”, dan “desain”. Baik itu berupa desain arsitektural, interior, kota, maupun produk yang memang menjadi “makanan sehari hari” saya selama empat tahun berkuliah di departemen arsitektur.  Sedangkan untuk pembelajaran, saya biasa berkecimpung dalam menyusun kurikulum, membuat lesson plan mingguan dan harian di Alkindi ICDC, maupun membantu tutor menyelesaikan permasalahan murid di CerdasMulia privat. Namun, menggabungkan kata “desain” dan “pembelajaran”, atau jika ditranslate menjadi “learning design”, ternyata menjadi hal baru dan menyenangkan bagi saya. Apalagi, dengan jurusan ilmu kehidupan ‘creative learning design’ yang saya pilih. Saya merasa menemukan sebuah “harta karun” baru saat mengerjakan tantangan di Nice Homework#5 kali ini. Saya menjadi terheran heran sendiri mengapa tidak dari dahulu mencari makna di balik frasa “learning design.”

Pencarian saya, tentu saja dimulai dengan mbah google dengan memasukkan kata kunci, “learning design.” menulusuri halaman demi halaman, website demi website yang ada, membuat saya semakin bersemangat, antusias, dan berbinar. Saya baru mengetahui, bahwa “learning design” merupakan satu bidang keilmuan tersendiri, dan banyak program master yang menawarkan topik ini. Bahkan sekelas Stanford University! Wah! Master Program Learning Design Technology yang ditawarkan Stanford ternyata menjadi salah satu topik yang banyak diminati, dengan berbagai macam project research yang menarik hati. Saya yang selama ini merasa “stuck” dalam berinovasi karena tampaknya semua “ruang kosong” yang ada sudah terisi, merasa tercerahkan kembali. Bahwa peluang dan celah inovasi, sesungguhnya masih terbuka lebar. Nampaknya hanya saya saja yang selama ini terlalu malas untuk meluaskan horizon perspektif saya akan inovasi.

Mempelajari teori teori dan sumber sumber yang ada, saya mengambil kesimpulan pribadi bahwa dalam membuat learning design, proses yang terjadi bisa dianalogikan dalam proses perancangan desain arsitektural, seperti berikut ini:

– Learning Context

Seperti halnya “survey site” yang dilakukan sebagai tahapan awal dalam desain arsitektural, begitu pula dengan membuat learning design. Yang pertama kali harus diobservasi adalah “konteks” manusia yang akan menerima pembelajaran. Sejauh mana kemampuannya?  Seperti apa karakteristik dan sifatnya? Permasalahan apa saja yang ada di sana? Apa saja potensi dan kelemahan yang ada? Seperti apa fitrah dasarnya? 

– Goals as a BigPicture. 

Untuk langkah kedua, ditentukan dalam membuat learning design, adalah merumuskan tujuan akhirnya. Output apa yang hendak dicapai? Gap apa yang hendak diperkecil setelah proses belajar terjadi? Hingga tahapan berpikir apa kah pembelajaran ini akan berakhir? Apakah sekedar knowing, experimenting, analyzing, applying, atau hingga sintesa dan mengeluarkan suatu karya atau inovasi sebagai puncak pembelajaran?  

– Decide The Measurement & Parameter

Setelah “gambaran kasar” tujuan akhir didapatkan, bergerak ke detil kuantitatif yang menjadi tolok ukur keberhasilan pembelajaran. Apakah yang menjadi tolok ukur keberhasilan? Berapa “ukurannya”? Jika sudah mencapai apa proses pembelajaran dikatakan berhasil?  Bisa jadi menggunakan metode SMART dalam mengukur.

– Menentukan material/resources apa saja yang akan digunakan

Metode apa yang akan dipilih? Apakah ada sumber atau media tertentu yang akan digunakan?  Alat dan bahan apa yang sekiranya diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran? 

– Membuat “gambar kerja”, atau “learning instruction”

Seperti halnya arsitek kepada kpntraktor, Jika pelaksanaan pembelajaran diserahkan kepada pihak lain (misalnya sekolah kepada guru),  maka diperlukan suatu “learning instruction” yang mungkin berupa “lesson plan” atau RKH,  dalam lingkup TK, yang mencakup sequence atau urutan dalam belajar, urutan pertanyaan, urutan media yang digunakan, dan lain sebagainya untuk membentuk proses pembelajaran yang diinginkan. 

– Menentukan waktu dan atmosfer pembelajaran yang akan dibangun. 

Seberapa lama pembelajaran akan berlangsung?  Dalam kondisi lingkungan seperti apa pembelajaran akan dilangsungkan? 

– Controlling & Evaluation

Seperti halnya dalam proses membangun bangunan, harus senantiasa dilihat prosesnya sepanjang jalan, apakah sesuai atau tidak dgn desain awal, dan apakah perlu dilakukan pivot atau redesign jika diperlukan. Tak lupa melakukan evaluasi atas proses yang sudah berjalan, hingga terwujud gambaran besar yang sudah ditetapkan dari awal. 

Setelah menjawab pertanyaan pertanyaan di atas, maka learning design yang saya buat dalam rangka mendalami ilmu “creative learning design” adalah sebagai berikut:

– context:

Diri saya pribadi, dengan kelebihan diri berupa kecepatan dalam memproduksi ide, berpikir, menganalisa, dan mensintesa inovasi. Sementara kelemahan di kemampuan teknis menggambar, ilustrasi, kemampuan digital marketing, keluangan waktu dan kemudahan mobilisasi karena sedang memiliki bayi. Saat ini produk edukasi hanua berupa 2 kartu, 4 buku edukatif, dengan penjualan tergantung mood via instagram. 

– big goals:

Tujuan akhirnya adalah sampai hingga tahapan sintesa. Memproduksi berbagai macam produk edukatif baik real maupun digital yang diterima pasar secara luas, menjadi perusahaan dengan distribusi global. Preseden: brainbox.co.uk

– parameter:

Distribusi ke minimal 20 negara dengan profit bulanan mencapai $10.000/bulan

Mendapatkan predikat top brand for kids di Indonesia

Menulis buku buku best seller tentang creative learning design.

Acknowledge as creative learning designer expert: diminta berbicara di berbagai event tentang topik ini. 

– material&resources:

Books, online courses, journals, existing toys and learming design, master program jika diberi kesempatan, komunitas games, serious games, dan permainan anak. 

Topik materi (beberapa sudah dijabarkan detil di NHW#4) ditambah dengan berbagai teori dan pengetahuan tentang Learning Design, Learning Design Technology, Creativity, Creativity Development, Design Thinking, dan Pedagogic Psychology.

 metode (sudah dijabarkan detil di NHW#1)

– learning instruction:

Tidak ada. Karena yang menjalankan adalah diri sendiri. Just do It. Don’t be afraid. Iterate. Iterate. Iterate. 

Hanya memastikan diri berprogress, dengan membuat minimal 1 produk baru per bulan sebagai output pembelajaran, dan meluangkan waktu minimal 1/2 jam per hari untuk mempelajari materi, sesuai dengan yang sudah dikomitmenkan di NHW#2. 

Topik pembelajaran per minggu dimasukkan ke dalam weekly target yang dikontrol dalam rapat keluarga setiap hari minggu. 

– timeline & atmospher needed

Timeline: 20 tahun, dimulai dari 2017.hingga 2037.

Atmospher needed: supportive husband and family. 

– controlling & evaluate

Membuat evaluasi progress bulanan dalam rapat keluarga

#nicehomework#5

#institutibuprofessional

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s