Bunda Manajer Keluarga

Materi Institut Ibu Professional minggu ini berbicara mengenai peran ibu sebagai manajer dalam rumah tangga. Sesungguhnya, tidak hanya ibu yang bekerja di ranah publik yang bisa dikatakan sebagai “ibu bekerja”. Ibu yang bekerja di ranah domestik, atau yang sering disebut sebagai “Ibu Rumah Tangga”, sesungguhnya juga bekerja dan memiliki peran yang tak kalah pentingnya. 

Karena seorang ibu, 

Sejatinya adalah seorang “Manajer Keluarga”. Namun sayangnya, seringkali justru diri kita sendiri yang mengecilkan peranan yang sesungguhnya amatlah besar ini. Karena terjebak dalam rutinitas baik domestik maupun publik, kita menjadi lupa dan lalai untuk bertumbuh dan meningkatkan kapasitas diri sendiri. 

Yang sejatinya dapat memiliki peranan sebagai “Manajer Keuangan keluarga”, mengecilkan perannya menjadi hanya sekedar “Kasir Keluarga”. Yang sejatinya dapat memiliki peranan sebagai “Manajer Gizi Keluarga”, malah mengecilkan diri sendiri dengan menjadi sekedar “koki keluarga”. Yang sejatinya dapat memiliki peranan sebagai “Manajer Pendidikan Keluarga” dengan menyusun milestone, kurikukum, dan poin poin penting penanaman value dan karakter anak anak, justru hanya menjadi sekedar “tukang antar jemput anak sekolah”. 

Semuanya, kembali lagi kepada pilihan, perjuangan, kerja keras, dan kesungguhan pribadi masing masing. Hendak berubah, atau kalah. Kalauhdalam artian tidak bertumbuh, statis di tempat, dan tergerus oleh pusaran rutinitas.

Baik ibu yang bekerja di ranah publik maupun domestik, memiliki tugas dan prasyarat yang sama: SELESAI dengan peranannya sebagai manajer keluarga. 

***

Demikian materi yang disampaikan dalam matrikulasi IIP#6 kali ini. Yang sekali lagi, menampar diri sendiri dengan keras dan membuat diri sendiru ini mengevaluasi. Masih jauh panggang dari api untuk bisa dikatakan selesai dan menuntaskan peran sebagai manajer keluarga. 

Lalu, bagaimana caranya? 

Berikut ini adalah tips dari IIP untuk menyelesaikan kompleksitas tantangan yang ada baik di ranah domestik maupun ranah publik:

A.  Put First Thing First. 

Atau jika kata steven covey, dahulukan yang utama. Tentukan 3 hal yang paling penting, dan 3 hal yang paling tidak penting dalam kehidupan kita. 

Jika saya, dalam filosofi keluarga CerdasMulia yang kami miliki, memiliki 3 nilai utama terpenting yang harus senantiasa ditumbuhkan dan dikembangkan:

1. Iman; yakni bagaimana hubungan kita dengan Sang Pencipta

2. Ilmu; yakni bagaimana kita senantiasa bertumbuh dan berkembang meningkatkan keilmuan, kapasitas, dan kompetensi diri sendiri, serta

3. Impact; yakni bagaimana dampak dari kualitas diri kita pribadi yang memancar kepada sekitar kita. Baik itu lingkup terdekat seperti suami dan anak, tetangga, organisasi, pekerjaan, karya, bisnis, dan lain sebagainya. 

Sedangkan, 3 hal paling tidak penting yang seringkali saya terjebak di dalamnya baik disadari atau tidak antara lain:

1. Scrolling down di social media ataupun chat application. Padahal tadinya meniatkan ambil hp untuk menulis saja, atau mencatat pengeluaran saja, atau membaca situs tertentu saja, kemudian suka melipir ke aplikasi sosmed di sebelahnya atau browsing hal-hal yang tidak masuk di dalam kepentingannya  -,-

2. Terjebak dalam pemikiran pemikiran tak penting dan tak produktif, kekhawatiran kekhawatiran yang tak perlu. padahal banyak hal penting dan produktif lainnya yang lebih strategis untuk dipikirkan

3. Ketiduran -,- penyakit yang kerapkali terjadi di malam hari ketika menyusui anak, padahal sesungguhnya waktunya bisa digunakan untuk mengerjakan pekerjaan lain yang lebih produktif ketika anak tertidur. 
B. One Bite at One Time. 

Kurangi multitasking-karena sebagian besar multitasking doesn’t work well. Lakukan sekarang, jangan menunda. 

Bisa dibantu dengan membuat jadwal rutin dan kandang waktu atau “cut off time”.

Saat ini, dengan kondisi ada bayi 5 bukan dengan jadwal tak pasti, kurang lebih ini adalah jadwal yang bisa diterapkan:

-04.00/05.00-06.00: waktu upgrading Iman: shalat, zikir pagi, tilawah, zikir petang

– 06.00-07.00: menyiapkan keperluan suami ke kantor: cek baju, semir sepatu, menyiapkan sarapan

– 07.00-08.00: jika bayi kondusif, menyelesaikan keperluan diri sendiri seperti mandi, minum susu, sarapan. 

– 08.00-20.00: 8 to 8: Blending Time; pekerjaan utama adalah bermain dengan anak, membacakan buku, dll sembari di sela selanya adalah memasak makan siang, jika sempat dan memungkinkan membaca buku sambil menyusui, dan menyelesaikan berbagai macam urusan lainnya. 

– 20.00-24.00: Impact Time; me time &we time dengan suami. Bersiap menyambut suami pulang kerja, Melakukan jadwal familynight harian dengan suami seperti bedah buku, murajaah, dll. Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan bisnis dan organisasi. Menulis, dll. Harus berusaha keras tidak ketiduran :” 

C. Delegating

Sebisa mungkin delegasikan pekerjaan lain selain melayani suami dan mendidik anak. 

Kunci pendelegasian: buay panduan, latih, dan biarkan orang lain mengikuti aturan Anda. Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-tingkatkan lagi, dan begitu seterusnya. Jangan kupa control dan monitoring 🙂 
Kerjakan, kerjakan, kerjakan, lalu evaluasi, evaluasi, dan perbaiki. 

:”

Bismillah. Semoga kita semua dapat istiqamah, senantiasa bertumbuh, dan bisa menjadi manajer keluarga terbaik bagi keluarga kita sendiri.. Aamiin.. 
#NiceHomeWork6

#IIPSeries

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s