Refleksi 2 Tahun Pernikahan

Bismillahirrahmanirrahim.. 

Tak terasa, 3 hari lagi, genap dua tahun kami menempuh perjalanan bersama dalam sebuah bahtera yang bernama rumah tangga. 

Susah, senang, tangis, tawa, marah, mesra, karya, canda, dan berbagai hal lainnya mewarnai kehidupan saya dalam dua tahun terakhir. 

Sebuah kehidupan yang bisa dikatakan sangat berbeda dengan kehidupan saya 21 tahun sebelumnya. Sebuah kehidupan yang bisa jadi tidak se”cemerlang” periode masa sebelumnya. Namun, merupakan sebuah masa yang sungguh dalam maknanya karena memberikan hikmah, pembelajaran, pendewasan, dan pengayaan pribadi. 

Laiknya mengarungi sebuah samudra, pastilah tak luput dari teriknya mentari maupun badai yang menerpa. Apalagi, dua insan yang menentukan arah jalannya kapal ini memiliki kepala yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, ruh yang berbeda, dan masa lalu yang berbeda pula. Friksi, adaptasi, dan tantangan, sudah pasti ada. Namun di antara sekian banyak hal yang terjadi, bagi saya tantangan tersulit tetaplah “mengalahkan” dan “mengendalikan” diri sendiri. 

Saya adalah orang yang percaya, bahwa diri kita sendiri adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas apa yang kita pikirkan dan rasakan, terhadap apa yang hendak kita jadikan respons atas stimulan yang ada dari lingkungan. Pihak pihak di luar diri entah suami, orangtua, mertua, keluarga besar, tetangga, teman, sahabat, relasi, dan lain sebagainya bisa saja memberikan berbagai macam impuls baik positif maupun negatif. Tapi yang memutuskan apakah hendak marah atau memaafkan dan melapangkan hati, hendak sakit hati atau menjadikan apa yang terjadi sebagai batu loncatan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas diri, hendak ikhlas atau mendengki, hendak bersikap proaktif untuk memperbaiki atau hanya mengutuki, hendak berpikir jernih atau tenggelam dalam asumsi, adalah pilihan dari setiap pribadi.

Dan ya, bagi saya, untuk tetap menjaga “kelurusan” pikir dan rasa serta selalu berusaha menarik hikmah dan sisi positif dalam berbagai kondisi adalah tantangan yang paling berat dalam dua tahun pernikahan ini. Karena dalam relasi pernikahan, bagi saya agak berbeda dengan hubungan pertemanan. Sedikit-banyak atau seberusaha apapun meminimalkannya, tetap akan ada “ekspektasi-ekspektasi” terhadap sikap, lisan, atau perilaku orang lain yang diharapkan muncul. Apalagi, dengan beberapa value, standar, konsep berpikir, pengalaman kehidupan sebelumnya yang berbeda. Ketika ekspektasi tidak bertepuk dengan realita, biasanya menjadi bibit awal mula rasa marah, sakit hati, dan kecewa.

Seorang teman pernah berpesan kepada saya sebelum melangsungkan pernikahan, “Kunci pernikahan adalah set your expectation in lowest level, and set you performance in highest level.”

Sebuah pesan sederhana, namun begitu menikah saya menyadari betapa dalam maknanya. Berpegang pada kalimat ini, setiap kali saya mulai mau merasa ini dan itu, saya kaji dan teliti kembali performa saya di dalan rumah tangga. Kira kira, apa yang masih kurang? Kira kira, apa yang bisa diperbaiki? Kira kira, apa perbaikan yang bisa saya lakukan untuk diri sendiri agar bisa membantunya menjadi lebih baik lagi?  Maka, dengan berfokus pada kekurangan dan perbaikan diri sendiri, ternyata hati saya menjadi lebih tentram. Dan masyaAllah. Ketika saya berusaha memperbaiki diri menjadi istri yang lebih baik, ibu yang lebih baik, menantu yang lebih baik, dan kemudian disertai doa doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, alhamdulillah kondisi di sekitar menjadi lebih baik. Maka, setiap kali ada permasalahan ataupun tantangan dalam rumah tangga, saya lebih memilih untuk menjadikannya sebuah loncatan untuk menjadi diri yang lebih baik. Memilih untuk berbenah diri daripada berlama lama memendam amarah.

Namun, tentu saja, tak selamanya berhasil dengan mulus ๐Ÿ™‚

Seringkali, emosi pun begitu menggelora. Atau kesalahan berkali kali yang menggoreskan luka di tempat yang sama. Atau emosi terpendam yang tertimbun di dasar hati dan kemudian malah menyebabkan ketidaksehatan jiwa.

Satu hal yang saya pahami dari seorang perempuan selama menjalani pernikahan: asal mula penyakitnya seringkali adalah pemikiran, asumsi, dan prasangka pribadi. Yang kadangkala berdasar fakta, namun lebih sering yang terbumbui asumsi berlandaskan emosi. 

Maka, salah satu hal lain yang selalu saya gunakan dalam rangka mengendalikan diri sendiri adalah mengasah dan mengelola logika setiap kali hembusan angin melanda. Berusaha mengambil “time out” sejenak untuk istighfar, menjernihkan pikiran dari emosi dan hembusan prasangka setan, merunut kejadian secara kronologis, berusaha menggali poin kesalahan diri sendiri terlebih dahulu baru mengkritisi poin kesalahan orang lain, dan berusaha menggali hikmah Tuhan yang terserak di antara kejadian yang tidak mengenakkan hati. Karena siapa tahu, kejadian yamg tidak mengenakkan justru merupakan pertanda bahwa Allah ingin menjadikan saya lebih baik lagi. Namun, ketika memang sudah “mampet” semua simpul logika karena gelombang emosi yang melanda, maka demi kesehatan jiwa, saya harus mengeluarkannya. Biasanya, saya memilih mengeluarkan segala macam benang kusut di hati dan kepala dengan menuliskannya. Entah kemudian hanya untuk disimpan diri sendiri, atau kemudian disampaikan kepada suami agar ia mengetahui kegelisahan istrinya dan membantu memperbaiki atau mencarikan solusi. 

Intinya, pengalaman mengajarkan bahwa sampah emosi tidak boleh disimpan terlalu lama ๐Ÿ™‚ 

Atau, terkadang, jika kekesalan saya sudah saya selesaikan dengan diri sendiri, saya sampaikan kepada suami dengan santai. 

“ayah, bunda kemarin kesel lho sama ayah karena a b c d,  tapi sekarang sudah engga.” maksud saya, agar ia tahu bahwa saya tidak suka dengan beberapa hal yang terjadi, namun saya selalu berusaha agar pesan perbaikan itu tidak disampaikan dalam balutan amarah dan emosi. Prinsip saya, saya memperbolehkan diri sendiri saya untuk marah atau menyampaikan amarah yang saya rasakan, jika hal itu kira kira bisa menciptakan perbaikan. Maka, karena tujuannya untuk mencipta perbaikan, cara penyampaiannya pun harus dipikirkan dengan matang agar berhasil dan tepat sasaran. Marah yang tanpa marah-marah. Marah yang dibalut dengan kelembutan dan kasih sayang, biasanya lebih berhasil menciptakan perbaikan. ๐Ÿ™‚

Selama dua tahun pernikahan saya menjadi belajar bahwa mengkomunikasikan ternyata bukan hanya tentang menyampaikan. Tapi bagaimana apa yang disampaikan bisa tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Penyampaian yamg menggerakkan hati dan jiwa intuk melakukan perbaikan. Penyampaian yang tidak menimbulkan bias respons yang justru menimbulkan masalah berkepanjangan ๐Ÿ™‚ 

Dalam dua tahun pernikahan ini, ternyata masih banyak pe er saya pribadi yang belum selesai. Bagaimana mengelola diri sendiri, bagaimana menyeimbangkan berbagai peranan yang ada, bagaimana lebih menyatukan dua kepala dan dua hati agar bergerak sebagai satu tim yang lebih solid lagi dan bukannya hanya dua individu yang beraktivitas bersama dalam satu atap, dan bagaimana mensinergikan berbagai potensi yang dimiliki untuk menciptakan sebuah karya yang lebih besar dan lebih bermanfaat untuk umat. Ah ya, semoga, pernikahan di tahun tahun ke depannya dapat lebih berlimpah berkah, rahmat, dan manfaat, serta menuntun kami berdua menuju derajat taqwa dan makrifat ๐Ÿ™‚ 

Aminamiinamiin yaa rabbal alamiin ๐Ÿ™‚
25.03.17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s