Institut Ibu Professional dan Titik Balik 

Alhamdulillah, tidak terasa 9 minggu sudah, saya belajar bersama Institute Ibu Professional. Sebuah kesempatan yang sangat saya syukuri, karena berhasil menjebol “rantai gajah” yang saya pelihara dengan sadar selama dua tahun terakhir. 

Semenjak menikah dua tahun yang lalu, saya merasa ada yang hilang atau bisa dikatakan dengan sengaja dihilangkan,  dalam diri saya: keyakinan dan kepercayaan diri untuk menggapai mimpi. 

Hingga berkali kali pak suami yang memang trainer sekaligus motivator itu memberikan dorongan dan semangat dalam berbagai bentuk dan rupa. Namun saya bergeming dan tetap takut untuk bertumbuh. Dalam diri saya ada sebuah ketakutan besar, jika saya berusaha untuk menggapai mimpi mimpi saya selama ini, suami, anak, dan rumah tangga akan terbengkalai, hingga saya akan menyesalinya di akhirat kelak. Menyesal karena ternyata di dalam rumah tangga banyak ladang pahala yamg saya abaikan. Menyesal karena jerih payah saya di luar rumah tak ada artinya di mataNya, karena sesungguhnya ladang pahala di dalam rumah jauh lebih berharga daripada di luar rumah. 

Setelah mengikuti IIP, saya menjadi menyadari bahwa ujung pangkal permasalahannya adalah miskonsepsi saya selama ini tentang definisi ibu professional. Sejak sebelum menikah, saya sudah mengenal mengenai konsep ibu professional. Namun ternyata, apa yang saya pahami selama ini kurang tepat. Selama ini saya berpikir bahwa ibu professional adalah ibu dan istri yang bisa excellent dalam segala hal kerumah tanggaan dengan tangannya sendiri. Sedangkan urusan berkarya, aktualisasi diri, dan membangun mimpi, adalah prioritas kesekian yang dikerjakan hanya di waktu waktu sisa. Setelah berumah tangga dan disibukkan dengan berbagai macam urusan domestik yang ternyata menyita waktu, saya menyadari bahwa waktu sisa itu ternyata sulit sekali didapatkan. Maka, melihat realita yang ada, segala macam mimpi yang dahulu saya pasang begitu tinggi, saya masukkan ke dalam peti. 

Setelah mengikuti IIP, saya sangat bersyukur, karena IIP membuat saya mencari kembali kunci yang hilang, dan kembali membuka peti yang sudah berdebu. Termasuk tugas nhw 9 kali ini. Membuat saya kembali membuka diary diary lama tentang diri sendiri.

“Be The Change You want to see from the world”–Mahatma Gandhi

Saya menjadi menggali kembali,  bahwa kata kata itulah yang menggerakkan saya untuk membangun Alkindi 3 tahun silam..

Setelah bergelut dengan berbagai macam bisnis yang senantiasa berubah ubah, akhirnya saya pun menetapkan hati di satu bidang bisnis. Bidang yang saya tanamkan misi, visi, hati, dan mimpi saya di sana. Bidang yang hendak sata seriusi hingga akhir hayat saya. 

Bermula dari minat saya yang besar dalam hal membuat sesuatu, mengkonsep, merancang, dan kecintaan yang besar kepada anak anak. Ditambah dengan rasa syukur saya yang amat mendalam dilahirkan di sebuah keluarga yang sangat luar biasa. Didukung dengan hardskill dan softskill saya dalam hal menjalin relasi, leadership, entrepreneurship. Dibumbui dengan berbagai macam permasalahan teman teman di sekitar saya yang ternyata bermuara pada satu hal: masa kecil yang kurang bahagia. Saya akhirnya bertekad: ingin membantu anak anak Indonesia berbahagia, seperti kebahagiaan yang saya rasakan ketika masa kanak kanak dulu. 

Isu sosial yang kala itu benar benar mengganggu kalbu saya adalah banyaknya anak anak yang usia emasnya menjadi tidak optimal karena dididik oleh asisten rumah tangga. Ditambah lagi sistem dan pola pendidikan Indonesia yang cenderung sekuler. Di mana semakin tinggi ilmu yang didapatkan di sekolah, ternyata tidak berdampak pada meningginya keimanan kepada Rabbnya. Sehingga menjadikan generasi yang hanya cerdas, namun tidak mulia. Bukan generasi ulil albab. Yang setiap butir ilmu yang dimilikinya, mengantarkannya pada keimanan yang semakin mendalam kepada Rabbnya. 

Padahal, Imam Ghazali sudah merumuskan tujuan utama pendidikan: menjadikan setiap orang berilmu, menjadi semakin dekat kepada tuhannya. 
Maka, kala itu, saya memutuskan untuk membangun Alkindi, yang diharapkan dapat menjadi Alkindi Eduprise. Konsorsium perusahaan penyedia jasa pendidikan dan pensuplai peranti pendukung edukasi untuk anak muslim. Yang mengembangkan tidak hanya otak dan akal manusia, melainkan juga hati dan ruhnya. Generates Brilliant Muslim Generation. Yang beriman, berakhlak, berilmu, berkarya, dan bermanfaat. Yang menghidupkan kembali 5 tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh Al Ghazali. 

Karena saya percaya, bahwa kebangkitan muslim masa depan salah satunya akan ditopang oleh negeri ini. Dan karenanya,  saya tidak ingin menjadi penonton yang hanya bertepuk tangan di pinggir lapangan. Saya ingin terjun langsung dan ikut mencipta perubahan. 

Because everyone, is a changemaker!  🙂
#iip3

#nhw9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s